Kisah Sumartini, TKW NTB yang Lolos Hukuman Mati dan Hafal Alquran 18 Juz

Sumartini  (Suara NTB/nas)

Mataram (Suara NTB) – Tenaga Kerja Wanita (TKW) asal Sumbawa NTB, Sumartini Binti M. Galisung berhasil dibebaskan dari ancaman hukuman mati di Arab Saudi. Wanita berumur 44 tahun ini telah dipenjara selama 10 tahun 6 bulan di Arab Saudi.

Sumartini divonis hukuman mati oleh pengadilan tingkat pertama di Arab Saudi pada 28 Maret 2010. Atas dakwaan melakukan sihir dan guna-guna terhadap keluarga majikan atas nama Ibtisam yang saat itu berumur 19 tahun.

Sumartini yang dikonfirmasi di sela-sela serah terima dari Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) ke Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) NTB, Kamis (25/4) siang mengaku dirinya sudah menjadi TKW ke Arab Saudi sejak 2007. Belum genap dua tahun bekerja, ia dituduh melakukan sihir terhadap saudara perempuan majikannya.

Saudara majikannya yang bernama Ibtisam menghilang selama 10 hari. Seminggu setelah Ibtisam kembali, Sumartini mengaku dituduh melakukan sihir terhadap saudara majikannya.

Sumartini mengaku disiksa dan disetrum agar mengakui bahwa dia melakukan sihir. Sumartini mengatakan diikat di sebuah tempat atau rumah kosong yang sepi selama satu bulan satu minggu.

‘’Karena saya disiksa dan disetrum, saya bilang iya. Tetapi bukti nggak ada. Saya dipukul, disetrum juga. Diikat di hutan jam 02.00 malam sendiri. Disekap di rumah kosong sendiri. Selama satu bulan satu minggu,’’ tuturnya.

Selama disiksa oleh majikannya, Sumartini mengatakan hanya diberi makan satu kali dalam sehari. Karena tidak tahan dengan siksaan yang dialami, Sumartini terpaksa mengatakan melakukan sihir. Padahal, dia tidak pernah melakukan sihir.

‘’Kalau dipenjara 10 tahun 6  bulan sampai hari ini. Kalau di penjara tak ada perlakuan apa-apa. Kecuali, hukuman dan cambukan 1.000 cambukan. Sakit juga sampai biru punggung saya.  Seribu cambukan itu selama 20 hari. Sehari itu 20 cambukan,’’ kenangnya.

Ia mengaku dicambuk dengan rotan seukuran ibu jari. Cambukan tersebut mulai dari punggung sampai badan bagian bawah. Selama 10,5 tahun di dalam penjara, ibu dua anak ini menghabiskan waktu dengan menghafal Alquran.

‘’Saya juga bekerja sebagai tukang bersih-bersih. Saya diberikan upah 450 riyal sebulan,’’ katanya.

Selain itu, setiap menghafal satu juz Alquran, Sumartini diberikan uang 300 riyal. Selama 10,5 tahun di dalam penjara, Sumartini mengatakan sudah hafal Alquran 18 juz.

‘’Saya alhamdulillah hafal 18 juz sekarang. Saya diberi 18 sertifikat. Ada tiga orang yang menguji hafalan  saya. Mereka semuanya orang dari luar penjara. Nilai hafalan saya tak pernah kurang 90,’’ sebutnya.

Sumartini mengaku bersyukur dapat bebas dari ancaman hukuman mati di Arab Saudi. Ia berterima kasih kepada pemerintah yang telah membantu membebaskan dirinya dari ancaman hukuman mati.

Sumartini bebas dari ancaman hukuman mati bersama satu TKW asal Karawang Jawa Barat atas nama Warnah Binti Warta Niing. Mereka berdua langsung dipulangkan ke Indonesia setelah keluarnya putusan pembebasan dari pengadilan tingkat banding di Arab Saudi. Sumartini dan Warnah tiba di Jakarta, Rabu (24/4). Selanjutnya, keduanya diserahterimakan kepada keluarga masing-masing oleh Kemenlu.

Pejabat Fungsional Direktorat Perlindungan WNI dan BHI Kemenlun Upi Dewi Marciana yang menyerahkan Sumartini ke Disnakertrans NTB mengatakan keduanya seharusnya bebas dari tahanan pada akhir 2018. Namun upaya hukum dari majikan yang masih keberatan dengan putusan bebas tersebut, keduanya masih ditahan sampai awal 2019.

‘’Upaya majikan untuk menghalangi pembebasan terus dilakukan hingga detik-detik menjelang pembebasan,’’ tutur Marciana.

Menghadapi upaya majikan tersebut, KBRI Riyadh tidak tinggal diam. Berbagai upaya dilakukan. KBRI menunjuk pengacara untuk memberikan pembelaan serta secara rutin memberikan pendampingan dan kunjungan kekonsuleran.

KBRI juga melakukan berbagai upaya pendekatan serta mengirimkan beberapa kali surat dan nota diplomatik kepada berbagai pihak di Arab Saudi. Termasuk kepada Gubernur Riyadh dan Raja Arab Saudi hingga akhirnya pada 21 April 2019, Gubernur Riyadh mengeluarkan surat putusan yang membebaskan keduanya dari tahanan.

Marciana mengatakan pada umumnya tuduhan sihir terjadi karena WNI yang bekerja di Arab Saudi membawa dari kampung halamannya benda-benda yang diduga oleh majikan atau aparat hukum Arab Saudi sebagai alat sihir, antara lain berupa jimat. Hal ini, kata Marciana, menunjukkan pentingnya mempersiapkan lebih baik WNI yang akan bekerja di luar negeri dengan pengatahuan dasar mengenai hukum dan budaya setempat.

Sementara itu, Kepala Disnakertrans NTB, Dr. M. Agus Patria, SH, MH mengatakan kasus ini dapat menjadi pelajaran. Pentingnya memberikan pengetahuan kepada TKI sebelum berangkat ke negara tujuan. Pemberian pengetahuan dan pemahaman mengenai adat istiadat dan hukum negara tujuan harus dilakukan sebelum pemberangkatan. Selain itu, untuk mencegah TKI ilegal, perlunya pencegahan mulai dari tingkat desa/kelurahan. (nas)