200 Pasien di RSUP NTB Gagal Salurkan Hak Suara

Ilustrasi (Pasien Rumah Sakit)

Mataram (Suara NTB) – Setidaknya 200 pasien di Rumah Sakit Umum Provinsi (RSUP) NTB gagal menyalurkan hak suara, lantaran pihak Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) hanya menyediakan empat lembar formulir A5. Agar kerugian sama tak terulang, pihak manajemen rumah sakit berharap disediakan Tempat Pemungutan Suara (TPS) Khusus.

Jumlah pasien yang menempati bangsal bangsal di RSUP NTB dalam catatan Kabid Keperawatan RSUP NTB H. Maksum SKM.,M.Si, mencapai 200 orang lebih. Jika ditotal dengan keluarga pasien dan petugas medis, jumlahnya  hingga 500 orang. Namun yang membuat manajemen kecewa, hanya empat orang diberi kesempatan mencoblos.

Pemilih di RSUP NTB masuk dalam catatan di TPS 8 Dasan Cermen, Kecamatan Sandubaya. Sejumlah petugas mendatangi rumah sakit sekitar pukul 13.30 Wita dan memberikan kertas suara untuk dicoblos.

‘’Jumlah semuanya sekitar lima ratusan. Cuma dikasi empat orang kertas suara.  Bagaimana bisa disebut representasi demokrasi yang kita tunggu tunggu kalau yang terjadi seperti ini?. Ini kan soal hak pilih masyarakat di sini,’’ keluh Maksum siang kemarin.

Baca juga:  Polda Tambah Personel Amankan Rekapitulasi Suara

Mekanisme yang diterapkan KPU sebagai penyelenggara menurutnya harus diubah agar memberi kelonggaran kepada para pasien dan keluarga, bisa menyalurkan hak pilih. Sebab pasien dan keluarga banyak  berasal dari luar daerah  sehingga tidak memungkinkan menggunakan hak pilih, kecuali difasilitasi di rumah sakit setempat.

“Petugas kami juga, ketika piket tidak mungkin meninggalkan pasien. Makanya, seharusnya ada solusi bisa mencoblos di rumah sakit,” kata Maksum.

Ditambahkan Kasubag Humas RSUP NTB Solikin, kondisi di rumah sakit tidak ada yang berubah tiap penyelengaraan Pemilu. Seharusnya penyelenggara, kata dia, sudah memahami dan memfasilitasi untuk pemilihan.

“Kita sudah sampaikan kepada KPU, ini kan masalah berulang ulang tiap Pemilu. Tapi surat resmi KPU yang menyerahkan form A5 untuk pasien baru kami terima kemarin (Selasa, red),” ungkapnya. Itu pun, lanjut dia, hanya empat formulir untuk pemilih yang tercatat, dari 200 pasien dan 300 keluarga serta petugas medis.

Baca juga:  Rekapitulasi Perolehan Suara Caleg Bima Tertukar di Mataram

Memang, di rumah sakit tidak termasuk dalam TPS yang tercatat resmi, tidak juga terdapat Daftar Pemilih Tetap (DPT) karena pasien sifatnya bergerak . Tapi ia yakin, mekanisme di KPU dapat memudahkan bagi para pasien untuk memilih, misalnya hanya dengan menggunakan KTP.

Dalam masalah ini pihaknya memang tidak punya kewenangan intervensi, karena hanya sebagai sasaran pemungutan suara.  Tapi ia tetap berharap harus ada solusi.’’Harapan kami, harus ada mekanisme sendiri, yang pasti kita akan persiapkan semuanya. Jadikan rumah sakit kita ini sebagai TPS khusus. Kami siap support,’’ katanya.

Absen berpartisipasi dalam pesta demokrasi lima tahunan itu dirasakan Ismail (34), warga Desa Nowa Kabupaten Dompu. Ia membawa pasien kecelakaan  atasnama Baharudin, berikut ada empat anggota keluarganya yang ikut menemani. Sehingga ada enam  orang termasuk dirinya gagal mencoblos. (ars)