Maskapai Penerbangan di NTB Mulai Bawa Angin Segar

Supriyono dan Didiet Indra Kusuma (Suara NTB/ars)

Mataram (Suara NTB) – Di tengah upaya kebangkitan pariwisata NTB, kabar menyejukkan berhembus dari sejumlah maskapai penerbangan yang melayani rute penerbangan dari dan ke NTB. Pelan tapi pasti, langit NTB mulai diramaikan oleh hilir mudik pesawat yang membawa wisatawan.

Salah satu kabar gembira itu disampaikan General Manager PT. Garuda Indonesia Brand Office Lombok, Supriyono dalam Diskusi Terbatas Suara NTB bertema “Mendorong Kebangkitan Pariwisata NTB Pascabencana”, Sabtu, 9 Maret 2019.

Ia mengungkapkan, rute penerbangan yang dilayani maskapainya dalam beberapa waktu terakhir memperlihatkan kemajuan yang menggembirakan.

Misalnya, untuk rute Jakarta – Lombok atau Lombok – Jakarta dengan frekuensi 14 kali seminggu. Pada Februari lalu, terjadi kenaikan penumpang sebesar 35 persen. Tingkat keterisian penumpang meningkat dari 60 persen pada Januari, menjadi 85 persen pada Februari.

Untuk rute Denpasar – Lombok, frekuensinya 14 kali dalam seminggu. Jumlah penumpang Garuda  meningkat dari Januari ke Februari sebesar 12 persen. Begitu juga rute Surabaya-Lombok dengan frekuensi 7 kali dalam seminggu. Jumlah penumpang Garuda dari Januari ke Februari naik 19 persen.

“Menurut kami ini adalah mulai (terlihat) titik cerah. Bahwa ada pergeseran pertumbuhan traffic di Lombok ini. Dan harapannya bisa lebih baik. Kalau dari kacamata kami di penerbangan, sudah mulai tumbuh. Kami optimis bahwa pariwisata di NTB ini akan kembali,” ujarnya.

Merawat Persepsi Aman

Supriyono sangat setuju dengan ungkapan yang mengatakan bahwa pariwisata adalah persepsi. Wisatawan domestik dan internasional memang perlu diyakinkan. Bahwa NTB pascabencana aman dan nyaman untuk dikunjungi. Tanpa adanya kepastian bahwa daerah terdampak bencana aman, maka wisatawan tidak akan berani berkunjung.

‘’Market membutuhkan kepastian kalau di sini (Lombok) sudah aman. Kalau (wisatawan) dari luar, di sana mengacu pada benar-benar insurance. Kalau ada travel warning, dia tak akan jalan. Karena kalau terjadi apa-apa, dia tidak akan di-cover oleh asuransi,’’ jelasnya.

Sehingga, Pemerintah perlu meyakinkan bahwa Lombok Sumbawa sudah aman pascabencana gempa. Hal ini untuk  meyakinkan wisatawan yang akan berkunjung ke NTB. Terkait mahalnya harga tiket pesawat, Supriyono mengatakan bahwa memang harga tiket Garuda agak tinggi. Namun ia menjelaskan, harga tiket Garuda saat ini tidak jauh berbeda jika dibandingkan sebelum bencana gempa.

‘’Karena Garuda itu kalau saya boleh jujur harga tahun lalu sebelum gempa dengan sekarang tidak jauh beda sebenarnya. Sebenarnya sebelum gempa, itu sudah ada harga yang tinggi,’’ katanya.

Baca juga:  Satukan Pandangan tentang Islamic Center

Harga tiket Garuda yang tinggi karena memang maskapai plat merah ini merupakan penerbangan full service. Untuk penerbangan bertarif rendah atau LCC, Garuda memiliki anak perusahaan yaitu Citilink. Garuda Group juga melakukan kerja sama operasional (KSO) dengan Sriwijaya Air dan Nam Air.

Supriyono mengatakan, Garuda dan Citilink belum menerapkan bagasi berbayar. Sementara Sriwijaya Air, maksimal bagasi gratis 15 Kg. Sedangkan Nam Air, bagasi gratis maksimal 10 Kg. Meskipun terjadi kenaikan harga tiket dan penerapan bagasi berbayar beberapa maskapai, Supriyono mengatakan justru penumpang Garuda Indonesia mengalami peningkatan.

Supriyono menjelaskan, kebijakan perusahaan berkaitan dengan frekuensi penerbangan rute tertentu disesuaikan dengan demand alias permintaan. Ia mengatakan, penerbangan rute Jakarta – Lombok bisa saja enam kali sehari, tergantung permintaan.

Ia mencontohkan, ketika pertemuan Asosiasi DPRD Kota Seluruh Indonesia (Adeksi) di Mataram beberapa waktu lalu, Garuda Indonesia mengganti pesawat dari boeing 738 menggunakan Airbus selama seminggu untuk rute Jakarta – Lombok. Meskipun dalam satu penerbangan tidak penuh penumpangnya, namun Garuda cukup lihai mengikuti dinamika pasar.

