Pendidikan Bukan Hanya Tugas Sekolah, Bupati Dompu Ajak Semua Pihak Jadikan Anak Teman

Pasukan pengibaran bendera sedang mengibarkan bendera merah putih pada upacara Hardiknas 2019. --- Bupati Dompu, H. Bambang M. Yasin menyerahkan piagam penghargaan kepada peserta lomba dalam rangka Hari Pendidikan Nasional 2019 usai apel upacara di lapangan Karijawa Dompu, Kamis, 2 Mei 2019. (Suara NTB/Humas Pemda Dompu)

Dompu (Suara NTB) – Peringatan hari pendidikan Nasional di Kabupaten Dompu dimanfaatkan untuk merefleksikan kondisi dunia pendidikan yang ada. Berbagai persoalan yang menimpa anak sekolah seperti kasus bunuh diri dan kriminal lainnya mengharuskan semua pihak untuk ikut terlibat dan bertanggungjawab dalam proses pendidikan.

“Saya melalui kesempatan ini, mari kita semakin peduli pada anak-anak kita. Mari kita benar – benar menjadikan anak – anak kita sebagai teman. Teman ngobrol, teman bertukar pikiran, teman berdiskusi. Supaya apa? Anak – anak merasa bahwa mereka dihargai, bahwa mereka dianggap di rumah. Kalau tidak begitu, anak – anak kita akan mencari tempat di luar rumah. Masih untung di luar rumah mendapat teman yang baik, teman bergaul cerdas, yang bertakwa, tapi kalau di luar rumah ketemu sama anak yang suka sabu-sabu, yang suka tramadol, yang suka konidin, yang suka parameks dan lain-lain, maka semuanya menjadi rusak,” ajak Bupati Dompu, Drs. H. Bambang M. Yasin saat memimpin upacara Hari Pendidikan Nasional, Hari Bulan Bhakti Gotong Royong, dan Hari Otonomi Daerah di lapangan Karijawa Dompu, Kamis, 2 Mei 2019.

Ia pun mengakui, bahwa pendidikan di Dompu masih perlu perlu bekerja lebih keras lagi untuk meningkatkan kualitas. Kualitas ini sangat ditentukan oleh proses yang didukung sarana prasarana, termasuk di dalamnya guru dan seluruh perangkat organisasi sekolah. Perangkat ini harus bisa memberi kontribusi yang baik dalam proses sehingga kualitas produknya bisa. Lulusan SLTA diterima di perguruan tinggi favorit di Indonesia merupakan salah satu indikator tentang kualitas lulusan atau produk dari proses pendidikan di daerah.

Baca juga:  32.355 Anak NTB Tak Mengenyam Pendidikan Menengah

“Kita juga harus bersepakat juga bahwa mental anak didik kita juga masih perlu peningkatan secara kualitatif. Kalau kita ikuti media sosial beberapa waktu terakhir ini, beberapa kejadian sungguh menunjukan kepada kita betapa mental, moral kita semua masih perlu upaya khusus untuk peningkatan keimanan misalnya. Ada siswi hanya karena putus cinta mengakhiri hidup dengan minum Nate, ada siswi hanya karena ditegur oleh orang tua mengakhiri hidup dengan cara minum racun. Kenapa seperti ini, itu berarti ada yang salah dalam interaksi sosial kita di dalam masyarakat, di sekolah dan sebagainya,” katanya.

Terhadap pencanangan Bulan Bhakti Gotong Royong tahun 2019, Bupati meminta kepada Dinas PMPD Kabupaten Dompu untuk bekerjasama dengan Dinas Kesehatan, dan Dinas Peternakan Kabupaten Dompu. “Kita akan fokus dalam bulan bhakti gotong royong ini menyelesaikan masalah rabies,” ajaknya.

Penanganan rabies di Bali yang menghabiskan anggaran hampir Rp500 triliun hingga 11 tahun dan kasus rabies belum juga bebas, karena fokus pada pemberian faksin pada anjing. Belajar dari kasus Bali, Bupati Dompu ingin penanganan rabies difokuskan pada proses eliminasi anjing liar dan tidak bertuan. “Belajar dari (kasus di Bali) situ, kita ingin memastikan siklus penyebaran rabies terhadap anjing ini bisa segera akhiri. Kita akan sama – sama menghadapi masalah ini secara konkret, kita akan pastikan bahwa anjing yang tidak bertuan, anjing yang liar di seluruh di Kabupaten Dompu ini, kita sepakati habisi saja,” ajaknya.

Baca juga:  Tak Melanjutkan Pendidikan Menengah, Kemiskinan dan Pernikahan Dini Jadi Pemicu

Diakui H. Bambang, kasus gigitan anjing di Dompu belakangan ini menurun. Tapi bukan berarti masalahnya sudah selesai. “Kita harus bersepakat, kita harus bersama-  sama menyelesaikan masalah ini,” ungkapnya.

Pada upacara hadiknas ini, H. Bambang juga menyampaikan apresiasinya kepada aparat Kepolisian, TNI, dan Pol PP di Dompu, sehingga proses Pemilu berjalan kondusif. Protes yang terjadi masih dalam tataran wajar sebagai bentuk kekecewaan atas kekalahan. “Kita berharap, proses ini tetap berjalan kondusif sampai benar – benar dapatkan keputusan, siapa yang memenangkan pertarungan ini,” katanya.

Ia pun tidak menampik banyak persoalan yang terjadi di Pemilu serentak 17 April 2019 lalu dan masalah itu terjadi secara nasional. Tapi proses demokrasi tersebut berjalan dengan baik. “Cuman yang harus kita perbiki sekarang, cara kita menyikapi masalah itu,” ungkapnya. Ia pun berharap, model Pemilu ini menjadi yang pertama dan terakhir. (ula/*)