Hijaukan NTB, Distribusikan Kebahagian untuk Generasi Mendatang

Ilustrasi penanaman pohon.

Mataram (Suara NTB) – Tak kenal lelah Gubernur NTB, Dr. H. Zulkieflimansyah, SE, M.Sc terus bersafari menyapa masyarakat di pelosok NTB. Bukan silaturahmi biasa, tetapi juga mengajak warga untuk rajin menanam pohon menghijaukan NTB.

Bagi gubernur yang akrab disapa Bang Zul, menanam pohon bukan hanya akan bermakna untuk menciptakan lingkungan yang asri dan lestari saja. Atau sekadar menghijaukan lahan dan hutan yang sudah gundul. Akan tetapi  sekaligus juga menanam harapan dan mendistribusikan  kebahagian bagi generasi- generasi dimasa yang akan datang.

‘’Anak cucu kita kelak punya hak yang sama untuk dapat menikmati karunia keelokan dan keindahan alam yang kita miliki,’’ ujar Gubernur Bang Zul pada acara penanaman 6.035 pohon bibit buah-buahan di atas lahan seluas 60 hektar di Desa Perigi, Kabupaten Lombok Timur, Rabu, 15 Januari 2020.

Penanaman pohon buah-buahan tersebut merupakan program CSR dari PT.Bentoel Indonesia. Didampingi Bupati Lombok Timur, H. Sukiman Azmy., MM dan Komisaris PT. Bentoel, Edi Abdurrahman dan sejumlah kepala pejabat dan para tokoh masyarakat, Gubernur Zul berharap di masa depan, Desa Perigi tidak hanya hijau dengan pohon, tapi produktif dengan buah buahan.

‘’Dengan pohon yang kita tanam, kita mendistribusikan harapan kepada anak cucu kita. Mereka punya hak yang sama menikmati keelokan, keindahan alam kita di Lombok Timur ini,’’ ujarnya.

Gubernur mengapresiasi PT. Bentoel,  yang telah mendukung kegiatan penanaman pohon di Desa Parigi, dengan menyediakan bibit buah-buahan.  ‘’Pemerintah tidak mungkin mengerjakan sendiri, harus didukung oleh sektor swasta. Sebab, mesin pertumbuhan ekonomi adalah sektor swasta,’’ ujarnya.

Sebelumnya, pada medio Desember 2019 yang lalu, Gubernur Zul juga telah melakukan penanaman pohon buah-buahan dan tanaman lantoro yang bermanfaat sebagai bahan baku industri pakan ternak di Dusun Kayu Madu, Desa Labuhan Badas, Kabupaten Sumbawa, di atas lahan seluas 5 hektar lebih.

Tidak itu saja, sepekan yang lalu, Bang Zul  bersafari ke kabupaten Bima dan kabupaten Dompu. Di Kabupaten paling Timur NTB itu, Gubernur Zul mengawali kegiatannya dengan peletakan batu pertama pembangunan Hotel Santika, dilanjutkan pencanangan program menghijaukan NTB melalui penanaman pohon kemiri dan kayu putih pada ratusan hektar kawasan hutan yang gundul akibat perambahan.

Safari dilanjutkan mengunjungi masyarakat Kilo, Kabupaten Dompu. Selain menyapa warga dan menyerap aspirasi tanpa sekat, gubernur juga meresmikan kawasan wisata manggrove dan budidaya pohon kelor yang menjadi bahan baku industri obat-obatan yang benilai ekspor tinggi.

Bupati Lombok Timur, H Sukiman Azmy berharap masyarakat Desa Perigi bisa memelihara pohon yang ditanam tidak hanya sebagai penghijauan, tapi agar nantinya bisa menghasilkan buah. Menurut Sukiman, lahan kering dan berkurangnya jumlah mata air di Kabupaten Lombok Timur salah satunya disebabkan oleh penebangan hutan untuk bahan baku oven tembakau.

Karena itu, ia berharap penghijauan di Lombok Timur dilakukan secara menyeluruh di seluruh kawasan. Sukiman mengapresiasi PT Bentoel karena termasuk perusahaan yang konsisten tidak menggunakan kayu untuk oven tembakau, tapi menggunakan cangkang kemiri.

Edi Abdurahman, Komisaris PT Bentoel mengatakan bahwa Desa Parigi telah dikenal sebagai daerah penghasil tembakau terbaik dan PT. Bentoel selaku perusahaan tembakau telah berkomitmen untuk menjadikan masyarakat setempat sebagai mitra bisnis perusahaan.

Beberapa jenis pohon buah yang ditanam seperti manggis, lengkeng, rambutan, durian, jambu jamaika, mangga dan alpukat yang ditanam sebagai kompensasi turunnya kualitas lingkungan akibat penebangan liar, pembukaan landang ataupun akibat pengolahan tembakau.

‘’Semoga dengan penanaman ini lingkungan akan semakin asri dan kualitas kesehatan meningkat serta memberikan nilai tambah ekonomi,’’ ujar Edi.

Komitmen Pemprov NTB untuk menghijaukan kembali lahan-lahan kering tandus dan mengembalikan fungsi hutan melalui penanaman bibit pohon. Baik pohon buah maupun pohon bernilai ekonomi lainnya, terus dilakukan secara bertahap, berkelanjutan dan melibatkan berbagai stakeholder.

Berdasarkan data dari Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan, luas lahan kritis di Provinsi NTB mencapai 680.620 hektare dengan 230.000 hektare berada di kawasan hutan. (r/Kominfotik)