Rinjani Dibuka, Penanda Kebangkitan Pariwisata NTB

Para pelaku wisata Sembalun membantu TNGR membersihkan, menata, memberi rambu tambahan jalur pendakian Rinjani demi kenyamanan dan keamanan pendaki. Berita selengkapnya di halaman 11. (Suara NTB/ist_anto)

DIBUKANYA jalur pendakian di Gunung Rinjani, jadi salah satu bentuk kebangkitan sektor pariwisata di NTB, khususnya Pulau Lombok. Mengingat, Rinjani selama ini bagian dari magnet wisata outdoor wisatawan lokal dan mencanegara, sekaligus diharapkan titik balik kebangkitan perekonomian dan pariwisata sebagai sektor unggulan daerah.

———-

Anto Cepen Sembahulun lesu. Situs http://www.happyvalleyrinjani.com/ yang dikelolanya down. Situs itu selama ini jadi media promosi Trekking Organizer (TO) yang dipakai untuk mencari nafkah dari wisatawan pendaki Rinjani. Hosting situs itu sudah kedaluarsa, lantaran belum dilakukan upgrade pembayaran.

Anto pusing.  Jangankan untuk beli hosting, dapurnya saja kesulitan mengepul sejak Rinjani ditutup akibat gempa dan longsor Juni – Agustus 2018 lalu.

Gunung Rinjani diketahui tidak saja menjadi tempat hidupnya beragam fauna dan tumbuh tumbuhan. Sekaligus jadi harapan bergantungnya perekonomian masyarakat di tiga daerah, Lombok Utara, Lombok Timur dan Lombok Tengah. Gunung dengan ketinggian 3.726 meter di atas permukaan laut (Mdpl) ini penyumbang sektor ekonomi yang kuat hubungannya dengan pariwisata. Ada sekitar 1.600 orang yang begitu ketergantungan. Mereka adalah Trakking Organizer (TO), guide dan para porter yang selama ini melayani service pendakian dari jalur di tiga daerah itu.

 Jalur yang menantang selama ini jadi favorit pendaki, seperti jalur Senaru Lombok Utara dan jalur Sembalun Lombok Timur. Dua jalur paling primadona. Dua jalur yang sedang dibuka dan gencar dipromosikan, jalur Timbanuh yang juga masih kawasan Lombok Timur dan  jalur Aik Berik di Kecamatan Batukliang Lombok Tengah.

Selain trial menantang, pesona unggulan Taman Nasional Gunung Rinjani yang sangat prospektif adalah Danau Segara Anak. Objek lainnya di sekitar danau  adalah Hulu Sungai Koko Puteq. Selain itu terdapat pula Goa Susu, Goa Manik, Goa Payung.  Sedangkan di bagian bawah Danau Segara Anak terdapat sumber air panas Aik Kalak.

Spot wisata yang selama ini jadi jualan para TO dan tentusaja memberi kontribusi besar bagi kebangkitan ekonomi, khususnya warga di lingkar kaki Rinjani.

Anto Cepen Sembahulun misalnya, salah satu pemilik TO yang begitu lega dengan keputusan TNGR membuka  jalur sejak Jumat, 14 Juni 2019. “Saya sangat lega. Benar -benar keputusan pembukaan jalur ini kami sambut dengan antusias,’’ kata Anto.

Sejak kejadian gempa dahsyat Juli dan Agustus 2018, Taman Nasional menutup semua akses menuju Rinjani karena  kondisinya berbahaya bagi

keselamatan. Perekonomiannya ikut terpuruk. Dapur yang biasanya mengepul tanpa hambatan, macet setelah kejadian yang di luar kuasa siapapun itu.  Kelesuan Anto sama dengan lesunya perekonimoan warga Sembalun.  Ada sekitar 15 orang pengelola TO, 50 orang  guide dan porter  yang mencapai 200 di Sembalun begitu bergantung ekonominya dari aktivitas Rinjani.

Segera setelah keputusan itu, ia bahu membahu Bersama TO lainnya mendaki ke jalur jalur yang baru dibuka. Mereka dengan sukarela membersihkan jalur yang longsor. Menata dengan membuat pijakan yang aman bagi pendaki. Sebab jalur sebelumnya sudah rusak digerus gempa dan longsor.

Situasi terpuruk secara ekonomi dan pariwisata itu pula yang menjadi pertimbangan TNGR menbuka jalur pendakian. Survei tiga kali dilakukan, melibatkan semua unsur terkait seperti PVMBG Bandung, Dirjen KSDAE, Kementerian Kehutanan, BPBD, TO, unsur TNI dan Polri. Sampai pada akhirnya di survei ketiga, Dirjen KSDAE memberikan izin untuk pembukaan jalur setelah melalui penataan dan perbaikan.

“Ada ribuan warga yang secara ekonomi terpuruk setelah Rinjani ditutup. Itu kemudian jadi pertimbangan kami untuk terus lakukan survei kelaikan jalur. Kemudian, setelah mempertimbangkan kondisi jalur dan kesimpulan hasil survei, akhirnya Rinjani kami buka,” kata Kepala Balai TNGR Sudiyono kepada Suara NTB Jumat, 14 Juni 2019, meresmikan pembukaan jalur.

Keprihatinan perekonomian dan pariwisata yang terpuruk menjadi kegelisahan panjang pihaknya. Karena berbagai desakan terus berdatangan, tapi disisi lain instansinya dihadapkan dengan dilema keamanan dan keselamatan pendaki dan pelaku wisata.

Tidak saja masyarakat dan pelaku wisata, TNGR pun menjadi pihak yang turut terpuruk. Betapa tidak, proyek miliaran rupiah yang sudah lelang dan ditentukan pemenangnya, terpaksa dibatalkan. Padahal proyek itu berkaitan dengan hajat kemajuan pariwisata Rinjani, seperti penataan jalur dan penambahan fasilitas.

Lebih dari itu, pendapatan negara melalui retiribusi tiket menjadi kehilangan paling dirasakan dampaknya. Sebelum gempa, target Rp 6 miliar untuk disumbangkan ke Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) berhasil dicapai. Kehilangan target itu di tahun 2019 dirasakan membayangi. Meski demikian, sudah ada upaya revisi target, tidak sebesar sebelumnya.

“Tapi alhamdulillah, setelah dibuka ini, kita berharap dan berdoa, tidak ada lagi kejadian susulan yang di luar kemampuan kita,” ujarnya. (ars)