Empat Jalur Pendakian Rinjani Dibuka

Camping Area atau kawasan perkemahan di Pelawangan jalur pintu masuk Senaru, Lombok Utara. Kawasan ini dibuka kembali setelah ditutup akibat kebakaran vegetasi beberapa waktu lalu. (Suara NTB/ars)

Lihat postingan ini di Instagram

Balai Taman Nasional Gunung #Rinjani (TNGR) akhirnya secara resmi mengumumkan pembukaan jalur #pendakian ke Gunung Rinjani. Empat jalur yang sebelumnya ditutup akibat kebakaran, dibuka setelah sebelumnya melalui survei jalur. . Pengumuman itu setelah melalui rumusan hasil rapat Selasa, 5 November 2019 di Kantor Balai TNGR. Hadir dari unsur Pemprov NTB, perwakilan Kabupaten Lotim, Loteng dan KLU, daerah yang dilalui jalur pendakian. Namun pembukaan jalur itu hanya dibatasi sampai #Pelawangan atau sebutan untuk kawasan bibir kawah. Sementara untuk jalur pendakian ke puncak dan #danau masih ditutup total. . Sementara demi keselamatan pendaki, Balai TNGR akan memasang papan imbauan dan larangan bagi #pendaki di jalur atau kawasan yang dianggap berbahaya. (Suara NTB/@haris_alkindi )

Sebuah kiriman dibagikan oleh SUARANTB.com (@suarantbcom) pada

Mataram (Suara NTB) – Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) akhirnya secara resmi mengumumkan pembukaan jalur pendakian ke Gunung Rinjani. Empat jalur yang sebelumnya ditutup akibat kebakaran, dibuka setelah sebelumnya melalui survei jalur.

Pengumuman itu setelah melalui rumusan hasil rapat Selasa, 5 November 2019 di Kantor Balai TNGR. Hadir dari unsur Pemprov NTB, perwakilan Kabupaten Lotim, Loteng dan KLU, daerah yang dilalui jalur pendakian. Namun pembukaan jalur itu hanya dibatasi sampai Pelawangan atau sebutan untuk kawasan bibir kawah. Sementara

untuk jalur pendakian ke puncak dan danau masih ditutup total.

‘’Keputusan dan rumusan hasil rapat, membuka kembali semua jalur pendakian resmi TN Gunung Rinjani hingga Pelawangan terhitung mulai 6 November,” kata Kepala Balai TNGR, Dedy Asriady Selasa kemarin usai rapat.

Sementara demi keselamatan pendaki, Balai TNGR akan memasang papan imbauan dan larangan bagi pendaki di jalur atau kawasan yang dianggap berbahaya.

‘’Rambu-rambu itu dianggap penting untuk titik kumpul dan jalur evakuasi jika dalam keadaan bahaya. Papan pengumuman juga akan dipasang untuk jalur yang ditutup ke danau dan puncak,’’ sebutnya.

Para pihak yang hadir juga sepakat untuk membantu pengawasan dan jaminan keselamatan bagi pendaki. Pihak-pihak seperti agen perjalanan wisata atau Trekking Organizer (TO), pemandu wisata (guide) dan porter.  Jika  ditemukan ada pendaki ilegal, maka akan dilakukan pendataan dan pembinaan.

Pada kesempatan sama, dibahas juga untuk proses perbaikan jangka panjang jalur pendakian dan penataan kembali vetegasi yang terbakar. Balai TNGR, kata Dedy, akan berkoordinasi dengan Pemprov NTB, Pemkab Lotim, Loteng dan KLU untuk koordinasi proses rekonstruksi jalur pendakian dan penataan Rinjani.

Koordinasi lain, untuk penataan kembali ekosistem sesuai kondisi habitat aslinya. Penting menurutnya dilakukan pemetaan titik- titik rawan kebakaran dan survei sumber air. ‘’Tujuannya untuk memastikan kebutuhan pendaki dan antisipasi kebakaran hutan,’’ sebutnya.

Guna proses deteksi cuaca, akan dipasang display informasi cuaca oleh Balai TNGR dan BMKG di pintu masuk jalur pendakian. (ars)