Junaidin, Lima Tahun Tinggal di Bawah Jembatan

Junaidin tengah mencurahkan isi hatinya sembari beristrahat di atas kasur bekas miliknya di bawah kolong Jembatan Pesongoran Sekarbela, Kelurahan Jempong Baru, Kota Mataram, Minggu, 10 Maret 2019. (Suara NTB/mhj)

Mataram (Suara NTB) – Tak hanya ditemukan di bawah jembatan sungai Jangkuk, Ampenan, penghuni lainnya, Junaidin (50), sudah bertahun-tahun tinggal di bawah jembatan Pesongoran, Sekarbela, Kelurahan Jempong Baru, Kota Mataram. Untuk bertahan hidup, dia mengumpulkan barang bekas dan menyabit alang-alang.

Jembatan Pesongoran merupakan jalan penghubung antara kampus Universitas Muhammadiyah Mataram dengan Universitas Islam Negeri Mataram atau tepatnya di samping kiri agen J&T Ekspres DP Jempong. Pantauan Suara NTB, Junaidin tinggal sebatang karang di kolong jembatan. Tempat tinggalnya terbuat dari kayu dan bambu lapuk dengan beralaskan dengan kasur bekas.

Malam hari dia jalani tanpa cahaya listrik. Hanya lampu templek kecil menemaninya. Bising suara kendaraan lalu lalang di atas jembatan tak mengusik tidurnya.

Untuk makan setiap hari, Junaidin memasak menu seadanya. Dia harus kerja banting tulang untuk mendapatkan kebutuhannya setiap hari. Junaidin merasa nyaman tinggal di bawah kolong jembatan, meski anak perempuannya sudah berkeluarga dan enggan untuk tinggal bersama mereka. Anak laki-lakinya merantau dan jarang pulang. Sementara Junaidin dan istrinya sudah cukup lama berpisah.

“Sejak jadi jembatan sekitar lima tahun saya di sini. Ndak ada rumah. Kerja sehari-hari memotong alang-alang untuk dijual, nyari di mana saja ada. Memang dulu saya ngumpulin sampah,” ujar Junaidin, Minggu (10/3).

Junaidin hidup dengan penuh keterbatasan. Dia lebih memilih hidup sendiri dan jauh dari kemewahan. Aktivitasnya setiap hari mengumpulkan alang-alang untuk dijual di Cakra. Jika tekun bisa mendapatkan uang dari hasil penjualan alang-alang sebanyak  Rp75.000, paling sedikit Rp35.000 per hari. “Di sini enak cari makan sendiri. Sekadar cukup makan aja,” katanya.

Baca juga:  21 Ribu Korban Gempa di NTB Jatuh Miskin

Awal Junaidin tinggal di bawah kolong jembatan, karena tidak ada lahan dan tidak memiliki uang untuk menyewa rumah. Dia terpaksa harus menimbun bagian pinggir sungai menggunakan barang-barang rongsokan yang dikumpulkan, diurug bagian yang berlubang.

“Karena sudah ndak diperhatikan sama pemerintahan di kampungnya, bagi saya tidak masalah. Namanya juga kita ndak punya. Kalau punya nama, keburukan kita ndak kelihatan,” ujar Junaidin dengan mata berkaca-kaca.

“Saya nyangkul sendiri. Kalau ada barang rongsokan yang dibuang, saya bawa ke sini jadi lapak tempat tidur,” sambungnya.

Junaidin mengaku, selama tinggal di bawah kolong jembatan tidak pernah menerima bantuan dari pihak manapun. Bahkan teguran pun tidak ada. “Tidak pernah ada yang peduli. Ndak ada yang tegur karena tidak ada yang tahu saya tinggal di sini,” tuturnya.

Untuk itu, dia berharap kepada pemerintah untuk memberikan bantuan modal agar bisa mengembangkan yang digelutinya saat ini. “Mengharap bantuan dari pemerintah, bantuan seperti umpamanya kita jadi perajin, punya modal gitu,” harapnya.

Kepala Dinas Sosial Kota Mataram, Hj. Baiq Asnayati, SH dikonfirmasi, awalnya tidak percaya jika masih ada warga yang tinggal di kolong jembatan. Ketidakperyaan itu pun membuat dirinya berbalik bertanya dan meminta foto Junaidin dikirim melalui akun Whats App (WA) kepada wartawan.

Baca juga:  21 Ribu Korban Gempa di NTB Jatuh Miskin

“Coba difoto dulu mana dia, kirim fotonya ke WA saya,” pinta Asnayati. Meminta foto tersebut untuk memastikan karena selama ini, Asnayati tidak tahu bahwa masih ada warga yang tinggal di kolong Jembatan. “Di Jempong itu saya juga punya rumah. Rumah saya dekat sana, itu ndak pernah saya lihat ada rumah di sana,” sambungnya.

Setelah foto di kirim melalui Whats App sabagai bukti, Asnayati langsung mengatakan akan turun bersama Satgas ke jembatan yang ditempati Junaidin saat ini. Sebagai langkah awalnya akan mengecek untuk mamastikan apakah benar ada warga yang tinggal di kolong jembatan. “Side (kamu) ini gimana, belum saya lihat. Kita lihat dulu kondisinya, kita cek, kita data begitu pak,” ujar Asnayati dengan nada tinggi.

Keberadaan warga yang di bawah jembatan menurut Asnayati, akan beroordinasi dengan Lurah Jempong Baru dan Camat Sekarbela, karena merasa tidak mesti harus langsung ke Dinas Sosial. Asnayati tidak menerima dikonfirmasi, ia melontarkan bahasa yang tidak mestinya dilontarkan oleh seorang Kepala Dinas kepada wartawan.

Sementara Camat Sekarbela, Cahya Samudra mengatakan  sudah memerintahkan pihaknya untuk mengecek keberadaan warga yang tinggal di kolong jembatan, juga sudah berkoordinasi dengan Dinas Sosial agar warga tidak menetap lagi di jembatan tersebut.

“Itu juga pemulung. Staf kecamatan atau kelurahan juga sudah turun ke bawah jembatan itu. Itu daerah perbatasan Kelurahan Pagesangan dan Kelurahan Jempong Baru,” katanya. (mhj)