Sejuta Peternak Unggas

Peternak Unggas di Dompu, NTB (Suara NTB/ula)

Mataram (Suara NTB) – NTB menargetkan swasembada daging ayam dan telur dalam waktu satu sampai dua tahun ke depan. Selama ini, NTB masih mendatangkan daging ayam dan telur dari luar daerah.

Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakeswan) NTB, Ir. Hj. Budi Septiani dikonfirmasi di Kantor Bappeda NTB, Jumat, 11 Januari 2019 siang mengatakan NTB akan mengembangkan sejuta peternak atau pelaku usaha unggas.

‘’Jadi tidak lagi hanya memelihara ayam tetapi bagaimana mengolah ayam itu supaya punya nilai tambah. Supaya pendapatan peternak kita lebih besar. Saya mau menciptakan sejuta pelaku usaha unggas,’’ katanya.

Ia menyebut potensi peternakan unggas di NTB cukup besar. Apalagi di Pulau Sumbawa, lahan masih cukup luas untuk peternakan unggas. Budi mengatakan, Gubernur NTB, Dr. H. Zulkieflimansyah, SE, M. Sc berkonsentrasi dalam pengembangan peternakan unggas.

Baca juga:  Biaya Cargo Melonjak, Petani dan Pengusaha Cabai Mengadu

Karena Pekerjaan Rumah (PR) terbesar NTB adalah masalah kemiskinan. Untuk meningkatkan pendapatan masyarakat dengan lebih cepat di bidang peternakan maka lewat budidaya unggas. Ia mengatakan, pengembangan unggas ini masuk dalam konsep peternakan jangka pendek. Sedangkan jangka menengah adalah peternakan kambing dan jangka panjang adalah peternakan sapi.

‘’Tapi jangka pendek ini kita barengi dengan industrialisasi, dari hulu hingga hilir,’’ katanya.

Mantan Kepala Dinas Ketahanan Pangan ini mengatakan, NTB harus mampu swasembada daging dan telur ayam dalam jangka waktu satu sampai dua tahun ke depan. Sehingga budidaya unggas terus digaungkan agar  bisa menyelesaikan persoalan NTB.

‘’Persoalan NTB ini kita masih mendatangkan suplai dari luar daerah. Kita kekurangan telur. Kita itu satu hari memerlukansatu juta butir telur. Itu pun belum kita memenuhi kebutuhan konsumsi masyarakat yang ideal,’’ katanya.

Baca juga:  Biaya Cargo Melonjak, Petani dan Pengusaha Cabai Mengadu

Lantas apakah Pemprov tak lagi mengembangkan program Bumi Sejuta Sapi (BSS)? Budi mengatakan, program BSS akan tetap berjalan. Untuk program budidaya unggas, lanjut Budi telah dikembangkan di beberapa desa di Lombok Tengah.

Seperti di Desa Teruwai Kecamatan Pujut dan Selebung Rembiga Lombok Tengah. Program kampung unggas akan dikembangkan ke seluruh kabupaten/kota di NTB, terutama di Pulau Sumbawa.

‘’Kita tak meninggalkan kampung unggas berbasis ayam lokal. Karena ayam lokal ini untuk memenuhi rumah makan, perhotelan dan restoran karena mendukung pariwisata,’’ katanya.

Budi menyebutkan kampung unggas yang berada di Desa Teruwai memasok ayam ke perhotelan dan restoran sekitar 2.000 ekor per minggu. Sedangkan kampung unggas yang ada di Selebung Rembiga mampu memasok 5.000 – 8.000 ekor per minggu. (nas)