Kejutan PKS Berlanjut di Pemilu 2019

Ketua DPW PKS NTB, H. Abdul Hadi bersama Gubernur NTB, H. Zulkieflimansyah (Suara NTB/dok)

Mataram (Suara NTB) – Setelah sukses mengantarkan kader duduk sebagai Gubernur NTB, Dr. H. Zulkieflimansyah pada Pilkada serentak NTB 2018 lalu, di Pemilu 2019 ini, PKS kembali mencatatkan keberhasilan. Dari dua Dapil di NTB, PKS sukses mengirim dua wakilnya ke Senayan.

Dari hasil rekapitulasi suara KPU Provinsi NTB yang sudah dituntaskan, Minggu, 12 Mei 2019 malam, dari Dapil NTB I (Pulau Sumbawa) PKS setelah mengantongi dukungan 101.058 suara, PKS mengantarkan Johan Rosihan sebagai peraih suara terbanyak (46.293 suara) duduk sebagai wakil rakyat di DPR RI. PKS juga sukses meraih satu kursi dari Dapil NTB II (pulau Lombok) setelah mengantongi dukungan 192.415 suara, dengan Caleg yang akan duduk, Suryadi Jaya Purnama yang memperoleh 61.979 suara.

Keberhasilan PKS mengamankan dua kursi dari dua Dapil NTB itu tidak lepas dari tangan dingin Gubernur NTB, Dr. Zul sapaan akrab orang nomor satu di NTB itu, sebagai ketua pemenangan PKS NTB. Hal ini terbukti dari sejumlah daerah yang dikunjungi Dr. Zul, suara partai ini mengalami peningkatan.

Ketua DPW PKS NTB, H. Abdul Hadi yang dikonfirmasi Suara NTB baru-baru ini, tak menampik hal itu. Namun demikian ia tetap mengklaim bahwa kesuksesan PKS tersebut tidak lepas dari soliditas mesin politik partai yang bergerak dengan masif.

‘’Alhamdulillah kita berhasil mengirimkan dua wakil ke pusat. Itu tidak lepas dari kerja tim mesin partai, termasuk pak Gubernur selaku Ketua Tim Pemenangan Pileg PKS,’’ katanya.

Kesuksesan PKS tidak saja hanya ditorehkan di level DPR RI. Namun dalam perebutan kursi wakil rakyat di DPD Provinsi NTB juga, PKS mencatatkan capaian yang cukup gemilang. PKS berhasil mengamankan tujuh kursi dari delapan Dapil. Dengan raihan tujuh kursi itu, PKS mendapatkan tambahan satu kursi dari sebelumnya hanya enam kursi.

‘’Dari target kita delapan kursi, ternyata hanya tujuh kursi. Kita kehilangan kursi di Dapil IV (Lotim Selatan). Tapi Alhamdulillah di Kota Mataram dan Loteng Selatan kita berhasil mengisinya kembali,” kata Hadi.

Dalam perebutan kursi DPRD NTB, peran Dr. Zul juga tidak bisa dinafikan. Misalnya, dalam peraihan kursi PKS di Kota Mataram. Sebelumnya, PKS tidak masuk hitungan yang akan berhasil mendapatkan satu kursi dari Dapil I Kota Mataram ini. Namun berkat siasat politik yang dimainkan Dr. Zul PKS akhirnya berhasil mendapatkan satu kursi dengan mengirim TGH. Achmad Muhclis ke Udayana.

Dari informasi yang diserap Suara NTB, bagaimana peran Dr. Zul dalam merebut kursi di Dapil Kota Mataram untuk PKS, terjadi pada H-7 pemungutan suara. Konon ia melobi dan membangun kesepakatan anggota DPRD NTB Dapil Mataram dari Partai Demokrat, H. MNS. Kasdiyono yang tidak maju lagi pada Pileg 2019, untuk mengarahkan konstituennya mendukung Caleg PKS, dengan kompensasi bahwa PKS siap untuk mendorong Kasdiyono maju di Pilkada Kota Mataram 2020.

Kasdiyono yang dikonfirmasi terkait hal itu pun tidak menampiknya. Hal itu juga tidak dinafikan oleh Abdul Hadi, bahwa lobi Dr. Zul – Kasdiyono sangat besar dalam mengantarkan PKS mengamankan satu kursi.

Hanya PKS yang memperlihatkan bahwa perolehan suaranya konsisten di semua level pemilihan calon anggota legislatif, mulai dari tingkat pusat hingga kabupaten/kota. Berbeda halnya dengan sejumlah partai yang perolehan suaranya cenderung fluktuatif di semua tingkatan.

Adapun partai lain yang berhasil mengirimkan wakilnya ke DPR RI yakni dari partai Gerindra. Partai yang didirikan Prabowo Subianto ini juga berhasil mengirimkan dua wakil, pertama dari Dapil NTB I, mengirim H. Zainul Arifin yang mendapat dukungan 41.334 suara dengan suara kesuluruhan partai sebanyak 121.267 suara. Kursi kedua dari Dapil NTB II yakni H. Bambang Kristiono yang mendapatkan dukungan sebesar 97.110, dengan total keseluruhan suara partai sebanyak 322.054.  Ia berhasil mengalahkan Caleg petahana, H. Wilgo Zainar.

Sementara itu, partai pemenang Pemilu DPRD NTB, yakni partai Golkar hanya bisa mengamankan satu kursi dari Dapil NTB II setelah mengantongi dukungan sebanyak 250.537 suara, dengan Caleg terpilihnya Hj. Sari Yuliati yang memperoleh dukungan 82.808 suara.

Kursi berikutnya menjadi milik PPP setelah mengantongi dukungan sebesar 158.612 suara dan mengirim Hj. Wartiah sebagai Caleg peraih suara terbanyak, yakni 56. 710 suara. Kemudian disusul PDIP yang mengantongi dukungan 137. 932 suara, dan mengirim Caleg petahana, H. Rachmat Hidayat yang mengantongi suara 54. 152.

Kursi berikutnya diamankan oleh partai Demokrat dengan perolehan dukungan sebesar 136.281 suara, dengan Caleg petahana H. Nanang Samodra, dengan suara 46.384 suara. Kursi selanjutnya diamankan oleh PKB, setelah mengantongi suara 145.292 suara dengan Caleg petahana, H. Helmy Faishal Zaini, dengan suara 44.210.

Kursi terakhir dari Dapil NTB II dikunci oleh partai Nasdem setelah mengantongi dukungan sebesar 113.428 suara dengan Caleg, H. M. Syamsul Luthfi dengan suara 44. 467. Nasdem menyingkirkan PAN yang hanya terpaut tipis selisih suaranya. PAN hanya mendapatkan dukungan sebesar 110.486 suara.

Perebutan kursi terakhir antara PAN dan Nasdem ini berlangsung dengan sengit. Drama upaya percobaan penggelembungan suara oleh PAN untuk menyalip Nasdem mewarnai proses rapat pleno rekapitulasi suara KPU NTB. Namun upaya itu berhasil digagalkan oleh Saksi partai Nasdem dengan menunjukkan bukti-bukti kuat.

Namun demikian, meskipun gagal meraih kursi dari Dapil NTB II, namun PAN berhasil mengamankan kursi di Dapil NTB I, setelah mengantongi suara sebesar 89.949 suara dengan Caleg petahana, H. M. Syafruddin dengan suara 66. 902. (ndi)