Kalah di Banyak Lini, Partai Baru Butuh Waktu

Ilustrasi perolehan suara. (Suara NTB/ist)

Mataram (Suara NTB) – Wajah parlemen hasil Pemilu 2019 nampaknya masih didominasi politisi partai-partai besar. Partai kecil atau partai baru, tersisih dari peta persaingan. Mereka kalah di banyak lini. Dari logistik, identitas, infrastruktur dan kelembagaan, hingga jam terbang para Calegnya. Partai baru butuh waktu yang cukup untuk tumbuh dan menjaring konstituen.

Fenomena nasional dari hasil quick count sejumlah lembaga survei memperlihatkan bahwa, tidak ada satupun perwakilan dari partai baru yang berhasil masuk lolos ambang batas parlemen. Mereka semua hampir dipastikan rontok.

Situasi yang sama juga terjadi di daerah. Perolehan suara sementara dari hasil rekapitulasi internal masing-masing partai di Pemilu 2019, memperlihatkan nyaris semua kursi wakil rakyat dibagi habis oleh partai-partai besar. Sampai saat ini, untuk Pemilu DPRD NTB saja, diprediksi belum ada satu pun perwakilan dari partai gurem yang berpeluang meraih kursi.

Melihat fenomena tersebut, pemerhati politik dari Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram, Ihsan Hamid kepada Suara NTB mengatakan, ada banyak alasan mengapa partai kecil dan baru sangat sulit menembus masuk parlemen.

Salah satu yang paling fundamental yakni soal ideologi. ‘’Identitas partai baru ini masih sangat lemah, seperti platform ideologinya, program unggulannya, dan tokoh-tokoh yang dimilikinya belum populer di tengah masyarakat,” katanya kepada Suara NTB, Jumat (26/4).

Dari sisi infrastruktur politik, parpol baru sangat jauh dari partai lama. Menurut Ihsan, saat parpol lama memiliki sistem kelembagaan yang kuat hingga ke daerah, namun partai baru masih rapuh. Hal ini kemudian menyebabkan program konsolidasi tidak berjalan maksimal.

Baca juga:  Safari Ramadhan di Dompu, Gubernur Apresiasi Sikap Warga di Pemilu 2019

‘’Kemudian diperparah dengan pengalaman politik atau jam terbang dalam dunia politik sangat minim. Bagi parpol dan Caleg, partai baru tentu tidak seberpengalaman dan sekuat jaringan Caleg lama. Caleg-caleg baru belum banyak menguasai strategi untuk memenangkan perebutan suara di akar rumput,’’ jelas Ihsan.

Begitupun dari sisi pembiayaan. Caleg dari parpol baru sebagian besar terutama di tingkat provinsi dan kabupaten/kota tak banyak menguasai  sumber logistik yang mendukung pertarungan politik.

Sementara di satu sisi kekuatan modal dan logistik seorang calon saat ini tak bisa dinafikan sangat menentukan menang-kalah di lapangan. Lebih-lebih saat menghadapi lawan yang notabene petahana di parpol lama yang kuat secara logistik.

‘’Caleg parpol baru rata-rata diisi oleh pendatang baru yang minim referensi ketokohannya dan track record yang belum jelas. Hal ini sangat berpengaruh dalam menarik minat pemilih. Berbeda dengan Caleg parpol lama yang rata-rata sebagian besar Calegnya merupakan calon incumbent di Dapil masing-masing, lebih jelas referensi ketokohannya, dedikasinya dan investasi politiknya,’’ ujar Ihsan.

Parpol kecil juga tak mampu membangun kekuatan basis di akar rumput. Berbeda halnya dengan parpol lama yang memiliki basis simpul suara pendukung yang sudah lama dibina dan dirawat dalam waktu yang sudah sangat lama dan panjang. Sementara parpol baru tidak memiliki cukup waktu dan kekuatan modal untuk membangun basis.

Baca juga:  Demokrat NTB Tolak KLB

‘’Membuat simpul wilayah basis dukungan dibutuhkan waktu yang cukup lama dan biaya yang tidak sedikit. Apalagi jika harus menggeser atau merebut basis pendukung parpol lama. Jadi wajar kemudian parpol baru masih kalah dalam banyak hal jika dibandingkan dengan parpol lama,’’ katanya.

Senada dengan Ihsan, pemerhati politik dari Universitas Muhammadiyah Mataram, Ayatullah Hadi juga mengungkapkan, dengan sistem multi partai yang diadopsi oleh Indonesia, partai politik kemudian sulit untuk membentuk diferensiasi ideologi dan gagasan.

‘’Sehingga banyak partai yang memiliki ideologi dan gagasan yang sama atau mirip. Sehingga membingungkan masyarakat untuk memilih berdasarkan pertimbangan ideologi dan gagasan,’’ katanya.

‘’Kedua, soal lama pendirian partai juga mempengaruhi. Partai yang baru berdiri kurang dikenal oleh publik. Sementara partai lama relatif lebih mengakar di masyarakat ditambah dengan infrastruktur partai yang lebih kuat,’’ sambungnya.

Kemudian pada Pemilu 2019 ini, dimanapun digelar serentak antara Pileg dan Pilpres kemudian memberikan pengaruh efek yang cukup besar atas keterpilihan parpol. Tidak heran kemudian jika partai yang dekat dengan Capres berhasil mendapatkan dukungan suara lebih dominan.

‘’Yang paling terasa adalah bagi partai baru, mendirikan partai saja susah apalagi memenangkan Pilpres,’’ pungkasnya. (ndi/aan)