2.918 Hektar Tambak Garam di Bima Belum Dimanfaatkan

Bupati Bima, Hj. Indah Dhamayanti Putri bersama perwakilan Kemenko Perekonomian mengecek garam rakyat hasil produksi petani garam Kabupaten Bima di Gedung Seni Budaya Kota Bima, Sabtu, 13 April 2019. (Suara NTB/Uki)

Bima (Suara NTB) – Bupati Bima, Hj. Indah Dhamayanti Putri SE, mengatakan potensi luas tambak garam rakyat di di Kabupaten Bima saat ini mencapai 4.700 lebih hektar. Tapi baru sebagian kecil yang dikelola.

Hal itu disampaikan Bupati Bima, saat penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR)  Garam Rakyat bagi petani garam Kabupaten Bima oleh Kemenko Perekonomian bekerjasama dengan sejumlah Bank di Bima, di Gedung Seni Budaya Kota Bima, Sabtu, 13 April 2019.

Diakuinya, dari luas tambak 4.700 lebih hektar tersebut yang baru dikelola secara intensif baru 1.782 hektar atau kisaran 30 persen dengan menghasilkan 145.000 ton garam kualitas premium. “Sementara sisanya yakni 2.918 hektar atau 70 persen belum dikelola dengan baik karena lahan masih berkualitas rendah,” katanya.

Baca juga:  Perkuat Ekspor Non Tambang, NTB Perkaya Hasil Perikanan Budidaya dengan Teripang dan Kepiting

Bupati mengakui, petambak garam menghadapi sejumlah persoalan pokok. Antara lain, sarana Infrastruktur saluran irigasi dan jalan usaha tani yang belum memadai. Hal ini menyebabkan terhambatnya distribusi hasil produksi garam.

Baca juga:  Perkuat Ekspor Non Tambang, NTB Perkaya Hasil Perikanan Budidaya dengan Teripang dan Kepiting

“Disamping itu, harga garam tidak stabil serta belum adanya perusahaan garam yang mau membeli langsung garam di Bima,” katanya.

Menurutnya, para petani garam saat ini membutuhkan gudang penyimpanan produksi garam yang memadai agar produksi tetap terjaga dan harga tetap bisa stabil. Selain itu ada upaya meningkatkan kualitas garam menjadi K-1.

“Produksi garam di Kabupaten Bima masih bersifat tradisional. Tapi secara bertahap dari tahun ke tahun antara lain melalui penggunaan teknologi geo-isolator,” katanya. (uki)