Taufik, Disabilitas Penyelamat Turis Malaysia di Lingkaran Kemiskinan

Taufik (12) duduk di samping Rumeni (60) nenek yang membesarkannya di gubuk Dusun Lendang Cempaka, Desa Senaru Kecamatan Bayan, KLU. (Suara NTB/ars)

Tanjung (suarantb.com)Tidak hanya keterbatasan secara fisik, Taufik (12) juga hidup dalam lingkungan keluarga yang penuh keterbatasan ekonomi. Tapi di balik itu, jiwa sosialnya tumbuh alami. Aksi heroiknya yang membantu penyelamatan wisatawan Malaysia saat tragedi longsor Minggu 17 Maret 2019 lalu bagian dari kisah dermanya.

—–

Hujan tumpah sekitar Pukul 11.15 Wita Sabtu, 23 Maret 2019 saat ambulans desa menyusuri jalan aspal menuju Dusun Lendang Cempaka Desa, Desa Senaru Kecamatan Bayan, Kabupaten Lombok Utara (KLU). Tiba di sebuah gubuk pinggir jalan, Taufik cekatan melompat keluar dari dalam Ambulans dituntun sepupunya Renawadi menghindari guyuran hujan. Kepala Dusun Lendang Cempaka, Sarwan menyusul. Sekitar satu jam lalu,mereka bertolak dari Rumah Sakit Umum Provinsi (RSUP) NTB, mengantar Taufik menjalani pemeriksaan awal kondisi fisiknya atas tanggungan Global Peace Mission Malaysia hingga proses operasi pemulihan. Sebuah lembaga sosial yang menyebutnya sebagai pahlawan karena membantu menuntun turis Malaysia keluar dari kawasan longsor air terjun Tiu Kelep.

Sejumlah teman sebayanya menyambut riang. Warga lainnya satu per satu berdatangan ke gubuk. Suhu dingin di perkampungan sekitar kaki Gunung Rinjani itu terasa hangat dengan guyubnya suasana kekeluargaan.

Taufik menujuk ke arah bagian ambulans. Renawadi segera mengerti. Lima buah durian yang dibeli dari taman wisata Pusuk diturunkan dan dibelah. Taufik menyantap lahap. Sejenak santapannya berhenti, tangan kanannya menjulurkan biji durian yang masih utuh kepada Renawadi, sepupunya yang paling fasih cara berkomonikasi dengan bahasa isyarat.

Kebiasaan Taufik rupanya seperti itu. Tidak nikmat rasanya ketika menyantap sendiri makanan. Ia selalu berbagi, bahkan kepada hewan sekalipun. “Tadi saja waktu di Pusuk, dia suruh ambulans berhenti. Dia turun kasi monyet biji durian. Ndak dilempar kayak pengunjung lain. Biji durian dikasi langsung ke monyet,” kata Renawadi tentang perilaku adik sepupunya yang murah hati dan suka berbagi itu.

Satu buah durian yang tersisa diberikannya kepada Rumeni (60), sang nenek yang membesarkannya selama ini di sebuah gubuk di Dusun Lendang Cempaka.

Rumeni membesarkan Taufik sejak masih bocah dengan sabar, meski mengalami keterbatasan fisik bawaan sejak lahir. Kedua orang tuanya bercerai dan masing masing menikah lagi dan membiarkan Taufik tinggal bersama neneknya yang tak lagi mampu bergerak mencari nafkah. Di gubuk ukuran 4 x 6 meter berlantai tanah itu, Rumeni merawat empat cucunya yang lain.

Taufik sebagai cucu paling besar praktis merasa harus jadi tulang punggung di gubuk itu. Pilihannya hanya menjadi relawan pemandu wisata bersama teman sebayanya. Upah dan tarif tentusaja tidak dipatok. Taufik hanya menerima ketika ada wisatawan yang mau memberinya uang. Tidak heran kadang pulang dengan tangan kosong, tapi selebihnya menerima upah puluhan hingga Rp 100.000 lebih. Semua uang yang didapat diberikan kepada neneknya untuk belanja kebutuhan dapur. Begitu seterusnya.

“Kalau dia dapat uang, dia kasi ke saya untuk belanja. Kadang Rp 20.000, kadang juga lebih,” kata Rumeni dalam aksen Sasak. Dengan pendapatan tidak seberapa itu, bagi Rumeni amat berharga karena ia tetap bisa memasak untuk cucu cucu kesayangannya.

Keluarga Rumeni masuk dalam 32,06 persen catatan Badan Pusat Statistik (BPS) warga miskin di KLU. Rumeni juga masuk dalam rekap data warga miskin di Desa Senaru Kecamatan Bayan yang mencapai 5.533 jiwa dari jumlah penduduk 7.436 jiwa.

Situasi pelik dialami Taufik dan keluarganya itu dibenarkan Kadus Lendang Cempaka Sarwan. “Memang betul, dia keluarga miskin,” kata Sarwan akhir pekan kemarin.

Sejak beberapa tahun lalu Rumeni tercatat sebagai penerima bantuan beras sejahtera (Rastra) yang dibagikan Pemerintahan Desa (pemdes) Bayan. Sempat diusulkan menerima pundi bantuan lain dari Program Keluarga Harapan (PKH), tapi terbentur perasyarat administrasi. “Syarat harus ada cucu cucunya ini yang sekolah dan masuk dalam Kartu Keluarga (KK) Nenek Rumeni. Itu syaratnya. Ada yang tinggal di sini masih sekolah, tapi ikut di kartu kelurga ibunya yang jadi TKW,” tutur Sarwan.

Sebagai kepala dusun ia juga berusaha mengakses bantuan lain. Untungnya organisasi kemanusiaan United Nations Children’s Fund (Unicef) pernah menyalurkan bantuan berupa uang Rp 4 juta. Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) lokal, Endri Foundation juga pernah beberapa kali menyalurkan bantuan.

Sejak tragedi yang merenggut nyawa dua wisatawan Malaysia dan sahabat karibnya Tomy Albayani (14), Taufik belum mengisyaratkan kembali, apalagi spot wisata itu sudah ditutup sementara. Praktis belum ada sumber penghasilan.

Beruntung Global Peace Mission Malaysia menaruh perhatian pada Taufik untuk biaya pengobatan dan upaya pemulihan dari keterbatasan fisiknya, termasuk untuk rencana operasi pita suara dan indera pendengarannya yang tak berfungsi akan berusaha dibuat normal. Sarwan bertanggungjawab untuk menemani selama proses operasi. Senin, 25 Maret 2019 Taufik kembali menjalani pemeriksaan medis.

Keluarganya dengan segala keterbatasan tetap berbesar hati sembari terus berdoa untuk kesembuhan Taufik agar segera keluar dari status disabilitas. Mereka ingin melihat Taufik mengenakan seragam sekolah, menempuh pendidikan normal dan ceria seperti anak anak sebayanya. “Mudah mudahan dia sembuh dan bisa sekolah,” begitu doa dan harapan Renawadi. (ars)