‘’Sadekah Ponan’’, Pelopor Destinasi Wisata Halal di Sumbawa

Gubernur NTB, H. Zulkieflimansyah, Wabup Sumbawa, H. Mahmud Abdullah, Sekda, H. Rasyidi, Ketua DPRD Sumbawa, L. Budi Suryata di lokasi pesta adat Sedekah Ponan di Bukit Orong Rea bersama masyarakat. (Suara NTB/arn) 

Sumbawa Besar (Suara NTB) – Gubernur NTB, Dr. H. Zulkieflimansyah berkesempatan menghadiri Sedekah Ponan tahun 2019, Minggu, 10 Maret 2019. Dalam kesempatan tersebut, gubernur menyebutkan tradisi tahunan tiga dusun yakni, Poto, Lengas dan Malili ini bisa menjadi pelopor destinasi halal di Kabupaten Sumbawa.

Kegiatan Sedekah Ponan ini dilaksanakan di Bukit Ponan yang berlokasi di  Orong Rea, Kecamatan Moyo Hilir. Selain gubernur, kegiatan ini juga dihadiri oleh Wakil Bupati Sumbawa, Drs. H. Mahmud Abdullah, Sekda, Drs. H. Rasyidi, Ketua DPRD Sumbawa, L.Budi Suryata beserta sejumlah anggota, pimpinan OPD serta ribuan warga.

Dr. Zul sapaan akrab Gubernur NTB mengakui baru pertama kali menghadiri lokasi Ponan. Hal ini mengingatkannya dengan Kota Toraja. Di mana banyak orang yang berkunjung ke sana karena ingin melihat kuburan. Tetapi setelah berkunjung, hampir dipastikan pengunjung tidak datang kembali. Namun Ponan diharapkan tidak seperti itu. Karenanya ke depannya diharapkan dapat dikemas menjadi event yang sangat menarik. Terutama menyediakan tempat bagi anak-anak muda, sehingga tetap banyak yang berkunjung.

‘’Generasi muda sekarang itu adalah generasi yang berbeda. Generasi muda, anak- anak kita zaman sekarang ini tidak usah banyak pidato, berbicara.  Yang penting bisa selfie. Ini bisa dikemas menjadi suatu event yang sangat menarik. Di mana kalau Ponan mau pengunjung tetap banyak, maka ke depan harus menyediakan tempat buat anak-anak muda,’’ ujarnya.

Menurutnya, harus ada inovasi untuk menata lokasi Ponan ini. Umpamanya dibuatkan tempat selfie bagi anak muda di lokasi sawah. Kemudian disediakan tempat beribadah dan sarana lainnya. Jika hal tersebut bisa tersedia, maka Ponan baru bisa menjadi pelopor wisata halal di Kabupaten Sumbawa. ‘’Kalau datang mereka semua, ada tempat salat yang bagus, tempat dzikir, baru  Ponan menjadi pelopor halal destination di Kabupaten Sumbawa,’’ kata gubernur.

Disampaikan Dr. Zul, sekarang objek wisata seperti ini ada banyak. Di sosial media sudah bisa dilihat contohnya. Di mana di sawah disediakan tempat supaya anak muda bisa berjalan melihat padi dari atas sekaligus berselfie. Tentunya jika dikemas dengan baik, ia meyakini Sedekah Ponan ini tidak hanya dikenal di NTB ataupun Indonesia tetapi juga dunia.

Harapannya, orang tua atau masyarakat setempat dapat mendukung dan mengizinkan. Karena  pemerintah provinsi siap mendukung dengan menyediakan anggarannya. ‘’Kalau kita mau menyempatkan diri buat tempat selfie yang bagus, Insya Allah bukan hanya bulan Maret, tapi setiap bulan akan datang (pengunjung) ke sini. Jadi Ponan tidak hanya menggetarkan NTB, Indonesia, tapi dunia kalau di tengah sawah-sawah itu yang hijau dibuat seperti pagar. Kalau memerlukan dana untuk itu, bisa pemerintah provinsi yang menyediakannya,’’ terangnya.

Sebelumnya Ketua MUI Kabupaten Sumbawa, Syukri Rahmat, S.Ag mengakui Sedekah Ponan tahun 2019 mempunyai nilai lebih dan istimewa karena dihadiri Gubernur NTB. Adanya Sedekah Ponan yang dilaksanakan tiga dusun yakni Poto, Lengas dan Malili mempunyai sejarah panjang. Di mana warga ke tiga dusun ini memiliki leluhur yang sama yakni Haji Muhammad  Ali Batu atau dikenal Haji Batu yang tinggal di Bekat Loka. Setelah meninggal, Haji Batu yang dikenal sebagai ulama di wilayah setempat kemudian dimakamkan di bawah pohon di bukit yang sekarang disebut Bukit Ponan.

Setelah sekian lama, setelah menanam padi, masyarakat ketiga dusun bersepakat untuk berkumpul dan bersilaturrahim. “Jadi bukan kita mohon kepada kuburan Haji Batu. Kami berdzikir, bertahlil, berdoa betul bermohon kepada Allah sebagai implementasi tauhid kita kepada Allah SWT. Karena itulah misi yang disampaikan dan dibawa oleh leluhur kami Haji Batu sebagai ulama yang ada di wilayah Bekat masa lalu,’’ ujarnya.

Menurutnya, ada tradisi unik dalam proses Sadekah Ponan ini. Selain berdoa, berdzikir kepada Allah SWT agar tanaman padi yang sudah ditanam melimpah, ada tradisi jajan khas. Seperti buras, lepat dan patikal. Semuanya dikukus dan dibungkus dengan daun pisang dan kelapa. Hal ini sebagai bentuk kecintaan terhadap alam supaya masyarakat tetap menanam pisang dan kelapa.

Oleh karena itu, ini menjadi sesuatu yang sangat bernilai. ‘’Maka Sadekah Ponan dari tahun ke tahun bukan sekadar berkumpulnya kita, bukan sekadar ingin makan jajan, bukan menjenguk kuburan. Tetapi ada dua nilai, pertama hubungan dengan Allah SWT berdzikir kepada Alah SWT dan hubungan antar sesama manusia. Terbukti dari tahun ke tahun jumlah para peziarah dan pengunjung selalu meningkat,’’ pungkasnya. (ind/arn)