Tali Kapal Terlepas, Truk Tercebur ke Laut di Pelabuhan Lembar

Insiden saat sebagian badan truk tercebur ke laut di Pelabuhan Lembar, Senin, 22 April 2019. (Suara NTB/KMB)

Giri Menang (Suara NTB) – Insiden kecelakaan di laut kembali terjadi di lintasan penyeberangan Lembar –  Padangbai,  Senin dini hari, 22 April 2019.

Truk berukuran sedang yang dimuat kapal KMP Munic VII ini terjatuh ketika hendak bersandar di pelabuhan lembar. Insiden ini dipicu tali tross haluan kapal yang terlepas. Akibatnya, kapal bergerak maju sehingga sebagian badan truk tercebur ke laut.

Tak ada korban dalam insiden ini. Namun truk mengalami kerusakan.  Pihak otoritas pelabuhan dalam hal ini BPTD bersama instansi terkait pun telah melakukan penanganan di lokasi kejadian. Truk kemudian dievakuasi menggunakan bantuan alat. Sedangkan kapal diizinkan kembali meninggalkan dermaga.

Koordinator Satuan Pelayanan Penyeberangan BPTD wilayah Lembar Nelson Dalo mengatakan insiden  tersebut terjadi sekitar jam 03.46 dini hari saat kapal nyadar di Pelabuhan Lembar.

“Kejadian itu saat kapal bongkar muat dini hari tadi, penyebab tali tross (haluan) terlepas, sehingga kapal maju terus truk mundur dan  tercebur sebagian badan truk.  Tidak semua tercebur ke luat,” Kata Nelson. Truk ini, kata dia, diangkut kapal Munic 7, berangkat dari Padangbai dan tiba di pelabuhan Lembar dini hari sekitar pukul 03.46 wita. Kapal pun melakukan bongkar muat beberapa saat setelah tiba di pelabuhan lembar.

Saat dilakukan bongkar muat, jelas Neslon, tali tross atau haluan kapal terlepas sehingga kapal pun maju.  Saat bersamaan truk keluar dari kapal hampir setengah melewati jembatan penyeberangan.  Akibat kapal maju, jembatan pun turun dan bagian ujung hanyut ke laut, sehingga mengakibatkan truk bermuatan spandek ikut tercebur.

Untuk penanganan kejadian ini, pada pagi harinya pihaknya sudah mengevakuasi truk menggunakan alat bantu. Sedangkan Kapal sudah meninggalkan dermaga setelah melakukan bongkaran. Kejadian ini tidak menyebabkan kerusakan dermaga. Namun truk mengalami kerusakan. Truk ini sendiri berencana hendak mengangkut material ke Mataram.

Lebih jauh kata dia, soal evaluasi pihak BPTD terhadap sering kalinya terjadi insiden di laut di pelintasan Lembar-Padang bai, terkait pengawasan muatan ada di jembatan timbang.

“Kalau muatan yang berlebihan urusan di jembatan timbang,” jelas dia.

Khusus muatan kapal munic ini menurut dia normal karena berkisar 16 ton. Diakui muatan truk memang sering kali berlebihan dan melanggar batas maksimal ketinggian. Padahal Sebelum ke pelabuhan, muatan truk ini sendiri ditimbang dulu tonase dan tingginya di jembatan timbang Bertais.

Truk yang ditemukan melebihi standar tinggi dan berat, langsung diturunkan muatannya oleh pihak jembatan timbang. Namun terkadang diakuinya setelah ditimbang sopir truk  ini nakal mengisi muatan di perjalanan.

“Kalau sudah msuk pelabuhan kita kan tidak bisa menolak, seharusnya penindakan itu di jalan.  Truk yang melebihi kapasitas diturunkan muatan nya oleh jembatan timbang,” jelas dia.  Terkait sanksi dari BPTD terhadap oknum sopir nakal ini,  pihak BPTD kata dia tidak bisa memberikan sanksi sebab sanksi diberikan oleh jembatan timbang. (her)