32.863 Rumah Siap Ditempati Korban Gempa

Tim fasilitator  di depan rumah rusak akibat gempa yang sudah diperbaiki di Desa Kekait, Kecamatan Gunungsari Lombok Barat. (Suara NTB/ars) 

Mataram (Suara NTB) – Perbaikan rumah rusak akibat gempa terus menunjukkan perkembangan signifikan. Sebagian warga bahkan sudah bisa menempati rumah yang sudah jadi. Tercatat, 32.863 rumah siap ditempati pemiliknya.

Jumlah total itu berdasarkan laporan progrès Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi NTB per Rabu, 8 Mei 2019 lalu. Namun belum termasuk yang sedang dalam proses pengerjaan dan perencanaan. ‘’Laporan sampai tadi malam (kemarin, red), sudah sampai pada 32.296 rumah yang siap ditempati. Dalam arti, rumah sudah jadi, tinggal dipakai oleh warga pemilik,’’ kata Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD NTB, Agung Pramuja, Kamis, 9 Mei 2019.

Dijelaskannya, jumlah ini belum termasuk yang sedang dalam proses pengerjaan. ‘’Sementara yang sedang berproses di lapangan 63.946 unit. Di luar yang sedang dikerjakan, ada yang  dalam proses perencanaan, jumlahnya 63.946 unit,’’ sebut Agung. Jumlah ini berlaku untuk rumah jenis rusak berat, rusak ringan dan rusak sedang.

Baca juga:  15.069 Korban Gempa di Kota Mataram dan KSB Segera Terima Jadup

Diakuinya, progres ini sudah cukup signifikan dibanding sebelumnya. Beberapa formulasi penanganan digunakan demi percepatan. Salah satunya dengan pola ‘’keroyokan’’ satu desa atau kecamatan yang prioritas mendapat perbaikan. Semua unsur yang dilibatkan, seperti TNI, Fasilitator, Pokmas dan Aplikator, diyakinkan untuk terus menjaga soliditas.

Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) pada kegiatan rehabilitasi dan rekonstruksi ini mengaku cukup beralasan klaim signifikan tersebut. Ini jika melihat progres per pekan, yang sebelumnya selesai dikerjakan 1000 unit. ‘’Tapi belakangan ini, dalam seminggu ada 2000 unit rumah bisa kita kerjakan dan tuntaskan,’’ ujarnya. Jika terus menunjukkan tren positif, maka terbuka peluang target akan dinaikkan menjadi 3000 unit per pekan.

Sehingga, lanjut Agung,  perbaikan rumah rusak berat, sedang dan ringan  sampai jelang batas waktu perpanjangan masa transisi Agustus mendatang, target 100.000 rumah bisa selesai dikerjakan.

Ia tidak khawatir soal tenaga ahli, tenaga teknis dan tenaga lapangan. Konsultan dari Universitas Muhammadiyah Mataram (Ummat) sudah menyiapkan kebutuhan dimaksud. Ada sekitar 5000 tenaga fasilitator sipil, TNI dan Polri yang disebar ke daerah terdampak, Lombok Utara, Mataram, Lombok Barat, Lombok Tengah, Lombok Timur. Sedangkan di Pulau Sumbawa di Sumbawa Besar dan Sumbawa Barat.

Baca juga:  Dana Gempa Mengendap Rp173 Miliar Dipicu Data Anomali

Sejak Rekompak PUPR ditiadakan, pola penanganan berubah. Semua terintegrasi dalam tim Fasilitator Terpadu Provinsi NTB. Penggajian juga diratakan pada angka Rp 4.250.000.  ‘’Sementara gaji untuk fasilitator TNI dan Polri masih didskusikan  di Jakarta,’’ jelasnya.

Dengan dihapuskannya unsur Rekompak, terjadi perubahan komposisi tenaga fasilitator. Dari 1000 orang tenaga rekompak sebelumnya, yang mendaftar kembali ke fasilitator terpadu 780 orang. Sedangkan dari tenaga fasilitator rusak ringan dan sedang, dari 1000 orang yang mendaftar kembali  sebanyak  975 orang. Soal perekrutan baru, ia mengaku masih menunggu petunjuk dari BNPB. (ars)