Kisah Pilu Warga NTB Korban TPPO

Muliati - Mashuri (Suara NTB/ars)

Mataram (Suara NTB) – Korban Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) mengalami nasib pilu selama mereka bekerja di luar negeri. Seperti yang dirasakan oleh salah satu korban TPPO, Muliati yang bekerja ke luar negeri tanpa dokumen resmi.

Muliati menuturkan, ia pergi bekerja ke Riyadh, Arab Saudi. Di sana ia bekerja selama delapan bulan, dan per tiga bulan bekerja di kantor. Selama delapan bulan, ia tidak pernah menerima gaji. Pada suatu ketika Muliati mengalami nasib nahas. Anak majikannya hampir memperkosanya. Saat itu Muliati tengah menjemur pakaian di lantai dua rumah majikannya. Majikannya berpesan kepada Muliati bahwa mereka sekeluarga akan ke pantai.

Ternyata dua jam berselang, ada suara gerbang rumah terbuka. Muliati tidak menghiraukannya. Anak majikannya datang dan mengganggunya. Anak majikannya itu memaksa Muliati melayaninya untuk melakukan perbuatan yang tidak senonoh. ‘’Dia maksa saya seperti itu, tapi saya keras tidak mau dan akhirnya terpeleset dari lantai dua,’’ kata Muliati.

Setelah itu Muliati tidak sadarkan diri. Ada seorang polisi yang tengah berada di pinggir jalan raya mengantar Muliati ke rumah sakit. Polisi itu yang mengurusinya dan mengabari KBRI. Muliati berada di rumah sakit selama dua bulan. Selama satu bulan dihabiskannya dalam keadaan koma. ‘’Ternyata tulang rusuk saya patah, dan saya menjalani operasi,’’ tuturnya.

Ia sempat disembunyikan di sebuah kantor tanpa sepengatahuan siapapun. Beruntung seorang temannya mengunggah foto Muliati di facebook. Setelah itulah baru ketahuan oleh KBRI. Setelah diurus oleh KBRI, Muliati bersikeras meminta pulang kembali ke Indonesia. Hal itu dilakukannya karena ia merasa tidak kuat. Keluarga dan suaminya juga meminta Muliati dipulangkan. ‘’Ditanya apakah surat-surat itu resmi atau tidak, ternyata surat itu tidak resmi,’’ tutup Muliati.

Baca juga:  Tingkatkan Literasi Keuangan, Putus Mata Rantai Kemiskinan

Dipicu Masalah Ekonomi

TKI asal Suradadi, Kecamatan Terara, Kabupaten Lombok Timur, Mashuri juga memendam kisah pilu. Kondisi ekonomi yang sulit, memaksanya berkerja sebagai TKI tanpa dokumen resmi. Mashuri menceritakan kisahnya yang terpaksa menjadi TKI tanpa dokumen karena ajakan tetangga dan kesulitan ekonomi. Ia pertama kali ke luar negeri pada tahun 2013 lalu. Ia bekerja di Taiwan selama satu bulan. Mashuri dipulangkan karena penyakit, sehingga tidak boleh bertahan di Taiwan.

Sepulang dari Taiwan, masalah ekonomi mulai menjerat Mashuri. Kondisi itu terjadi karena ia mengeluarkan biaya untuk pergi ke Taiwan sebelumnya. “Itu yang membuat saya keras ingin kembali ke luar negeri dan tujuan saya berikutnya ke Malaysia,” katanya. Mashuri menceritakan, ia bekerja ke Malaysia Timur diajak oleh tetangganya. Ia pergi tanpa biaya dan tanpa dokumen. Nantinya akan dipotong gaji di sana.

‘’Setelah saya pikir-pikir karena faktor ekonomi terpaksa mengambil keputusan itu dan jadi berangkat ke Malaysia,’’ ujarnya. Pada 3 Maret 2016, Mashuri berangkat menuju Malaysia dan langsung bekerja. Setelah bekerja selama satu tahun, ia merasa tidak nyaman dan pindah ke tempat kerja yang lain. Di tempat kerjanya yang baru, ia bekerja di ladang pribadi. Ketika baru bekerja selama dua hari, Mashuri terkena setrum. Saat memotong buah sawit, sabitnya jatuh ke kabel sehingga ia tersetrum selama satu jam setengah. Ia mengetahui itu dari cerita tetangganya di kampung. Keberadaannya diketahui oleh orang yang bekerja di lokasi itu. Setelah ditemukan, ia lalu dibawa ke rumah sakit. Sesampainya di rumah sakit, Mashuri sudah ditunggu Kepolisian Malaysia. Ia ditanya tentang dokumen. “Tapi saya cuma bilang tidak ada dokumen, saya ilegal hanya ada paspor, paspor saya yang saya pakai paspor Taiwan, dan saya buat di Jawa,” katanya.

Baca juga:  Pacu Pertumbuhan, Undang Investasi dari Luar

Pihak Kepolisian bingung. Apalagi, ketika Mashuri tidak mengetahui ketika ditanya tentang keluarga, karena ia tidak memegang alat komunikasi. Terpaksa ia dirawat sampai pulih. Setelah pulih, ia kembali ditanya tentang keluarga, tapi Mashuri tidak bisa memberikan karena tidak ada yang bisa dihubungi. Lalu aparat di Malaysia pun mengirimkan informasi, dan berhasil menemukan keluarganya.

Mashuri dipulangkan dari Malaysia Timur, dipindahkan ke rumah sakit di Pontianak. Di sana dia dirawat selama dua bulan. Kemudian diserahkan ke Dinas Sosial Pontianak untuk ditangani. Setelah itu, Mashuri dibawa ke Rumah Sakit di Jakarta. Ia juga dimasukkan keDinas Sosial. Mashuri dimasukkan ke rumah sakit selama satu bulan. ‘’Selama satu bulan, saya sempat ditanya di Jakarta, pertama saya tidak ada biaya sehingga tertarik cara ilegal,” pungkasnya. (ron)