PVMBG Rekomendasikan Buka Jalur Alternatif Pendakian Rinjani

Ilustrasi jalur pendakian Rinjani. (Suara NTB/ist)

Mataram (Suara NTB) – Kesimpulan hasil survei tahap dua Mei lalu, jalur trekking Rinjani disarankan tetap ditutup. Alasannya, masih banyak titik berbahaya akibat beberapa kali gempa susulan yang memicu longsor baru. Pendakian bisa dibuka jika Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (BTNGR) bisa membuat jalur alternatif yang lebih aman.

Setidaknya ada sembilan rekomendasi penting yang dikeluarkan PVMBG yang ikut melakukan survei bersama TNGR dan tim gabungan lainnya pada 17 Maret lalu.  Aktivitas apapun dilarang dilakukan, termasuk pendakian  karena masih ada potensi longsor dinding lereng dengan berupa runtuhan batu dan tanah, terutama ketika terjadi guncangan akibat gempa bumi. Tertuang juga dalam rekomendasi, aktivitas pendakian  disarankan ditutup sementara.

‘’Kegempaan tektonik yang kembali terjadi sehingga potensi terjadinya runtuhan batu dan perkembangan retakan menjadi longsoran masih tinggi.  Maka aktivitas pendakian dan kegiatan lainnya di Gunung Rinjani hendaknya ditutup sementara,” demikian dijelaskan Kepala Badan Geologi PVMBG, Ir. Kasbani pada  surat yang diterima Suara NTB melalui BTNGR, Sabtu (4/4) lalu.

Pihaknya hanya merekomendasikan  aktivitas atau kegiatan hanya yang berkaitan dengan mitigasi bencana gunungapi, gempabumi, dan pemantauan perkembangan gerakan tanah serta penanganannya. Disarankannya, aktivitas hendaknya dilakukan dengan selalu memperhatikan kondisi gerakan tanah yang terjadi serta intensitas kegempaan dan curah hujan.

Pada poin tiga rekomendasi, jika aktivitas pendakian dibuka kembali pada jalur pendakian Sembalun Plawangan, agar dilakukan pembuatan jalur pendakian yang baru. Mengingat jalur yang ada saat ini telah mengalami longsoran dan muncul retakan – retakan lama dan baru. ‘’Terutama jalur pada sebelum pos 3 dan jalur dari pos 4 Bukit Penyesalan menuju Plawangan, ini  membahayakan bagi pendaki,’’ sarannya.

Situasi musim penghujan juga harus dipertimbangkan. Potensi berkembangnya retakan menjadi longsoran bahan rombakan semakin meningkat. Sehingga disarankan tidak beraktivitas di sekitar lokasi gerakan tanah dan pada alur aliran sungai yang berhulu di Gunung Rinjani pada saat dan setelah turun hujan.  Untuk itu, katanya, semua aktivitas ini dilakukan dengan selalu memperhatikan kondisi keamanan dan keselamatan, mengingat masih terjadinya gempa susulan.

Rekomendasi itu tidak kepas dari sejumlah temuan yang dirumuskan berdasarkan hasil survei.   Jalur pendakian  Rinjani Sembalun Plawangan terletak pada zona potensi terjadi gerakan tanah menengah sampai tinggi.  Pada zona ini dapat terjadi gerakan tanah jika curah hujan di atas normal, sedangkan gerakan tanah lama dapat aktif kembali.

‘’Untuk jalur pendakian yang terdapat retakan dan longsoran mayoritas munceul di zona potensi gerakan tanah tinggi. Situasi gerakan tanah dan dampak bencana Jenis gerakan tanah yang terjadi adalah retakan dan nendatan pada permukaan tanah. Longsoran dan runtuhan/jatuhan batu dijumpai pada tubuh Gunung Rinjani. Ini  hampir sepanjang jalur pendakian Pelawangan Sembalun mulai sebelum pos 3 sampai titik awal Pelawangan,’’ paparnya.

Menanggapi rekomendasi PVMBG itu, Kepala Balai TNGR, Sudiyono sedang melakukan kajian mendalam. Hasil penelitian kondisi tanah oleh PVMBG itu dijadikan acuan untuk mempertimbangkan membuka atau memperpanjang penutupan. Memang, ada keinginan untuk membuka pada pertengahan Mei mendatang. Karena pertimbangan cuaca masuk musim kemarau. Empat jalur yang kemungkinan akan dibuka adalah Sembalun dan Timbanuh di Lombok Timur, jalur Senaru di Lombok Utara dan jalur Aik Berik Lombok Tengah.

Hanya saja, untuk persetujuan ada di tangan Direktorat Jendral Konservasi Sumber Daya Alam, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. “Kita sedang tunggu persetujuan Ditjen,” ujarnya.

Kalau pun dibuka, itu pun menurutnya akan dibatasi. Pendakian hanya disarankan sampai ke Pelawangan. Sementara untuk turun ke danau, masih ditutup total karena bahaya longsor. (ars)