Untuk mendukung pariwisata Lombok, Supriyono mengatakan Garuda Indonesia akan mengembalikan frekuensi penerbangan dari dan menuju Lombok. Rencananya, April mendatang frekuensi penerbangan Garuda Indonesia rute Jakarta – Lombok sebanyak 21 kali seminggu. Begitu juga untuk rute Lombok- Denpasar, akan menjadi 21 kali dalam seminggu.

Garuda Indonesia juga berencana menambah frekuensi penerbangan rute Lombok – Surabaya pada pagi hari. Selain itu, Garuda Indonesia juga akan membuka penerbangan Bandara Halim Perdanakusuma – Lombok pada Mei mendatang. Saat ini, Garuda Indonesia sedang memproses perizinan di Kementerian Perhubungan.

Dari sisi marketing komunikasi, lanjut Supriyono, Garuda tetap konsisten mempromosikan destinasi wisata  Lombok kepada wisatawan domestik  maupun internasional melalui social media dan lain-lain. Kemudian lewat penerbangan Garuda ke berbagai negara seperti  dari Amsterdam, London, Seoul dan Hongkong, Garuda mempunyai  program mempromosikan Lombok.

“Kita sudah minta melalui cabang-cabang yang ada di luar negeri itu untuk membantu recovery Lombok. Termasuk kalau ada pameran, kita promosikan  juga,” tandasnya.

Lombok di Badan Pesawat AirAsia

Sementara itu, maskapai AirAsia segera menjadikan Lombok International Airport (LIA) sebagai bandara penghubungnya di Asia Tenggara. Maskapai penerbangan berbiaya murah ini juga bakal menyediakan pesawat dengan livery atau motif promosi Lombok.

Baca juga:  Kohesikan Seluruh Energi, Wujudkan IC sebagai Pusat Peradaban

Strategi itu untuk mendukung pemulihan pariwisata Lombok pascadilanda bencana gempa bumi tahun 2018 lalu. Seiring dengan penambahan rute penerbangan dari dan menuju LIA.

Demikian diungkapkan Station Head AirAsia Lombok Didiet Indra Kusuma, Sabtu, 9 Maret 2019 dalam Diskusi Terbatas Suara NTB. Sejak membuka rute Lombok tahun 2012 lalu, frekuensi penerbangan AirAsia terus meningkat. Dari tiga penerbangan per minggu sampai penerbangan setiap hari.

‘’Sejak awal beroperasi itu positif. Saya melihatnya ini memang dampak gempa diikuti isu kenaikan tiket dan bagasi yang sebenarnya mainstream di dunia penerbangan,’’ jelasnya.

Sampai Maret ini, AirAsia punya dua penerbangan Kuala Lumpur-Lombok dan sebaliknya dengan faktor muat penumpangan yang positif.

Hal itu didukung dengan strategi penerbangan terusan dari dan menuju India, Korea Selatan, Jepang, dan Australia dengan Lombok sebagai destinasi andalannya.

‘’Memang kelihatannya rute Kuala Lumpur, tapi penumpangnya itu datang dari berbagai destinasi flight trough tadi,’’ beber Didiet.

Tren positif itu, sambung dia, membuatnya semakin yakin dengan realisasi rencana umum AirAsia yang akan menjadikan LIA sebagai bandara hub atau penghubung.

Setara dengan Bandara Ngurah Rai, Bali, Bandara Kualanamu Sumatera Utara dan Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten yang lebih dulu menjadi hub AirAsia di Indonesia.

‘’Lombok menjadi hub ke lima, nanti kemungkinan akan diberikan dua pesawat. Ada pesawat yang kita taruh di sini, ada penambahan sumberdaya di Lombok. Pesawat ini akan pergi dan datang dari Lombok,’’ sebutnya.

Pesawat tersebut akan melayani penerbangan langsung internasional dan domestik. Beberapa diantaranya dari dan menuju Perth,Australia dan Singapura.

‘’Selanjutnya pesawat yang kita punya itu ada livery (motif) khusus seperti I Love Lombok. Mudah-mudahan pariwisata kita bisa tambah pulih lagi. Jumlah wisatawan bisa datang lebih banyak dengan penerbangan langsung ke Lombok,’’ harapnya.

Menurut pengamatannya, wisatawan yang bepergian ke Lombok punya tujuan favorit. Yaitu pulau-pulau tropis dan berpetualang mendaki Gunung Rinjani.

Dia menyarankan, mengelola wisatawan bisa dengan pola pengalaman terbang penumpang pesawat. Memberi kesan baik mulai dari membeli tiket, pengecekan masuk, naik ke pesawat, berada di pesawat, turun ke terminal kedatangan, dan pengambilan bagasi.

“Sehingga nanti ketika wisatawan memutuskan datang ke Lombok, muncul image. Pengalaman apa yang akan dirasakan,” pungkas Didiet. (tim)