Lombok Potensial untuk Pengembangan Wisata “Mountain Bike”

Ahmad Subaidi, salah seorang anggota komunitas KTP melalui jalur hutan tropis di Sesaot. (Suara NTB/ist)

Giri Menang (suarantb.com) – NTB punya potensi besar untuk pengembangan wisata berkelanjutan. Hamparan bukit di Pulau Lombok khususnya, bisa menjadi alternatif selain untuk spot selfie dan wisata desa. Para goweser menangkap peluang ini untuk dikembangkan menjadi wisata Mountains Bike.

Jalur jalur terabas sepeda gunung banyak dibuka di Lombok Barat. Seperti di Kecamatan Gunung Sari, Batu Layar, Lingsar hingga Narmada.

Salah satunya di jalur terabas Bukit Cacing, Desa Medas Kecamatan Gunung Sari. Trek menantang ini membentang sepanjang 5,5 kilometer dengan kontur menjak hingga turunan. Melewati perkampungan yang masih asri, ciri khas desa desa di Gunung Sari. Jalur tanah, sebagian melewati tanjakan yang sudah dibeton. Cukup melelahkan karena para goweser harus melewati medan berbukit, namun sedikit terobati dengan udara segar dan pepohonan rindang.

Setelah menempuh jarak 2,6 kilometer, tiba di posisi top. Udara semakin segar didukung pemandangan hamparan bukit di sekitar yang masih rimbun dengan hutan tropis. Pohon Jambu Mete yang rindang jadi tempat berteduh yang nyaman. Semakin lengkap dengan suguhan kopi kampung, buah buahan dan makanan ringan lainnya yang dijajakan lapak PKL.
Bukit Cacing hanya salah satu dari sederet jalur trek yang sudah familiar di kalangan komunitas gowes Lombok. Penamaan jalur jalur ini pun muncul muncul dari ide ide spontan yang iconic.
Seperti Bukit Korea, Bukit Tiga Rasa, Bukit Bidadari. Jalur jalur dengan kontur dan tantangan menyuguhkan sensasi berbeda.

Komunitas Tinjal Pedal (KTP) foto di puncak Bukit Cacing Kecamatan Gunung Sari Lombok Barat dengan latar keindahan gugus bukit lainnya. (Suara NTB/ist)

Komunitas Tinjal Pedal (KTP) yang merupakan induk dari komunitas goweser, punya andil dibalik munculnya jalur jalur terabas sepeda kelas MTB. Hobi yang dilakoni para goweser ini tidak sekedar untuk mencari cucuran keringat, tapi lebih dari itu membuka peta jalan pengembangan ekonomi baru berbasis pariwisata.

“Buat kami, hobi ini tidak sekedar olahraga. Multiplier effect yang kita rasakan. Seperti ini. Inak (Ibu) ini, jualan di puncak bukit ini karena ada teman teman komunitas sepeda yang istirahat di sini dan belanja,” ujar Ketua KTP Dr. Mansur, SH kepada suarantb.com saat jeda istirahat di puncak Bukit Cacing.

UMKM hanya salah satu dampak yang dirasakan warga. Lebih dari itu, lambat laun Bukit Cacing sudah

menjadi jalur wisata alternatif. Wisatawannya adalah para pengayuh pedal. Mereka datang dari berbagai kalangan dan latarbelakang profesi yang berbeda, secara langsung turut mempromosikan jalur jalur tersebut untuk memantik minat komunitas lainnya, termasuk yang dari luar Lombok. “Bagi kami, ini adalah ajang silaturahmi dan cara lain menikmati keindahan alam Lombok,” kata Mansur, yang juga menjabat Kadispora Kota Mataram.

Mansur membayangkan Lombok akan menjadi tempat pengembangan wisata minat khsus lewat olahraga Mountain Bike. Dengan semakin banyaknya masyarakat dengan hobi yang sama, akan membuka akses baru atau mengembangkan yang sudah ada. Maka ia meyakini pariwisata Lombok, khususnya NTB akan terus berkembang.

Contoh nyata disebutnya, jalur Sunset Track Kerandangan, Kecamatan Batu Layar. Sesuai judulnya, jalur ini akan sangat berkesan jika dijajal saat sore hari. Jalur lainnya di track Batu Rimba Desa Karang Bayan Kecamatan Lingsar. Komunitas ini bahkan sudah menembus batas wilayah Lombok Barat, karena ekspansi hingga Lombok Utara dan Lombok Tengah.

Mansur melihat ada respon positif dari aparat pemerintah tingkat desa dan kecamatan setiap ada ide pembukaan jalur baru. Bahkan even olahraga sepeda gunung pernah dihelat di Kerandangan, sebagai penanda jalur itu sudah menjadi sumber alternatif ekonomi baru warga sekitar.

Hanya saja, ia belum melihat sikap proaktif dari Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) yang menangkap peluang ini sebagai sumber hidupnya pariwisata desa. Ia memberi contoh sukses di Lombok Tengah. Setelah komunitas membuka jalur terabas, Pokdarwis setempat menyambut dengan pengelolaan yang mengarah ke profit. “Mereka menata fasilitas fasilitas jalur, sehingga mereka punya alasan untuk menjadikannya sumber pemasukan desa. Kami sangat menyambut positif ide ide pemuda seperti ini,” ujarnya.

Harapan sama diinginkan dari pemuda pemuda desa, khususnya Pokdarwis di sejumlah jalur yang dibuka.

Karena masih minimnya kepedulian itu, komunitas pun turun tangan secara sukarela dan swadaya. Sebagaimana dilakukan di Bukit Cacing. Pemasangan penanda jalur, peta jalur, hingga gapura, hasil urunan anggota komunitas. Di sejumlah tempat yang dilalui, muncul ide ide spontan untuk membantu warga dan fasilitas umum. Seperti mendatangkan dana corporate social responsibility (CSR) untuk membantu pembangunan masjid, sarana ibadah lain, fasilitas pendidikan, hingga rumah tidak layak huni. (ars)