Dispar Minta Harga Tiket Masuk TNGR Diturunkan

Ilustrasi aktivitas perkemahan di TNGR (Suara NTB/ars)

Mataram (Suara NTB) – Mahalnya harga tiket masuk ke beberapa objek wisata di NTB dikhawatirkan menjadi penghalang bagi usaha pemerintah untuk meningkatkan geliat pariwisata. Salah satunya seperti yang terjadi di Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) di mana wisatawan mancanegara dituntut merogoh kocek sampai Rp150 ribu untuk membayar tiket masuk.

Kepala Dispar NTB, H. L. Moh. Faozal, S. Sos, M. Si menerangkan bahwa pihaknya memahami bahwa seluruh alokasi tiket masuk tersebut memang masuk ke Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) yang menjadi kas negara. Namun, besaran harga tiket tersebut diharapkan bisa turun.

‘’PNBP kewenangannya ditentukan oleh Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup. Taman Nasional melaksanakan aturan itu karena itu semua masuk ke PNBP,’’ ujar Faozal kepada Suara NTB kemarin. Disebutkan,  pihaknya telah berusaha berkoordinasi dengan Kepala TNGR dan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) terkait masalah tersebut. ‘’Kita (hanya) bisa menyuarakan, ayo dong kita bicara ini. Ini banyak keluhan tentang mahalnya (harga tiket), itu yang saya bilang,’’ sambungnya.

Baca juga:  1.331 Hektare Hutan dan Lahan di NTB Terbakar

Pihaknya berusaha menyurati pihak terkait tentang permohonan penurunan harga tiket tersebut. Hal itu menindaklanjuti keluhan dari pelaku pariwisata bahwa mahalnya harga tiket sedikit tidak menghalangi promosi pariwisata yang berusaha digencarkan saat ini.

Sebelumnya Kepala TNGR, Sudiyono, membenarkan bahwa kisaran harga tiket untuk wisatawan mancanegara adalah Rp150 ribu per hari. “Kalau lokal itu Rp5 ribu. Kalau mancanegara yang memang untuk ukuran lokal agak mahal dia,” ujar Sudiyono kepada Suara NTB pekan lalu.

Diterangkan Sudiyono tiket dengan harpa Rp150 ribu itu berlaku selama satu hari penuh untuk seluruh objek wisata yang ada di bawah naungan TNGR. Karena itu, jika ada keluhan mahalnya harga tiket masuk menurut Sudiyono menjadi tugas tersendiri dari para pelaku pariwisata untuk mengatur paket perjalanan agar tidak hanya berlangsung selama beberapa jam saja. ‘’Harusnya satu hari itu bisa diajak melihat flora, rumah satwa, dan lain-lain,’’ ujarnya.

Baca juga:  1.331 Hektare Hutan dan Lahan di NTB Terbakar

Soal fasilitas yang dianggap masih minim oleh beberapa pihak, Sudiyono menerangkan bahwa penyediaan fasilitas tergantung dari besaran dana yang diberikan oleh pemerintah. Sedangkan uang hasil penjualan tiket masuk seluruhnya diserahkan kepada Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNPB) sebagai kas negara dan tidak bisa dipakai secara sembarangan oleh pihak pengelola objek wisata.

Biaya masuk yang saat ini diterapkan katanya, sudah cukup rasional. Mengingat biaya masuk tersebut untuk mengunjungi seluruh objek wisata yang ada selama masih dalam hitungan hari yang sama. “Kita tidak mungkin turunkan. Kalau diturunkan, itu berarti penurunan kualitas juga,” pungkasnya. (bay)