Kawasan Rinjani Belum Stabil, Wisatawan Dilarang Mendekat

Tim survei gabungan saat mengecek jalur pendakian dari Sembalun ke Pelawangan  mendapati permukaan tanah longsor dan retak. Survei dihentikan karena gempa. (Suara NTB/ist_TRC BPBD NTB)  

Mataram (Suara NTB) – Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) meminta masyarakat atau wisatawan agar tidak mendekati destinasi-destinasi wisata yang berada di Kawasan  Gunung Rinjani terutama destinasi wisata air terjun. Pasalnya, kondisi tanah di kawasan Rinjani masih labil.

‘’Kami mengimbau agar untuk sementara menghindari wisata di aliran sungai yang bermuara di Gunung Rinjani. Karena saat gempa kemarin, petugas kami mendengar suara longsoran sangat keras ketika di dalam kawasan,’’ kata Kepala Balai TNGR, Sudiyono dikonfirmasi Suara NTB, kemarin.

Pihaknya khawatir, jika hujan turun akan berdampak pada banjir kiriman. Sudiyono mengatakan, destinasi wisata yang berada di sekitar kawasan Gunung Rinjani menerapkan system buka tutup. Tetapi pihaknya hanya mengimbau kepada masyarakat atau wisatawan agar tetap waspada.

Terkait dengan destinasi wisata air terjun Tiu Kelep, tempat puluhan wisatawan terjebak longsor, Minggu, 17 Maret 2019 lalu,  Sudiyono mengatakan destinasi wisata air terjun Tiu Kelep bukan masuk wilayah TNGR. Pengelolaan destinasi wisata air terjun tersebut bukan berada di bawah TNGR.

Baca juga:  Fasilitator Nyambi Jadi Aplikator agar Dipecat

Dari aspek sarana prasarana menuju air terjun tersebut, Sudiyono mengatakan belum tertata rapi. Sehingga wisatawan yang datang ke sana perlu waspada dan hati-hati.

“Karena untuk mencapai air terjun itu menusuri aliran sungai. Kami mengimbau, sebaiknya dihindari wisata di sana dulu sampai kondisi cukup cerah, cuaca cukup bagus,” sarannya.

Pada saat terjadinya gempa beruntun magnitudo 5,4 dan d,1 pada Minggu, 17 Maret 2019, Sudiyono mengatakan sebanyak 72 anggota Tim Survei Gunung Rinjani sedang berada di atas. Tim tersebut dibagi dua, yakni Tim Survei Jalur Pendakian Senaru dan Tim Survei Jalur Pendakian Sembalun.

Untuk Tim Survei Jalur Pendakian Senaru sebanyak 28 orang, sedang Tim Survei Jalur Pendakian Sembalun 44 orang. Untuk Tim Survei Jalur Pendakian Senaru, kata Sudiyono semuanya sudah sampai ke Senaru. “Pendakian sampai ke Pelawangan  ketika ada gempa. Semuanya selamat,” ucapnya.

Sementara untuk Tim Survei Jalur Pendakian Sembalun sebanyak 44 orang posisinya sekarang (kemarin, Red) berada di antara Pos 2 dan Pos 3 Jalur Pendakian Sembalun. Sudiyono mengatakan mereka sedang turun ke Sembalun, namun masih berada di dalam kawasan Gunung Rinjani.

Baca juga:  Wagub Apresiasi Alarm Gempa di Ajang TTG

‘’Semua anggota selamat. Sempat satu orang pingsan karena shock. Posisi setelah gempa di sekitar Pos 2. Saat gempa posisi mereka di Pelawangan Sembalun,” jelasnya.

Sudiyono menambahkan berdasarkan informasi yang diperoleh, masih dirasakan gempa susulan di kawasan Gunung Rinjani.  Gempa susulan dirasakan sekitar pukul 09.00 Wita.

Sudoyono mengatakan Tim Survei Jalur Pendakian Sembalun ini kemungkinan sedang memperbaiki jalur pendakian. Untuk keselamatan pihaknya sudah meminta mereka turun.

“Mereka sudah kita mandatkan mengutamakan keselamatan. Kalau memang dirasa aman, silakan diambil keputusan. Karena yang tahu lapangan yang ada di sana,” tandasnya.

Ia mengatakan tim survei jalur pendakian Rinjani berasal  dari TNGR, TNI, Polri, Dinas Pariwisata Lombok Utara dan Lombok Timur, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Bandung, BMKG, trekking organizer , porter, ada beberapa mitra lainnya. (nas)