Sengketa Tampah Boleq, Bupati Lotim : Jangan Teriak di Pinggir Jalan

Kawasan Tampah Boleh tempat lokasi acara Pesona Budaya Kaliantan, Bau Nyale ala masyarakat Lotim di Desa Seriwe Kecamatan Jerowaru. (Suara NTB/rus)

Selong (Suara NTB) – Bupati Lombok Timur (Lotim) H. M. Sukiman Azmy mempersilakan warga untuk menempuh jalur hukum atas klaim tanah ulayat kawasan Tampah Boleq Desa Seriwe Kecamatan Jerowaru. Hal ini diungkapkan Bupati saat menghadiri Pesona Budaya Kaliantan kawasan Tampah Boleq, Sabtu,  23 Februari 2019.

“Jangan teriak-teriak di pinggir jalan,” ujar bupati mengingatkan.

Menurut orang nomor satu di Lotim ini tindakan teriak-teriak di pinggir jalan itu itu tak tahu arahnya. Jika ada warga yang seperti itu, tambahnya, diduga kuat ada oknum yang menjual kawasan tersebut. Selain itu, tidak menutup kemungkinan ada orang di pemerintahan yang membuat sertifikat secara sporadis. Untuk itu, bupati mempersilakan mencari oknum-oknum tersebut dan menuntutnya secara hukum.

Penyataan Bupati ini menganggapi desakan warga yang memintanya untuk mengembalikan Tampah Boleq ke pangkuan warga. Diakuinya, selama 5 tahun memimpin Lotim periode pertama, tidak ada satu izinpun pengembang yang diberikan masuk ke Tampah Boleq. Izin investasi yang diberikan ke PT Temada Pumas Abadi itu lahir setelah dirinya tak lagi jadi bupati.  “Sekarang nasi sudah jadi bubur, sudah ada akte,” ungkap Bupati Sukiman.

Untuk berjuang mengembalikan tanah yang disebut-sebut warga hak ulayat itu jelas akan terasa sulit. “Perjuangan ini tak akan kesulitan kalau semua tak mau duduk bersama,” ungkapnya.

Di satu sisi, terhadap pengembang, kata bupati dipersilakan bangun Lotim dengan baik. Diminta, pengembang tidak perlu khawatir. Bupati dan Wakil Bupati Lotim berjanji tidak akan mengucilkan pengembang yang sudah masuk ke Tampah Boleq dan sudah melakukan ground breaking. “Kami tidak akan menghalangi dan merintangi,” ucapnya.

Terpisah, manajer PT Temada Pumas Abadi, Suryajaya ketika dikonfirmasi Suara NTB via ponselnya mengaku belum siap komentari apa disampaikan Bupati. Hanya saja, soal acara Bau Nyale yang menggunakan kawasan Tampah Boleq sebagai lokasi acara sangat disayangkannya.

Menurutnya, acara bau nyale yang berlangsung kali ini dinilai tidak sukses, karena telah merusak kawasan yang sudah menjadi milik PT Temada Pumas Abadi. Temada merasa dirugikan.Padahal, ada areal lain yang masih banyak yang kosong yang bisa dijadikan tempat beracara. “Sementra lahan kosong yang sudah disediakan lama justru tidak dimanfaatkan,” keluhnya.

Rencana awal Temada, akan melanjutkan pembangunan setelah acara bau Nyale selesai. Akan tetapi, melihat lokasi tempat membagun resort ini kacau, pihak Temada ini mengaku butuh waktu lagi untuk melakukan pembenahan.

Dibutuhkan waktu sebulan lagi katanya untuk memperbaiki apa yang rusak. PT Temada Pumas Abadi ini mengklaim diri sudah komitmen untuk segera memulai pembangunan. Akan tetapi, apa yang sudah dipersiapkan selama sebelas bulan menjadi rusak dalam waktu singkat.

Menurutnya, Tampah Boleq tak seharusnya diusik, karena selama ini, yang menjadi lokasi Bau Nyale itu adalah Pantai Kaliantan bukan Tampah Boleq. “Setiap acara kan tidak pernah mereka bilang ada acara di tampah boleq, itu karena memang bukan tempatnya. Tempat pelaksanaan bau nyale itu sejak dahulu itu di Kaliantan,” klaimnya. (rus)