Juni, Tambora Jadi Cagar Biosfer Dunia

Gunung Tambora (Suara NTB/aan)

Mataram (Suara NTB) – Setelah menjadi geopark nasional pada November 2017, Gunung Tambora akan segera ditetapkan menjadi cagar biosfer dunia. Pada Juni mendatang, rencananya Tambora akan menjadi cagar biosfer Unesco.

‘’Insya Allah Juni tahun ini, Tambora akan menjadi cagar biosfer dunia,’’ kata Kepala Bappeda NTB, Ir. H. Ridwan Syah, MM, M. Sc, M.TP dikonfirmasi Suara NTB, Selasa, 9 April 2019 siang.

Cagar biosfer merupakan sebuah branding yang sama persis dengan geopark dunia  atau nasional. Pengakuan dunia bahwa kawasan itu memang layak dilabeli sebagai cagar biosfer, karena sudah memperhatikan prinsip substainable. Jika telah dicanangkan sebagai cagar biosfer maka ada harapan terjadinya peningkatan laju kunjungan wisatawan ke Tambora.

Ridwan menambahkan, Pemprov juga mengusulkan Tambora menjadi geopark dunia tahun ini. Ditargetkan, pada 2020 mendatang, Tambora sudah menjadi salah satu anggota Unesco Global Geopark (UGG).

Pada tahun lalu, Wakil Presiden Unesco Global Geopark, Prof. Dr. Ibrahim Komo sudah mengunjungi Tambora dan sejumlah geosite di sekitarnya. Saat kunjungan tersebut, Unesco  memberikan respons sangat positif.

Konservasi, edukasi dan pengembangan ekonomi masyarakat merupakan pilar geopark. Taman nasional Gunung Tambora memiliki ketiganya untuk dikembangkan.

Apalagi sejarah letusan Gunung Tambora yang mendunia pada 1815 meninggalkan warisan geologi, warisan budaya dan flora – fauna yang memiliki nilai universal.

Apabila  dikelola dengan baik akan membawa manfaat tidak saja bagi Tambora dengan terjaganya kelestarian, tapi juga kemanfaatan bagi masyarakat sekitar.

Pejabat Unesco Global Geopark tahun lalu berkunjung ke Sanggar, Tambora dan sejumlah geosite seperti Doro Bente, Doro Ncanga hingga Pulau Satonda membuat keyakinan yang besar kepada tim Unesco bahwa Tambora punya potensi yang luar biasa.

Prof. Dr. Ibrahim Komo berkunjung  pada 19 – 21 Juli 2018. Hadir juga  Advisory Committee Member of Asia Pasific Geoparks Network (APGN), Dr. Hanang Samudra. Kunjungan tersebut  dalam rangka melihat dari dekat geopark nasional Tambora karena rencananya akan diusulkan menjadi anggota UGG.

Gunung Tambora  cukup dikenal dunia dengan sejarah letusannya. Gunung Tambora menjadi 5 terbaik dari 127 gunung berapi di Indonesia, dan 20 terbaik gunung berapi di dunia.

Ridwan menjelaskan pada 2019 ini, fokus pengembangan geopark Tambora adalah pengembangan geosite dan pengelolaan geosite. Pengembangan geosite Tambora antara lain akses masuk, area penerimaan, situs dan area transisi. Sedangkan pengelolaan geosite Tambora meliputi atraksi, akomodasi, transportasi dan geoproduk.

Ia mengatakan, Tambora ditetapkan menjadi geopark nasional pada November 2017 dengan luas 2.130 Km persegi. Meliputi dua kabupaten, yakni Bima dan Dompu. Terdiri dari empat kecamatan, yakni Kempo, Pekat, Tambora dan Sanggar.

Pada tahun 2018, luas geopark Tambora bertambah menjadi 3.681,65 km persegi. Meliputi dua kabupaten, Bima dan Dompu. Kemudian lima kecamatan dan 45 desa. Tahun 2019 ini, geopark Tambora rencananya akan diperluas pada tiga kabupaten, 12 kecamatan dan 105 desa. (nas)