Gowes Jadi “Sport Tourism” Menantang di Gili Gede Sekotong

Wisatawan menikmati pemandangan dengan mengayuh sepeda di jalur Lingkar Gili Gede, Sekotong (Suara NTB/ist)

Mataram (Suara NTB) – Gugus gili di Kecamatan Sekotong, Lombok Barat, salah satunya Gili Gede, keindahannya sudah tersohor. Menjelajah tidak cukup dengan jadi pengunjung biasa. Salah satu cara antimainstream adalah dengan gowes. Ya, mengayuh sepeda melalui jalur lingkar luar Gili Gede adalah hal baru.

Sepanjang riwayat pulau yang memiliki panjang maksimum 4 kilometer itu, wisatawan hanya datang menyusuri sebagian sisi pantai, baik melalui darat maupun menyewa perahu motor. Soft Sport Tourism, olahraga sekaligus berwisata, kini bisa jadi alternatif selain hiking ke gugus Gili di sana.

Sabtu, 11 Januari 2020 pagi, rombongan BNN Cycling Community adalah wisatawan pertama yang datang dengan mengayuh sepeda. Rombongan tiba di dermaga Tembowong, merogoh uang Rp 300 ribu untuk menyewa perahu motor. Nelayan dan warga setempat memang menyediakan perahu motor khusus sebagai satu satunya alat transportasi menuju Gili Gede. Sepeda rombongan BNN Cycling Community menyewa perahu milik Asep, warga Sunda yg menetap di Lombok Barat.

Waktu tempuh sekitar 15 menit, tiba di pinggir pantai berpasir putih. Warga menyambut hangat sembari mengarahkan telunjuk, memberi isyarat jalur yang dilalui.

Gowes Jadi “Sport Tourism” Menantang di Gili Gede Sekotong

Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Provinsi NTB Brigjen Pol. Gde Sugianyar Dwi Putra sepanjang perjalanan sesekali berdecak kagum. “Wah, ini luar biasa. Walaupun jalannya masih belum bagus, tapi ini jadi tantangan tersendiri. Ada hutan Bakau, pantai indah,” kata Gde Sugianyar sambil nge-vlog.

Udara segar pagi itu, semakin lengkap dengan pemandangan hutan mangrove dan pantai pasir putih di sisi kiri. Sementara sisi kanan, bukit hijau dengan pohon pohon tropis, masih natural karena belum ‘ditanami’ beton hotel dan villa.

Setelah 10 menit, rombongan tiba di pemukiman warga. Sesekali foto di spot spot menarik di pinggir pantai. Seperti dermaga, pohon Santigi yang rindang di atas pasir putih. Foto bersama dan selfie dengan latar riak pantai yang masih tenang. Warung kecil di pinggir jalan jadi alternatif untuk pos istirahat membeli minuman dan makanan ringan.

Rombongan merasakan sambutan ramah warga yang sedang kongkow di sebuah gazebo. Sempat berbincang dengan warga, mereka mengabarkan, rombongan BNN Cycling Community adalah yang pertama menjelajah jalur lingkar luar Gili Gede. “Baru sekarang dah yang pakai sepeda keliling sini. Sebelum sebelumnya ada bule. Itu pun kadang kadang, ” kata Munawir, warga setempat. “Iya?, ini yang pertama untuk wisatawan domestik pakai sepeda?,” timpal Sugianyar.

Kabar itu cukup surprise, karena bagi Gde Sugianyar mendapat kesempatan pertama menjajal trail Gili Gede menggunakan sepeda.
Jendral bintang satu ini pun ingin mengabarkan kepada komunitas sepeda di NTB. “Tempat ini benar benar recommended, mari ramaikan,” ajaknya.
Banyak hal yang bisa dinikmati selain tantangan dan pemandangan indah sepanjang perjalanan. Warung warung kecil menyediakan kopi kampung, bisa jadi pelengkap hangatnya suasana dan sambutan warga. Kuliner khas yang tersedia adalah ikan bakar. Di beberapa titik, mudah ditemukan ibu ibu menyiapkan tungku dan arang untuk panggangan ikan. Maklum, kawasan pesisir dengan hasil ikan melimpah, Gili Gede jadi tempat favorit wisatawan menikmati kuliner ikan bakar. “Jadi kalau wisatawan datang ke sini, bisa berkontribusi untuk perekonomian warga lokal dengan membeli kuliner dan jualan mereka. Hal paling penting adalah, kita mempromosikan pariwisata Sekotong Lombok Barat ini,” kata Sugianyar.

Gowes Jadi “Sport Tourism” Menantang di Gili Gede Sekotong

Perjalanan berlanjut, selain jalan tanah, sebagian lintasan sudah dipasang paving block kearah kantor desa dan pemukiman warga.

Rombongan sampai di ujung pemukiman, tantangannya sedikit berbeda, karena berupa jalan berbatu dan tebing. Kontur jalan yang unik, karena dibentuk secara alami oleh ombak yang menggerus dinding tebing batu karang. Lambat laun membentuk jalan datar dan bagian dinding tebing membentuk cekungan. Masih aman dilalui namun harus ekstra hati hati karena jalan berbatu, namun terasa khas karena bercampur dengan coral yang terbawa arus ke daratan. Sesekali permukaan jalan karang ini disapu lembut beningnya air laut.

Melewati jalur ini, rombongan sampai pada dataran rumput dan kebun kelapa. Sebuah ayunan yang digantung di pohon kelapa, jadi pelepas lelah sejenak. “Semacam mengenang masa kecil di kampung,” kata Ferry tersenyum, salah seorang personel BNN.
Ada dua jalur alternatif untuk kembali ke titik berangkat. Menurut Bhabinkamtibmas Gili Gede Indah, Bripka Irawan, bisa dilalui dengan memotong jalur dengan naik ke punggung bukit. Hanya sekitar 15 menit. Namun jika ingin melanjutkan tantangan, tetap melalui jalur datar menuntaskan etape hingga ke titik start.

Ditambahkan Kepala BNN, panorama Gili Gede sudah layak mendunia, sesuai tagline yang sering didengarnya tentang ‘Sekotong Mendunia, maka pulau kecil itu jadi syarat pelengkapnya. Mantan Kabid Humas Polda Bali asal Gianyar ini mengakui, bentang alam Sekotong tak kalah dengan tempat tempat menarik di Bali. Hanya masih perlu pembenahan. Seperti permukaan jalan ring road, setidaknya dilakukan penataan lengkap dengan pemasangan paving block atau pengerasan lainnya. Hal penting lainnya adalah masalah sampah. Sepanjang jalan masih ditemukan sampah plastik di garis pantai.
Tapi secara keseluruhan, mulai dari keindahan alam sampai kultur masyarakat, ia mengaku puas. (ars)