Ratusan Ton Arang Tempurung Kelapa di Desa Bengkaung Diekspor

Potensi madu trigona dan wisata di desa Bengkaung kecamatan Batulayar yang belum digarap maksimal

Giri Menang (suara NTB) – Desa Bengkaung Kecamatan Batulayar memiliki potensi yang sangat besar, baik dari sisi potensi pengembangan madu trigona, wisata alam dan home industri pengolahan tempurung kelapa. Bahkan tempurung kelapa yang diolah menjadi arang ini telah dieksport ke luar negeri namun sayangnya tak teedeteksi oleh Pemda.  Pihak Pemdes setempat sangat berharap pemda menuport pengembangan semua potensi desa setempat agar menjadi alternative bagi wisatawan yang datang ke kawasan Senggigi. Desa ini bisa menjadi pilihan bagi wisatawan yang mungkin jenuh dengan pemandangan pantai.

Kepala Desa Bengkaung H Faizul Bayani, M.Pd menyayangkan pihak Pemda dalam hal ini Bappeda yang tidak memasukkan prioritas pengembangan kawasan wisata desa setempa. Padahal pihak Bappeda sendiri sudah turun meninjau potensi pengembangan madu trigona yang ada di desanya. Bahkan, pada Musrenbang kecamatan dan kabupaten, penataan kawasan wisata terpadu trigona masuk dalam prioritas.

“Sudah deal di Musrenbang kecamatan dan kabupaten bahwa pengembangan kawawasan wisata kami masuk priorotas, tapi saya kaget di musrenbang provinsi tidak dimasukkan dalam program prioritas baik provinsi dan kabupaten,”jelas dia.

Ia pun menelusuri dimana letak persoalannya, ternyata kata dia penyebabnya desa Bengkaung dianggap tak punya lahan. Padhal di desanya memiliki tanah pecatu seluas 6 hektar. Khusus pengembangan madu trogona ini saja pihkanya menyiapkan lahan 90 are, hampir 1 hektar. Sekretaris beppeda pun kata dia sudah turun melihat lokasi secara langsung. Rencana pengembangan kawasan ini kata dia terintegrasi dengan view diatas bukit seperti Puncak Bogor dan Lampung. Kemudian kata dia, di lokasi ini bisa dibuat semacam eco sport tourism dengan menyiapkan wahana outbon. “Tanah sudah disiapkan, tidak ada masalah, bahkan ada tanah warga yang sudah dibuatkan surat perjanjian kerjasama dan sebagainya,”jelas dia

Lebih jauh kata dia, ada 6 konsep besar pengembangan kawasan di desanya dimana madu trigona sebagai pemicunya. Target kedepan jelas dia, desa menyediakan wisata terintegrasi. Pertama dari madu, eko sport tourism unntuk wahana outbon, sepeda, paralayang. Kemudian ada wisata edukasi rekreasi, wisata budaya kerjaaan pra sejarah kerajaan Selaparang.

Potensi ini kata dia belum banyak disentuh, pihaknya sangat butuh bantuan pemda untuk menyusun grand desian sebab kalau mengandalkan desa tidak mampu.” Pemda harus melirik ini supaya mengangkat titik emas wisata Senggigi agar bisa berimbas terhadap wilyah sekitarnya. Sebab tidak ada daerah selain desa Bengkaung yang menyediakan wisata terintegrasi,”jelas dia.

Lebih lajut kata dia, selain potensi wisata dan madu desanya juga punya komoditi eksport berupa arang tempurung kelapa. Sejauh ini komoditi ini dieksport namun tak terdeteksi oleh pemda.  Dalam sebulan kata dia, tidak kurang 100 ton arang tempurung kelapa yang diekspor.

Ada yang dibawa rentenir ke hongkong, sebagian besar 25 ton per minggunya dibawa ke Bali. Disamping seluruh rumah makan dan restoran di Lombok, semua kebutuhan arangnya disuplai dari Desa Bengkaung untuk kebutuhan pembakaran ikan. “Eksport ini sudah sejak lama, tapi dilakukan oleh rentenir,”jelas dia.

Pihakya sudah komunikasi dengan BPKAD dan pihak terkait siap membantu pengembangan tempurung kelapa ini. Disamping pengembangan wisata, namun ada potensi polusi dari pembakaran arang ini sehingga menganggu pariwisata. “Kami punya konsep untuk mengatasi itu dengan membuat rumah pengarangan akan tetapi kami ndak punya dana besar. Sehingga pemda harus turun membantu. Karena untuk perencanaan, penataan kawasan dan mesin ini buruh biaya tidak sedikit,”jelas dia.

Pihaknya juga menginisasi sistem citydes, sebuah system informasi online desa yang terintegrasi untuk pengelolaan bumdes, wisata dan menyiapkan menu pemdes, kades sampai perngkat Desa, BPD serta organ desa lain. Pengeolaan keuangan juga dimasukkan dalam system dan progres yang dikerjakan desa per hari ada terekam dalam system ini.

“Kalau provinsi punya konsep simda, kami punya citydes, mereka masih rencana kami sudah aplikasi tahun ini,”jelas dia. Konsenya jelas dia, Ia ingin membuat desanya menjadi smart village. Seperti rencana pemd Lobar mengembangkan smart city. (her)