Investor Ingin Bangun Hotel di Pasar Kebon Roek

Aktivitas pedagang Pasar Kebon Roek di Ampenan Utara hingga Selasa sore kemarin masih terlihat ramai. Potensi inilah yang dilirik oleh investor asal Jakarta ingin mengelola pasar terbesar di Kota Mataram tersebut, dengan menyiapkan modal Rp200 miliar. (Suara NTB/mhj)

Mataram (Suara NTB) – Investor asal Jakarta menawarkan diri untuk mengelola Pasar Kebon Roek. Investasi ditawarkan mencapai Rp 200 miliar. Pembahasan tersebut digelar secara tertutup di Pendopo Walikota, Selasa, 29 Januari 2019.

Pertemuan itu dipimpin oleh Walikota Mataram, H. Ahyar Abduh didampingi Sekretaris Daerah, Ir. H. Effendi Eko Saswito, Asisten II Ir. H. Mahmuddin Tura dan Kepala Dinas Perdagangan H. Amran M. Amin. Mahmuddin dikonfirmasi usai rapat tertutup menjelaskan, investor asal Jakarta menawarkan kerjasama dengan Pemkot Mataram, untuk mengelola Pasar Kebon Roek selama 30 tahun.

Mereka akan membangun fasilitas pasar dengan nilai investasi Rp200 miliar.

“Mereka membangun dan setiap tahun ada retribusi ke pemerintah,” katanya. Investor berencana membangun pasar di atas lahan yang telah dibebaskan oleh Pemkot Mataram. Mereka melihat pangsa pasar cukup bagus dan strategis. Konsep pasar dibangun sangat representatif. Dan, tetap mengakomodir pedagang di Kebon Roek dan ACC.

Baca juga:  Warga Keluhkan Pembangunan Hotel di Udayana

Mahmuddin menambahkan,investor telah melakukan studi kelayakan. Bahkan, menawarkan diri mengelola Pasar Cakranegara. Namun demikian, pemerintah tidak bisa serta – merta mengamini permintaan pengusaha. Harus ada mekanisme yakni melalui sistem lelang terbuka.

Artinya, semua pengusaha bersaing jika ingin mengelola Pasar Kebon Roek.

“Sistem sekarang tidak bisa penunjukan langsung. Harus diadakan beauty contest,” terangnya. Dari sisi rekam jejak, pengakuannya mereka telah memiliki pengalaman selama sembilan tahun mengelola pasar di Lampung.

Baca juga:  Waspadai Spekulan Tanah Berkedok Investor

Walikota Mataram H. Ahyar Abduh lanjut Mahmuddin, merespon positif dengan meminta dibentuk tim untuk mengkaji. Untuk penataan Pasar Kebon Roek, tidak bisa mengandalkan APBD. Apalagi banyak program strategis seperti pembangunan kantor walikota dan perluasan RSUD.

“Sehingga, ini menarik karena tidak perlu mencari anggaran untuk membangun pasar,” tandasnya. Dan, menjadi keuntungan pemerintah pasca kontrak berakhir selama 30 tahun. Fasilitas yang telah terbangun menjadi aset pemerintah.

Selain membangun pasar sambungnya, pengusaha tersebut juga akan membangun hotel. Walikota kata Mahmuddin, menawarkan lahan Pasar Kebon Roek dijadikan lokasi membangun hotel. Termasuk pengelolaan terminal dan nantinya jadi sumber pendapatan daerah. (cem)