Hindari Kerumunan Jamaah

H. Abdul Wahab. (Suara NTB/bay)

PELONGGARAN kegiatan ibadah kelompok selama Ramadhan 2021 diharapkan tetap mematuhi protokol kesehatan (prokes). Aturan tersebut dinilai perlu menjadi perhatian mengingat pandemi coronavirus disease (Covid-19) masih terjadi, termasuk di Kota Mataram.

Lurah Pejeruk, H. Abdul Wahab menyebut penerapan prokes tersebut dibutuhkan untuk menekan potensi penularan virus. Terlebih dalam pelaksanaan ibadah kelompok seperti saat salat tarawih, tadarus, dan lain-lain telah dibolehkan untuk tahun ini.

Iklan

“Jadi kita patuhi protokol kesehatan. Tidak seperti tahun lalu yang tidak diizinkan sama sekali. Sekarang ini banyak juga masyarakat yang memilih melaksanakan ibadah di rumah atau di musala misalnya untuk salat tarawih,” ujarnya saat dihubungi Suara NTB, Minggu, 18 April 2021.

Diterangkan, dengan cara tersebut jamaah diharapkan tidak menumpuk di masjid sehingga potensi penularan virus dapat diminimalisir. “Sekarang kalau kita lihat di semua musala juga penuh. Ini untuk memecah jamaah supaya tidak berkumpul di satu tempat saja,” jelasnya.

Menurutnya, hal tersebut telah sejalan dengan Surat Edaran (SE) Walikota Mataram Nomor 113/Bks-Pol/IV/2021 tentang Panduan Pelaksanaan Ibadah Ramadhan dan Idul Fitri 1442 Hijriah. Di dalam SE tersebut diatur antara lain kegiatan sahur dan buka puasa lebih baik dilakukan di rumah masing-masing untuk menghindari kerumunan, semua kegiatan Ramadhan dilakukan dengan pembatasan jumlah kehadiran paling banyak 50 persen dari kapasitas masjid atau musala.

Selain itu masyarakat diwajibkan menerapkan prokes ketat seperti menggunakan masker, menjaga jarak aman 1 meter antar jamaan, dan membawa alat salat masing-masing dengan pembatasan jamaah hanya bagi warga lingkungan setempat. Seluruh masjid atau musala juga diwajibkan melakukan pengawasan terhadap penerapan prokes tersebut, termasuk melakukan penyemprotan desinfektan secara berkala, menyediakan tempat cuci tangan, dan lain-lain.

“Alhamdulillah respon masyarakat cukup bagus untuk mengikuti prokes ini. Karena sampai sekarang juga belum ada kegiatan-kegiatan besar yang kita izinkan,” ujar Abdul. Dicontohkannya seperti acara pernikahan yang telah beberapa kali dilaksanakan di Kelurahan Pejeruk. “Jadi walaupun menikah, untuk nyongkolan tetap tidak kita izinkan. Kalaupun ada yang menikah di gedung, itu kita minta diatur jam (kedatangan) tamunya,” sambungnya.

Dengan upaya-upaya yang dilakukan pihaknya berharap angka penularan Covid-19 di Kelurahan Pejeruk dapat ditekan, terutama selama Ramadhan. Berdasarkan catatan pihaknya, kasus terbanyak memang terjadi pada periode Januari – Februari 2021 lalu.

“Kalau untuk April ini Alhamdulillah masih nihil. Karena memang klaster kita yang paling banyak itu berasal dari pelaku perjalanan luar daerah. Ada yang dari Jakarta, Bandung, dan luar negeri. Mereka ini yang ketika tes swab ternyata positif,” jelasnya.

Kondisi tersebut menurutnya jauh berbeda dengan masyarakat di perkampungan tradisional, di mana kasus covid terbilang sangat minim bahkan hampir tidak ada. “Yang positif itu paling banyak memang pekerja dan tenaga kesehatan. Kalau masyarakat umum di Pejeruk di perkampungan ini hampir tidak ada. Kita bersyukur sampah Ramadhan ini tidak ada (kasus), dan semoga benar-benar tidak ada,” tandas Abdul. (bay)

Advertisementfiling laporan pajak ucapan idul fitri ucapan idul fitri Jasa Pembuatan Website Profesional