Dialog Berkesan Dr.Zul dengan Napi Kasus Pembunuhan di Lapas Mataram

Lukisan karya Joni Mardiansyah (Suara NTB/aan)

Mataram (Suara NTB) – Ada sejumlah fragmen berkesan dari edisi spesial Jumpa Bang Zul dan Umi Rohmi (Jangzulmi) di Lapas Kelas IIa Mataram, Jumat, 5 April 2019. Salah satunya adalah saat Gubernur NTB, Dr. H. Zulkieflimansyah, SE, M.Si, berdialog dengan salah seorang narapidana.

Sang narapidana, Joni Mardiansyah menjadi pusat perhatian warga binaan dan tamu yang hadir. Joni adalah penghuni Lapas yang membuat lukisan Gubernur NTB dengan sang istri, Hj. Niken Saptarini Widyawati Zulkieflimansyah.

Lukisan itu tampaknya dibuat dengan baik. Gubernur dan istri tampak padu dan mesra. Duduk berdua, bersila. Keduanya saling berpegangan tangan. Sama-sama mengulas senyum lepas.

Di awal acara Jangzulmi,  karya Joni inilah yang menjadi cinderamata dari Kepala Lapas Mataram, Tri Saptono Sambudji, Bc.IP, SH, M. Ap, untuk Gubernur NTB.

Acara kemudian berlanjut dengan sesi dialog dengan para penghuni Lapas. Selama sekitar satu jam, gubernur yang hadir dengan hampir seluruh pimpinan OPD, mendengarkan keluh kesah Kepala Lapas beserta para penghuni Lapas.

Berbagai aspirasi disampaikan, misalnya kapasitas Lapas yang tidak mencukupi lagi. Tri Saptono mengutarakan, hingga hari itu, jumlah penghuni Lapas Kelas II A Mataram mencapai 960 orang. Sementara, Lapas Perempuan Kelas III Mataram menampung 66 orang.

‘’Dengan kondisi demikian, over kapasitas hampir 350 persen. Karena kapasitas (Lapas) ini 300,’’ sebut Tri Saptono.

Tak hanya aspirasi menyangkut kapasitas Lapas yang tingkat kepadatannya sudah sangat jauh melampaui daya tampung. Aspirasi lain juga disampaikan oleh para penghuni Lapas. Diantaranya mengenai kebutuhan sarana olahraga, seperti kebutuhan tambahan satu unit meja untuk tenis meja.

Gubernur yang mendengar masukan ini, sontak langsung memerintahkan Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga NTB, Ir.Hj. Husnanidiaty Nurdin, MM untuk menyiapkan dua unit meja tenis meja.

Baca juga:  Tindaklanjut Lawatan ke Australia, Gubernur Bekali ASN Peserta Kursus Kebencanaan di Darwin

Keluhan lain adalah menyangkut kebutuhan tenaga ustad atau ustadzah untuk menunjang aktivitas Ponpes yang sedang dibangun di Lapas Mataram. “Pondokannya sudah ada. Makan minum sudah kita siapkan. Hanya program dan ustadnya yang masih kurang, Bu Wagub,’’ ujar Tri Saptono.

Sejumlah penghuni wanita, juga menyampaikan aspirasi menyangkut perlunya penyediaan fasilitas untuk berkarya. Seperti mesin jahit, peralatan rajut, hingga penyediaan akses pemasaran. Dengan adanya akses pemasaran, warga binaan yang menghasilkan karya selama di Lapas, akan bisa mendapatkan pendapatan dari karya mereka.

“Bagaimanapun kita butuh income. Kita butuh yang memasarkan hasil karya kita, karena kita di dalam tidak bisa memasarkan ke luar,” ujar salah seorang penghuni Lapas perempuan.

Terkait masukan para penghuni Lapas, khususnya penghuni perempuan, Wagub NTB, Hj. Sitti Rohmi Djalilah pun berkesempatan memberikan tanggapannya. Ia menegaskan, aspirasi yang diperoleh dari pertemuan dengan para penghuni Lapas ini akan diresponsnya.

Di  penghujung acara, gubernur yang akran disapa Dr. Zul tiba-tiba meminta penghuni Lapas yang membuat lukisannya untuk tampil ke depan. Rupanya, Dr. Zul penasaran ingin berbicara langsung dengan sosok yang membuat lukisan dirinya dan sang istri.

Sang narapidana, Joni Mardiansyah pun tampil ke depan, diiringi riuh sorak sorai para rekannya. Sosok Joni pun sejak awal langsung membuat gubernur terkesan. Ia tampil dengan mengenakan kopiah rajutan, baju koko dan jenggot yang cukup panjang.

‘’Ini kalau lihat penampilannya ustad. Luar biasa ini. Ini saya lihat hasil karyanya tidak kalah dengan hasil yang ada di Jakarta bahkan di luar negeri sekalipun,’’ puji gubernur sembari menanyakan darimana ia memperoleh bahan untuk menghasilkan karya.

Baca juga:  Koneksikan NTB-Darwin, Gubernur Ajak Warga NTB Bermimpi Besar

Joni menjelaskan, lukisan yang ia buat tersebut berasal dari limbah. Gubernur tampak semakin antusias. “Kita pakai sisa palet. Untuk media gambarnya sendiri kita pakai triplek. Finishingnya kita pakai klir,” imbuh Joni.

“Indah sekali,” ujar Dr. Zul menimpali. ‘’Insya Allah lukisan itu saya beli dengan harga Rp5 juta. Dan untuk Mas Joni, supaya bagus dan kita menghargai hasil karyanya dan juga kita memotivasi teman-teman yang lain supaya bisa melukis seperti itu,’’ sambungnya.

Selanjutnya, Dr. Zul pun menganjurkan agar semua kepala dinas lingkup Pemprov NTB dibuatkan lukisannya oleh Joni. Termasuk Wagub dengan keluarga. ‘’Tapi jangan sampai salah fotonya, jangan ambil foto di Google,’’ selorohnya yang disambut tawa para penghuni Lapas.

Dr. Zul juga berharap, Dinas Perindustrian bersama Dinas Koperasi dan UMKM NTB bisa membantu memfasilitasi kebutuhan Joni untuk lebih produktif dalam berkarya. ‘’Pak Joni, mudah-mudahan kita semua OPD memesan (lukisan), supaya kepala-kepala dinas itu dipesankan lukisan yang bagus. Nanti kita adakan pameran untuk mas Joni,’’ ujar Dr. Zul.

Di akhir dialog, barulah Dr. Zul menanyakan kasus apa yang membuat Joni harus menjadi penghuni Lapas. Joni menjawabnya tanpa ragu. “Pembunuhan Pak,’’ jawabnya.

Di akhir dialognya, Dr. Zul pun mengutarakan harapannya agar pertemuan tersebut bisa melahirkan manfaat bagi para penghuni Lapas. “Mudah-mudahan dengan kita transendensi di sini, ada satu hikmah yang kita dapatkan,’’ harapnya. (*)