Kisah Taufik, Bocah Disabilitas asal Lombok Utara, Jadi Pahlawan Warga Malaysia

Taufik foto bersama korban longsor air terjun Tiu Kelep dan relawan Global Peace Mission Malaysia (Suara NTB/ars)

Mataram (Suara NTB) – Duduk di deretan meja paling depan, ekspresi Taufik datar meski beberapa kali applause dan namanya dielu elukan oleh korban tragedi air terjung Tiu Kelep, Desa Senaru, Kecamatan Bayan, Kabupaten Lombok Utara (KLU). Sorot perhatian seisi aula pertemuan di Gedung Rumah Sakit Umum Provinsi (RSUP) NTB mengarah padanya, Kamis 21 Maret 2019.

“Bagi kami adek Taufik (7) adalah pahlawan,” kata Wong Siew Lim, salah seorang korban selamat dari longsor Air Terjun Tiu Kelep beberapa saat setelah gempa Minggu 17 Maret 2019 lalu. Di hadapan Bupati Lombok Utara H. Najmul Akhyar, utusan kedutaan Malaysia Ishak, Direktur RSUP NTB Lalu Hamzi Fikri, Wong memberi kesaksian betapa ikhlasnya orang orang yang membantu menyelamatkannya, termasuk bocah Taufik.

Wong Siew Lim saat kejadian dengan sisa sisa tenaganya berjalan tertatih menjauh dari reruntuhan bongkahan batu cadas. Sejumlah luka di beberapa bagian tubuhnya. Taufik mengulurkan tangan, menuntunnya terus menjauh melalui jalur evakuasi keluar dari kawasan Air Terjun. “Taufik adalah malaikat buat saya,” mata Wong Siew Lim berkaca kaca.

Tepuk tangan riuh. Pelepasan para pasien korban gempa itu dibalut suasana haru. Taufik tetap duduk santai di posisinya, sesekali tertunduk didampingi Nawarin, pamannya. Taufik memang sengaja dihadirkan dalam prosesi perpisahan dengan para korban, sisa dari total 27 orang yang dijemput utusan kedutaan Malaysia.

Baca juga:  Pekan Ini, Korban Gempa di Kota Mataram dan KSB Terima Jadup

Dengan keterbatasan secara fisik, meski tak bisa mendengar dan berbicara, Taufik menjadi pembeda bagi para warga Malaysia. Lahir dari pasangan petani Jayanom dan Mistarah, asal Dusun Lendang Cempaka Desa Senaru Lombok Utara.

Sehari hari, anak kedua dari dua bersaudara ini memang jadi relawan wisatawan. Dengan mengandalkan gesture tubuh mungilnya, ia menuntun wisatawan naik turun di Air Terjun Sendang Gile dan Air Terjun Tiu Kelep. Termasuk beberapa jam sebelum kejadian nahas sekitar Pukul 15.10 Wita itu, Taufik bersama sepupunya, almarhum Tomy Al Bayani yang juga putra Nawarin, membantu menuntun wisatawan.

“Biasanya Taufik pergi pagi, sore sudah pulang. Kadang kadang ada tamu yang kasi Taufik uang. bisa bawa pulang Rp 25.000 sehari,” sebut Nawarin tentang pekerjaan keponakannya.

Di hari tragedi ada yang berbeda dari hari hari sebelumnya. “Biasanya anak anak yang membantu naik turun wisatawan itu ramai. Tumben cuma berdua, alamarhum anak saya dengan Taufik ke lokasi air terjun,” kenang Nawarin.

Tak disangka Tomy Al Bayani yang masih berusia 14 tahun meninggal. Ia mendapat kabar itu pertama kali dari Taufik dengan bahasa isyarat, anaknya tewas tertimpa batu.

Apa yang dilakukan Taufik memantik perhatian ketua pegawai Global Peace Mission Malaysia, Syahrir Azfa Bin Salim. Taufik disebutnya sebagai pahlawan kemanusiaan warga Malaysia. Bahkan ia sudah mengangkatnya menjadi duta cilik kemanusiaan.

Baca juga:  Fasilitator Nyambi Jadi Aplikator agar Dipecat

“Kita juga akan usulkan kepada Kerajaan Malaysia, mengangkat adek Taufik sebagai hero yang telah menyelamatkan rakyat Malaysia pada gempa yang berlaku,” demikian tekad Syahrir. Sebagai simbol penghargaan, rompi Global Peace Mission Malaysia disarungkan ke tubuh Taufik oleh Syahrir didampingi Bupati KLU.

Bukan sekedar jadi pahlawan penyelamat, Taufik menurut Syahrir adalah simbol eratnya hubungan emosional antara Malaysia dan Indonesia.

Akan tetapi keterbatasan fisik itu mengundang keprihatinan sekaligus menggugah rasa kemanusiaannya sebagai relawan yang saat ini masih aktif membantu korban gempa di Lombok Utara. Pemuda yang tampil klinis ini akan mengusulkan juga kepada pemerintahan federal Malaysia agar Taufik dibiayai pengobatan fisiknya, sehingga bisa mendapatkan hak pendidikan sebagaimana anak anak sebayanya.

Ia masih akan menunggu hasil diagnosa medis RSUP NTB mengenai pemeriksaan fisik. Hasilnya akan menentukan. Jika pengobatan atau tindakan operasi berlangsung di RSUP NTB, maka pihaknya akan membiayai penuh. Sebaliknya, jika dibutuhkan pengobatan di Malaysia, Taufik akan diboyongnya, bahkan hingga mengenyam pendidikan di negeri jiran itu.

“Ini sebagai salah satu usaha kita, menghargai semangat, menghargai keberanian adek Taufik dalam selamatkan rakyat Malaysia. Kita mahu simbol ini menjadi eratnya hubungan Malaysia dan Indonesia pada ahkirnya nanti,” ujar Syahrir. (ars)