Dugaan Praktek Prostitusi, Polres Lobar Tangkap Dua Terduga Mucikari di Senggigi

Kapolres Lobar AKBP Heri Wahyudi didampingi Kasatreskrim dan Kasat narkoba jumpa pers pengungkapan hasil Operasi Pekat

Giri Menang (Suara NTB) – Spa (tempat pijat) dan hotel (penginapan) di wilayah Senggigi diduga disalahgunakan sebagai tempat praktek prostiusi atau esek-esek. Dugaan penyalahgunaan ini menyusul diungkapnya dua tersangka mucikari prostitusi saat melakukan transaksi di wilayah setempat. Polisi tidak bisa menangkap pelaku prostutusi ini dengan alasan tidak ada bukti kuat seperti prostitusi online yang menjajakan foto melalui online.

Terkait dugaan penyalahgunaan tempat pijat dan penginapan ini, pihak polres akan berkoordinasi dengan Pemda Lobar untuk diberikan teguran. Kapolres Lobar, AKBP Heri Wahyudi mengatakan dua kasus prostitusi dengan dua tersangka berhasil diungkap ketika operasi Pekat yang digelar sebelum pelaksanaan puasa. “Dua tersangka mucikari berhasil kita tangkap dengan barang bukti,”jelas Heri Wahyudi.

Penangkapan tersangka mucikari ini jelas dia saat pelaku melakukan tindakan prostitusi  di wilayah Senggigi. Para pelaku ditangkap di lokasi berbeda, satu orang ditangkap di spa dan satu lagi hotel atau penginapan. Pihaknya sendiri hanya bisa mengamankan mucikari, karena pelaku sendiri tidak bisa dikenakan. Kecuali kata dia, pelaku menjajakan diri melalui online dengan menyebar foto syur.

Dari pelaku berhasil diamankan 1 lembar seprai yang terdapat bercak sperma, uang tunai Rp 1,5 juta dan Rp 300 ribu, alat pengaman (kondom), handuk.  Dari pengakuan pelaku baru sekali melakukan praktek ini. Sejauh ini kalau dilihat tren prostitusi ini diakuinya masih saja terjadi di wilayah Lobar, tahun lalu pihaknya berhasil mengungkap dua kasus. “Masih ada prostitusi ini, tahun lalu kita ungkap dua kasus,”jelas dia.

Apakah ada pelaku dan mucikari di bawah umur yang diamankan? Menurut Heri belum ada yang di bawah umur. Pihaknya kesulitan membuktikan pelaku di bawah umur, karena terkendala barang bukti. Terkait tindakan yang dilakukan terhadap pengusaha tempat pijat dan hotel tersebut, pihaknya akan melakukan koordinasi lebih lanjut dengan Pemda agar dilakukan peneguran terhadap pengusaha. Sebab kata dia, polres sendiri tak bewenang dalam hal memberikan tegura, namun ada di pemda selaku pihak yang memberikan izin usaha tersebut.

Ditanya lebih lanjut, apakah spa ini sebagai modus atau kedok melakukan praktek prostusi? Menurut dia, sejauh ini belum ada mengarah ke sana sebab yang ditangkap beberapa oknum saja. Pihaknya perlu melakukan pendalaman lebih lanjut terhadap praktek prostitusi di lokasi spa dan penginapan tersebut. “Kita perlu dalami lebih lanjut.”jelas Heri (her)