Musda Golkar Mulai Dibicarakan

Ketua Harian DPD I Partai Golkar NTB, Misbach Mulyadi (Suara NTB/dok)

Mataram (Suara NTB) – Isu pergantian nahkoda Partai Golkar NTB mulai mencuat menjelang pemilu legislatif 2019. Pergantian kepemimpinan DPD I Partai Golkar NTB dilakukan lewat mekanisme Musyawarah Daerah (Musda). Dimana ketua DPD I akan dipilih secara demokratis oleh 10 DPD II.

Ketua Harian DPD I Partai Golkar NTB, H. Misbach Mulyadi yang dikonfirmasi perihal tersebut tidak menampik jika isu telah mulai bergaung. Namun demikian, Musibah menegaskan bahwa pelaksanaan Musda masih jauh. Sehingga isu pergantian kepengurusan di tubuh partai beringin itu belum saatnya dibicarakan. Lebih-lebih saat ini partainya tengah fokus menghadapi Pemilu 2019.

“Musda masih lama, musda barang kali akan digelar tahun 2020. Karena musda itu baru dibicarakan setelah Munas, sementara Munas akan dilakukan akhir tahun 2019 ini, sekitar Bulan September atau Desember lah,” katanya.

Terkait munculnya nama Rohmi yang digandang-gandang bakal maju menjadi calon ketua Golkar NTB, Misbah menegaskan bahwa Rohmi belum tercatat sebagai kader partai. Sehingga kemungkinan besar tidak memenuhi syarat untuk maju jadi bakal calon. Karena

calon ketua dipersyaratkan minimal sudah jadi pengurus satu periode.

Namun demikian, Misbach juga tidak memungkiri bahwa Rohmi bisa saja ikut maju, meskipun tidak pernah tercatat sebagai pengurus Partai Golkar. Hal itu jika berkaca dari peristiwa keterpilihan Zaini Aroni sebagai Ketua Golkar NTB, saat itu Zaini tidak pernah terdaftar sebagai pengurus partai.

“Tapi sudah ada contoh, Pak Zaini saja waktu itu tidak pernah jadi apa-apa di Golkar bisa jadi ketua. Karena beliau waktu itu mendapatkan dukungan penuh dari 10 DPD II. Karena itu kuncinya di 10 DPD II ini, siapa yang bisa melobi dukungan penuh bisa maju. Katakan lah Rohmi didukung semua DPD II, mereka semua bersuara kencang, maka itu nanti jadi pertimbangan DPP,” paparnya.

Misbach mengatakan Golkar merupakan partai besar yang punya stok kader cukup banyak untuk menjadi Ketua DPD I. Golkar tidak bergantung hanya pada satu figur, karena Golkar adalah partai sistem. Karena itu siapapun kader, punya hak dan peluang yang sama untuk tampil mencalonkan diri jadi Ketua Golkar NTB. (ndi)