Lotim Normalisasi 24 Sungai Rawan Banjir

Kondisi sungai yang dangkal yang disurvei tim BPBD Lotim yang selanjutnya akan dinormalisasi, sehingga tidak menimbulkan banjir bandang. (Suara NTB/rus)

Selong (Suara NTB) – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lombok Timur (Lotim) akan melakukan normalisasi 24 titik sungai yang diidentifikasi merupakan sungai rawan menimbulkan banjir bandang. 24 sungai tersebut ada di dua kecamatan, Sembalun dan Sambelia.

Demikian diterangkan Kepala Bidang (Kabid) Rehab dan Rekonstruksi BPBD Lotim, Lalu Kurnia Darmawan. Menjawab Suara NTB, Rabu (20/3), Mamiq Awan (panggilan akrabĀ  Lalu Kurnia Darmawan) menyebut di Kecamatan Sembalun ada Kokoq Pusuk, Telaga Barat, Sangka Bira, Bale Ijuk, Lokok Pusuk, Dongol, Senang Pape, Rantai Emas dan Orong Tukak.

Sedangkan sungai-sungai Kecamatan Sambelia yakni Nangke, Salut, Lang-Lang, Ketapang Daya, Melempo, Mentareng, Batu Empak, Rajak, Pancor, Senang Galih, Labuh Pandang, Legundi, Pasiran dan Menanga Reak.

Ke semua sungai tersebut berdasarkan hasil survei langsung BPBD, sebut Mamiq Awan memperlihatkan seperti tak nampak, seperti sungai. Tapi, seperti areal perkebunan yang rata, karena sedimentasi yang cukup tinggi. “Jadi terlihat tidak seperti sungai,” tuturnya.

Melihat kondisi sungai tersebut tidak heran terjadi banjir bandang yang mengancam setiap tahun. Apalagi Sambelia dan Sembalun ini seperti langganan banjir bandang. Pasalnya, hulu sungai yang rendah. Kenyataan itulah yang membuat air berpencar dan bisa menghantam rumah-rumah penduduk. Air yang terpencar di hulu inilah yang memunculkan aliran-aliran sungai baru di Sembalun dan Sambelia. Satu sungai besar bisa menjadi empat hingga lima aliran sungai baru.

Seperti Sungai Lang-Lang di Desa Belanting yang diketahui aliran banjir beberapa tahun lalu membawa hanyut kendaraan perwira polisi hingga ditemukan meninggal dunia. Aktivitas normalisasi yang dilakukan BPBD ini sangat disyukuri warga. Sambelia dan Sembalun diharapkan tahun ini tidak terjadi banjir.

Titik-titik rawan banjir tersebut sebelum dinormalisasi dilakukan survei dengan didampingi kepala dusun dan kepala desa. Titik-titik rawan tersebut dikeruk hingga kedalaman 0.5 sampai 1 meter. Material dari hasil pengerukan ini digunakan untuk membuat dinding-dinding sungai, sehingga bisa lebih dalam dan aliran sungai bisa lebih terarah ke sungai.

Soal anggaran dipersiapkan dari APBD Lotim. Masing-masing Rp 200 juta. Jika dihitung, maka keseluruhan anggaran sebenarnya tidaklah cukup untuk normalisasi satu sungai, sehingga dipilih titik-titik yang dianggap rawan. (rus)