BPBD Lakukan Mitigasi Jalur Pendakian Rinjani

Gambar terbaru Danau Segara Anak yang diambil TRC BPBD NTB saat survei jalur sabtu lalu. (Suara NTB/ist_trc)

Mataram (Suara NTB) – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) NTB melakukan mitigasi jalur pendakian Gunung Rinjani yang rawan longsor. Ketika saatnya nanti dibuka dan terjadi bencana, pendaki akan tahu jalur evakuasi dan tindakan awal tim evakuasi.

Sebagai langkah awal mitigasi,  BPBD mengutus Tim Reaksi Cepat (TRC) yang bergabung dengan tim survei terdiri dari unsur Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR), ahli dari Pusat Vulkanologi Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Dinas Pariwisata NTB dan Basarnas Mataram, juga unsur TNI.

Mereka berangkat Sabtu (16/3) pagi lalu. Dibagi dua tim, sebagian menjajal jalur Senaru menuju Pelawangan dan tim lainnya melalui jalur Pelawangan.  Masing masing tim terdiri dari 27 orang, dengan pembagian tugas pembuka jalan dan surveyor.

Menurut Kabid Kesiapsiagaan BPBD NTB H. Ridho Adnyana, TRC sudah memetakan titik-titik longsor di dua jalur, Sembalun menuju Pelawangan dan dari Senaru menuju Pelawangan. Jalur berbahaya dari Pos I sampai Pos III juga sudah diidentifikasi.

‘’Nanti setelah ada kebijakan pembukaan, kami sudah melakukan pemetaan mitigasi risiko bencana. Jadi kalau ada kejadian seperti sebelumnya, akan jelas di mana titik kumpul, di mana jalur evakuasinya,’’ kata Ridho.

Akan dipasang juga petunjuk area berbahaya pada titik- titik tertentu, khususnya longsor. Plang penanda juga akan menjadi penunjuk arah bagi pendaki untuk melalui jalur jalur alternatif yang aman.  ‘’Ketika mendaki, para pendaki sudah punya petunjuk, mana jalur aman dan berbahaya,’’ jelasnya.

Selain bagi pendaki, kepentingan pihaknya sebagai bagian dari tim evakuasi bersama Basarnas. Ketika bencana, seperti gempa atau longsor, timnya sudah tahu apa yang harus dilakukan. ‘’Jadi tidak mereka reka saat ke TKP. Ketika kontur TKP nya curam, alat yang diawa apa saja. Dari jalur -jalur itu menentukan apa tindakan  dan alat yang harus dibawa agar efektif,’’ jelasnya.

Rencananya untuk mematangkan langkah langkah yang diambil sebelum Rinjani diputuskan dibuka. Menurut rencana, akan digelar rapat tanggal 28 Maret mendatang dan melibatkan pihaknya dalam proses mitigasi.

Diinformasikan Ridho, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) akan terlibat khusus dalam penanganan dampak bencana di Rinjani. Bentuknya perbaikan infrastruktur yang rusak, bahkan penataan jalur yang ditimbun longsor. Hanya saja, mengenai anggaran, pihaknya belum bisa memastikan dan item kegiatannya.

Sebelumnya, Kepala Balai TNGR Sudiyono menjelaskan, sudah dilakukan survei lanjutan untuk jalur pendakian Rinjani. Hasil survei sedang jadi kajian pihaknya, juga untuk mitigasi bencana oleh BPBD, tidak kalah penting oleh PVMBG untuk meneliti struktur tanah setelah guncangan gempa.

Dari gambaran awal, titik longsor sepanjang dua jalur akibat gempa Juli dan Agustus lalu masih membekas. Retakan di Pelawangan juga masih menganga, dianggap masih berbahaya, termasuk di jalur menuju puncak Rinjani retak, berpasir bercampur krikil. Sehingga kesimpulan hasil pengecekan sementara, jalur pendakian belum aman.

Sedianya sesuai rencana, jalur Sembalun dan jalur Pelawangan akan dibuka April 2019, dengan pertimbangan situasi berangsur kondusif. Namun gempa susulan Minggu lalu dan melihat situasi jalur yang masih labil, akan jadi pertimbangan keselamatan pendakian. ‘’Sebab kan keselamatan yang lebih utama, daripada soal pendapatan dibidang pariwisata. Tapi masalahnya adalah ini soal perut, soal kebutuhan orang orang yang menggantungkan harapan dari Rinjani,’’ jelasnya.

Selain hilangnya Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP), ada 1.900 porter yang selama ini kehilangan pekerjaan. Sedikitnya 91 tour guide baik perorangan maupun perusahaan juga terpaksa berusaha beralih profesi atau mencari objek wisata lain. ‘’Belum lagi transportasi dan penginapan,’’ ujarnya. (ars)