Pemkot Pastikan Penghuni Kolong Jembatan Bukan Gelandangan

Satgas Sosial Dinas Sosial Kota Mataram, mengecek tempat tinggal Sumarlin yang di bawah Bawah jembatan di Kelurahan Ampenan Tengah, Senin, 21 Januari 2019. (Suara NTB/mhj)

Mataram (Suara NTB) – Pemerintah Kota Mataram memastikan warga yang tinggal selama 30 tahun di bawah jembatan di Kelurahan Ampenan Tengah, bukan gelandangan. Warga yang tinggal di aliran Sungai Jangkok diketahui bernama Sumarlin. Dia berasal dari Lombok Tengah.

Walikota Mataram, H. Ahyar Abduh melalui Asisten I Setda Kota Mataram Lalu Martawang mengatakan, para penghuni di kolong jembatan Jangkuk Ampenan itu bukan tunawisma atau gelandangan. Yang bersangkutan memiliki tempat tinggal di Lombok Tengah.

“Yang bersangkutan dalam posisi punya rumah sebenarnya jadi dia bukan orang tidak punya rumah,” ujar Lalu Martawang, Selasa, 22 Januari 2019. Penghuni kolong jembatan ini memiliki ternak. Dan, lahan kosong di bawah jembatan dimanfaatkan sebagai tempat penyimpanan barang-barang bekas. Karena di rumahnya tidak ada tempat untuk penyimpanan barang tersebut.

“Dia kalau tidak salah di situ pelihara kuda, dan tempat penampungan rongsokan dan sebagainya,” kata Martawang. Pemberitaan warga yang tinggal di bawah jembatan ramai diperbincangkan di media sosial.

Pemkot Mataram kata Martawang, terus berusaha mendekati yang bersangkutan agar mau kembali ke rumahnya. Karena, terlalu berisiko bagi siapa pun lebih-lebih penghuni kalau kolong jembatan tetap dijadikan sebagai tempat tinggal atau tempat berinteraksi setiap harinya.

Maka dari itu seluruh perangkat yang dimiliki Pemkot Mataram, akan melakukan pendekatan. “Kita coba dari hati ke hati dengan penghuni di kolong jembatan, agar tidak seolah-olah kesannya bahwa tidak ada atensi dari pemerintah kota,” tandasnya.

Kasat Pol PP Bayu Pancapati menambahkan, hari ini (kemarin) akan berkomunikasinya dengan keluarga yang bersangkutan, agar tidak lagi tinggal di kolong jembatan. Selain itu, aparat penegak Perda ini, juga akan membongkar bangunan tersebut.

“Yang sebelah utara juga akan kita bongkar. Gak boleh ada yang tinggal di bawah jembatan,” demikian tegas Bayu. (mhj/cem)