Harga Tiket Objek Wisata di Lotim Dinilai Mahal

Pendaki melalui jalur Sembalun Bawak Nao menuju Pelawangan. Pengunjung mengeluhkan mahalnya harga tiket mendaki ke gunung Rinjani yang diregister melalui online. (Suara NTB/ars)

Mataram (Suara NTB) – Harga tiket masuk ke beberapa objek wisata di Lombok Timur (Lotim) dinilai terlalu mahal, terutama bagi wisatawan mancanegara. Ketua Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) Lombok Timur, Ahmad Rozi, menyebut hal itu berpotensi menjadi penghambat bagi kemajuan pariwisata yang masih lesu oleh dampak bencana gempa dan harga tiket pesawat yang masih belum stabil.

Menurut Rozi, beberapa pelaku pariwisata, terutama yang berurusan dengan bidang promosi seperti dirinya, merasa keberatan tetang biaya masuk objek wisata yang mahal itu. “Sudah dapat musibah gempa otomatis kan wisatawan berkurang. Itu tiket pesawat naik, belum bisa stabil. Harga tiket masuk ke air terjun Jeruk Manis di Kembang Kuning itu (misalnya) tidak bisa turun-turun,” ujar Rozi saat ditemui Suara NTB pekan lalu di Mataram.

Kisaran harga tiket itu mencapai Rp150 ribu untuk wisatawan mancanegara. Rozi menyayangkan biaya semahal itu harus ditarik sedangkan fasilitas yang disediakan di objek-objek wisata itu tergolong masih minim. “Ini kan menyangkut pelayanan. Kalau masuk silakan semurah-murahnya, biar masyarakat bisa masuk. Kan kita butuh orang banyak datang ke tempat itu. Tapi kalau tiket mahal, ya susah,” tegas Rozi.

Dicontohkan Rozi seperti yang terjadi di kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR), di mana wisatawan mancanegara dimintai biaya masuk Rp150 ribu per hari. Dengan asumsi minimal penggunjung menghabiskan waktu selama empat hari, maka wisatawan perlu merogoh kocek mencapai Rp600 ribu per hari hanya untuk membayar biaya masuk. Jumlah itu dinilai terlalu mahal dan cenderung mencekik wisatawan.

Hal itu disebut serupa dengan yang terjadi di kawasan Pantai Pink. Walaupun biaya masuk hanya Rp25 ribu, namun nominal itu dirasa mahal karena aksesibilitas dan fasilitas yang kurang memadai. “Kenapa tidak berguru pada Ancol? Ancol itu masuk Rp10 ribu tapi di dalam mau habiskan ratusan ribu enggak masalah,” sambung Rozi.

Rozi sendiri berharap pemerintah mau mempertimbangkan untuk mengubah Peraturan Pemerintah tentang retribusi daerah di objek wisata yang tertuang pada Peraturan Daerah (Perda) Nomor 6 Tahun 2016. Menurutnya, tidak perlu ada pemaksaan target pemenuhan yang malah menjerat para pelaku pariwisata. “Idealnya menurut saya harus murah. Karena masuk murah, di dalam boleh mahal,” ujarnya.

Kisaran biaya murah itu sendiri disebut Rozi bisa sebesar Rp50 ribu. “Tapi kalau sudah Rp150 ribu, orang mikir mau masuk. Itu memberatkan,” ujarnya. Untuk itu, pihaknya tengah menyusun jadwal pertemuan dengan stakeholder terkait beserta DPR untuk melakukan peninjauan ulang hal tersebut. “Ini harus duduk bersama, kita bicarakan tentang rasionalisasi (harga) tiket. Jangan harganya kelebihan, fasilitas tidak ada,” pungkas Rozi.

Kepala TNGR, Sudiyono membenarkan bahwa kisaran harga tiket untuk wisatawan mancanegara adalah Rp150 ribu per hari. “Kalau lokal itu Rp5 ribu. Kalau mancanegara yang memang untuk ukuran lokal agak mahal dia,” ujar Sudiyono kepada Suara NTB, Minggu, 4 Agustus 2019.

Diterangkan Sudiyono tiket dengan harpa Rp150 ribu itu berlaku selama satu hari penuh untuk seluruh objek wisata yang ada di bawah naungan TNGR. Karena itu, jika ada keluhan mahalnya harga tiket masuk menurut Sudiyono menjadi tugas tersendiri dari para pelaku pariwisata untuk mengatur paket perjalanan agar tidak hanya berlangsung selama beberapa jam saja. “Harusnya satu hari itu bisa diajak melihat flora, rumah satwa, dan lain-lain,” ujarnya.

Sudiyono menerangkan bahwa penyediaan fasilitas tergantung dari besaran dana yang diberikan oleh pemerintah. Sedangkan uang hasil penjualan tiket masuk seluruhnya diserahkan kepada Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNPB) sebagai kas negara dan tidak bisa dipakai secara sembarangan oleh pihak pengelola objek wisata.

Sudiyono sendiri mengaskan bahwa biaya masuk yang saat ini diterapkan sudah cukup rasional. Mengingat biaya masuk tersebut untuk mengunjungi seluruh objek wisata yang ada selama masih dalam hitungan hari yang sama. “Kita tidak mungkin turunkan. Kalau diturunkan, itu berarti penurunan kualitas juga,” pungkas Sudiyono. (bay/nas)