Tingkatkan Pemahaman Tentang Kampung KB

epala Perwakilan BKKBN NTB, Dr. Drs. Lalu Makripuddin M.Si, saat pemaparan materi dalam kegiatan sosialisasi, advokasi dan KIE Program KKBPK di  Desa Pejanggik Kabupaten Lombok Tengah, yang diselenggarakan oleh Perwakilan BKKBN NTB bekerjasama dengan mitra kerja Komisi IX DPR RI.

Kegiatan Sosialisasi Advokasi dan KIE Program KKBPK Makin Digencarkan

Praya (Suara NTB) – Perwakilan BKKBN NTB bersama mitra kerja Wakil Ketua Komisi IX DPR RI Dra. Hj. Ermalena, MHS makin gencar melakukan kegiatan sosialisasi, advokasi dan KIE Program KKBPK kepada masyarakat. Sosialisasi ini dilakukan untuk meningkatkan pemahaman masyarakat tentang kampung KB.

Pada Minggu (24/2) pagi, sosialisasi digelar di Desa Pejanggik Kabupaten Lombok Tengah. Kegiatan sosialisasi, Advokasi dan KIE yang digelar di Desa Pejanggik Kecamatan Praya Tengah Kabupaten Lombok Tengah dihadiri oleh wakil ketua Komisi IX DPR RI Dra. Hj. Ermalena MHS, Kepala Perwakilan BKKBN NTB, Dr. Drs. Lalu Makripuddin, M.Si, Kepala DP3AP2KB Kabupaten Lombok Tengah, Drs. H. Mulyardi Yunus dan kepala desa setempat.

Wakil Ketua Komisi IX DPR RI, Dra. Hj. Ermalena, MHS saat memberikan arahan pada kegiatan sosialisasi, advokasi dan KIE mengkampanyekan terkait pengendalian penduduk. Karena jika penduduk tidak dikendalikan maka akan menimbulkan persoalan baru. Berdasarkan data yang dimiliki, jumlah penduduk di Kabupaten Lombok Tengah saat ini sudah mencapai 1,2 juta penduduk. Tingginya jumlah penduduk ini berdampak pada sulitnya lapangan pekerjaan dan kebutuhan rumah semakin meningkat. Hal ini disebabkan karena beberapa faktor yaitu jumlah keluarga dan pendatang baru. Banyaknya pendatang baru di Lombok Tengah karena pembangunan semakin meningkat, terlebih dengan adanya Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika.

“Sekarang sudah menjadi 1,2 juta penduduk. Tapi pulau Lombok tidak tambah besar dan lima tahun kedepan penduduk kita menjadi 2,4 juta Cuma di Lombok Tengah. Dan itu bahaya. Untuk mendapat rumah sulit atau tidak, bercocok tanam sulit atau tidak. Karena kita akan berebut. Kenapa kependudukan itu harus diatur. Karena penduduk makin banyak. Lombok Tengah mendapat rekor terbaik untuk perkembangan karena pariwisata banyak di Lombok Tengah, Kawasan Ekonomi Khusus ada di Lombok Tengah,” kata Hj. Ermalena.

Dikatakan Ermalena, kampung KB yang ada di Desa Pejanggik harus bisa lebih kreatif. Karena kampung KB tidak saja mengurus masalah alat kontrasepsi melainkan bagaimana mengembangkan perekonomian masyarakat. Ia meminta agar masyarakat mencari kekhususan desa tersebut. Karena dengan begitu bisa dikembangkan. Ia mencontohkan, setiap rumah menanam satu pohon sejenis. Sehingga jika dalam jangka dua – tiga tahun kedepan akan dicari dan bisa meningkatkan pendapatan masyarakat.

”Pernah dengar satu desa satu produk. Coba cari apa kekhususan daerah sini. Kemarin saya katakan kalau ada satu daerah yang subur coba kita tanam dua pohon produktif apa saja. Misalnya semua tanam alpukat, maka orang akan cari alpukat ke sini,”ujarnya

Dalam kesempatan yang sama, Kepala Perwakilan BKKBN NTB, Dr. Drs. Lalu Makripuddin, M.Si memberikan arahan kepada masyarakat Desa Pejanggik Lombok Tengah. Kampung KB yang ada di Desa Penjanggik bernama Kampung KB Tunas Sejahtera. Keberadaan kampung KB di desa tersebut dinilai memiliki perkembangan yang bagus karena rutin diberikan pembinaan. Namun dia berharap agar kampung KB yang ada lebih kreatif. Ia mencontohkan, kampung KB yang ada di Desa Jango Kecamatan Janapria. Masyarakat di desa tersebut mengembangkan berbagai macam program, salah satunya bank sampah. Gerakan kebersihan setiap minggu dan berbagai inovasi lainnya.

“Kampung KB artinya kampung keluarga berencana. Mulai merencanakan apa permasalahannya. Kalau kebersihannya kurang maka sama-sama diselesaikah oleh masyarakat. Kemarin di Desa Jango yang kami kunjungi, di sana anak mudanya setiap hari Minggu melakukan Gerimis atau gerakan Indonesia minggu bersih,” katanya.

Kegiatan yang sama lanjut Makripuddin, bisa dilakukan oleh masyarakat yang ada di Desa Pejanggik. Terlebih lagi, di Desa Pejanggik memiliki cagar budaya yang bisa dipromosikan kepada masyarakat luas. ”Kalau anak muda-muda di sini bisa melakukan hal yang sama,”ujarnya.

Dalam kegiatan sosialisasi advokasi dan KIE, BKKBN bersama mitra kerja tetap menekankan agar mencegah pernikahan dini. Karena banyak persoalan yang akan muncul dengan pernikahan dini tersebut. Salah satu cara mencegah pernikahan dini yaitu dengan menjelaskan dampak bagi kesehatan reproduksi. Karena usia pernikahan yang ideal yaitu 21 tahun untuk perempuan dan 25 tahun untuk laki-laki.

”Di Kampung KB tidak ada yang menikah di bawah 16 atau 18 tahun, tidak ada di kampung KB yang putus sekolah dan tidak ada yang kehamilannya tidak direncanakan. Semua kehamilan direncanakan dengan menghindari empat terlalu, yakni terlalu muda, terlalu sering, terlalu dekat jaraknya dan terlalu banyak melahirkan,” katanya.

Selain itu, Kepala DP3AP2KB Lombok Tengah, H. Mulyardi Yunus mengatakan, advokasi yang dilakukan saat ini untuk menyamakan pemahaman tentang pentingnya keluarga berencana. Pengendalian penduduk ini penting dilakukan, karena jika tidak maka akan menjadi beban pembangunan.

Dia juga menjelaskan alat-alat kontrasepsi yang bisa digunakan baik untuk perempuan maupun laki-laki. “Alat kontrasepsi yang ditusuk itu namanya implan, ada suntikan, pil, kondom untuk pria dan MOP dan MOW dan yang di bawah namanya spiral atau IUD,” terangnya.

Saat ini tidak saja KB untuk istri melainkan juga suami. Untuk meningkatkan capaian program, pelayanan program KB yang diberikan bersifat gratis. ”Program KB ini sudah diketahui oleh kita semua. Cuma barangkali belum banyak yang tahu kemana pelayanan. Jadi pelayanan yang kita berikan saat ini bersifat gratis,”katanya.

Untuk memeriahkan kegiatan sosialisasi, panitia menyiapkan berbagai macam hadiah kepada para peserta. Adapun hadiah yang disiapkaan yaitu seperti oven, kipas angin, rice cooker dan beberapa hadiah menarik lainnya. (azm/*)