Pemprov Koordinasikan Pemulangan Ratusan Korban TPPO Asal NTB

Ahsanul Khalik (Suara NTB/dok)

Mataram (Suara NTB) – Pemprov NTB masih berkoordinasi dengan Kementerian Sosial (Kemensos) untuk pemulangan 200 warga NTB yang menjadi korban Tindak Pidana Pendagangan Orang (TPPO). Dari 200 warga NTB yang diduga menjadi korban, Pemprov mengaku masih belum mendapatkan data detailnya.

‘’Kita sudah komunikasikan dengan Kemensos. Belum  ada penyerahan korban ke Kemensos,’’ kata Kepala Dinas Sosial (Disos) NTB, H. Ahsanul Khalik, S. Sos, MH dikonfirmasi Suara NTB, Rabbu, 10 April 2019 siang.

Khalik menjelaskan, untuk pemulangan warga NTB korban TPPO tersebut, lembaga-lembaga yang ada di pusat akan berkoordinasi dengan Kemensos. Setelah dilakukan asessment dan pemulihan, barulah mereka akan dipulangkan ke daerah.

Sampai saat ini, lanjut Khalik, pihaknya belum mendapatkan informasi dari Kemensos perihal pemulangan warga NTB tersebut. Karena kasus tersebut masih ditangani Kepolisian. ‘’Baru sepintas mengatakan (korban) terbanyak dari Sumbawa, NTB,’’ katanya.

Baca juga:  Jaringan Transnasional TPPO Suriah Belum Terungkap

Khalik menambahkan,  setelah korban dipulangkan ke daerah, biasanya akan ditampung dulu di Rumah Perlindungan dan Trauma Center (RPTC) NTB yang berada di Mataram. Mereka tidak langsung dipulangkan ke kampung halaman.

‘’Nanti pasti di RPTC dulu baru didampingi petugas Disos sampai rumah mereka,’’ jelasnya.

Badan Reserse dan Kriminal Polri mengungkap empat jaringan pelaku tindak pidana perdagangan orang yang menyalurkan korban ke Maroko, Turki, Suriah dan Arab Saudi. Sebanyak 1.200 orang menjadi korban,  termasuk dari NTB.

Direktur Tindak Pidana Umum Bareskrim Polri Brigjen Pol Herry Rudolf Nahak di Gedung Mabes Polri, Jakarta,  mengatakan tersangka jaringan Maroko yang ditangkap di NTB bernama MU dan FA merekrut korban dari NTB dan Jakarta.

Baca juga:  TKW Korban Kebakaran di Arab Saudi Tak Terima Asuransi

Rute perjalanan dalam menyalurkan korban adalah dari Sumbawa dibawa ke Jakarta, kemudian ke Batam untuk memasuki Malaysia, baru ke Maroko.

Pekerja migran Indonesia yang berangkat nonprosedural terungkap saat korban mengalami persoalan, seperti kekerasan, perkosaan, tidak dibayar gaji, baru TKI kabur ke KBRI atau konjen menyampaikan persoalannya.

Untuk jaringan Turki, tersangka yang ditangkap di NTB juga dua orang, yakni ER serta Sal yang juga merekrut korban dari NTB dan Jakarta. Rute penyaluran korban dari NTB ke Jakarta menuju Oman dan berakhir di Istanbul. (nas)