19.596 Korban Gempa Belum Terima Buku Rekening

Galian pondasi rumah warga di Dusun Ceret Mas, Desa Mantang Kecamatan Batukliang Utara terpaksa dihentikan karena uang belum bisa dicairkan. (Suara NTB/ist)

Mataram (Suara NTB) – Belasan ribu masyarakat terdampak gempa gagal melanjutkan pembangunan rumah  lantaran belum menerima buku rekening. Data fasilitator Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) NTB, sedikitnya 19.596 buku rekening yang belum dibagikan akan diserahkan bertahap.

Informasi itu disampaikan Wakil Ketua II Pengendali Kegiatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascagempa NTB, Hadi Santoso, ST.,MM melalui Kepala Pelaksana BPBD NTB Ir. H. Mohammad Rum, MT, Minggu, 7 April 2019.  Dampaknya, masyarakat yang sudah mulai membangun, terpaksa menghentikan kegiatan. Alih alih bisa mencairkan, buku rekening belum dikantongi. Faktor ini disebutnya sebagai penghambat.

‘’Kami sampaikan, buku rekening 19.594  yang belum dibagi oleh BRI,’’ kata Rum. Hambatan ini disampaikan sebelumnya saat rapat terbatas dengan Wakil Gubernur (Wagub) NTB Hj. Sitti Rohmi Djalilah bersama pihak BRI, BPBD dan sejumlah pihak terkait, Jumat, 5 April 2019 lalu.

Pihaknya terus membangun koordinasi dengan BRI untuk mempercepat pembagian rekening, sehingga mengurangi hambatan. Sebab aplikator untuk rumah rusak berat sudah siapkan bahan, termasuk toko bangunan untuk rumah rusak sedang dan ringan, hanya tinggal tunggu pencairan.

Laporan lain diterimanya dari fasilitator di lapangan, BRI di tingkat unit menetapkan overbooking penarikan hanya Rp500 juta. Sehingga proses pengerjaan rumah rusak pun terhambat. Padahal, kata Rum, Pokmas bisa mencairkan sampai Rp2 miliar. ‘’Batas maksimal pencairan Rp500 juta ini bisa kami tunjukkan berita acaranya di Gerung dan Kediri,’’ sebutnya.

Baca juga:  BMKG Pasang Tiga ‘’Shelter’’ untuk Monitor Gempa

Masih terkait BRI, saldo Rp20.000 yang tidak bisa dilakukan pendebitan. Padahal sesuai ketentuan Pokmas, harus mencairkan 100 persen. Jika ini terus berlanjut, maka dikhawatirkan akan menjadi temuan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK).

Mengutip penjelasan pihak BRI,  rekening yang belum dibagi akibat sejumlah kendala dari masyarakat. Saat proses pembagian buku tabungan, masyarakat tidak ada di tempat. Namun pihak BRI berjanji akan melakukan pembagian bertahap. Untuk Mataram akan dibagi 4.100 buku rekening, Lombok Barat 362 buku, Lombok Utara  343 buku, Lombok Tengah 9.695 buku, Lombok Timur  668 buku, Sumbawa Besar 1.746 buku dan  Kabupaten Sumbawa Barat 8 lembar buku.

Sementara soal saldo mengendap, alasannya agar buku rekening bisa digunakan untuk keperluan lain. Namun BRI berjanji akan mencairkan 100 persen. Mengenai overbooking, diakui limit pencairan Rp500 juta. Jika lebih, harus dilakukan reservasi beberapa hari sebelumnya sebab berkaitan dengan ketersediaan kas.

Sementara informasi diperoleh Suara NTB, rekening yang belum dibagi berdampak tertundanya proses pembangunan. Padahal kepala keluarga (KK) penerima bantuan sudah dilakukan validasi.

Masalah itu diungkapkan Nanang  Ketua Pokmas di Dusun Ceret Mas, Desa Mantang Kecamatan Batukliang Utara Lombok Tengah. Ada 10  penerima bantuan Rp50 juta per KK, namun ketika diajukan ke BRI, mereka gigit jari. “Kita mau melakukan pendebetan dari rekening masyarakat ke Pokmas, tidak bisa. Lah, kami heran, kan uangnya sudah ada,’’ kata Nanang heran.

Baca juga:  15.069 Korban Gempa di Kota Mataram dan KSB Segera Terima Jadup

Sesuai arahan fasilitator BPBD dan Rekompak, syarat sudah dilengkapi sehingga tidak ada lagi celah  penolakan.

Seperti surat keterangan dari kepala dusun, surat keputusan dari desa, surat validasi dari Dinas Perkim, surat rekomendasi dari BPBD, rekening pribadi, nomor rekening Pokmas, SK Pokmas dan Korwil Desa.

Setelah semua syarat dilengkapi, atas izin dari fasilitator dan Rekompak, material diambil dari toko bangunan. Jenis material pun diambil jenis batu, pasir, bata, besi dan semen. Nilai material untuk 10 KK itu sudah mencapai Rp50 juta. Sejumlah tukang pun dipekerjakan untuk menggali pondasi. ‘’Tapi pas cairkan uang, malah uangnya tidak ada. Bagaimana kami ini? Kasihan warga yang dapat bantuan, belum bisa dibangunkan rumahnya. Pemilik toko juga nagih terus,’’ protesnya.

Nanang sangat berharap segera ada solusi, terutama soal pencairan. Jangan sampai, kata dia, batas pencairan tanggal 12 April mendatang, uang masyarakat di sana belum juga didebit.  ‘’Kami khawatir uang masyarakat itu hangus,’’ ujarnya mengingatkan. (ars)