Delapan Kepala SD Beberkan Setoran Kepada Sudenom

Kepala SD di Kota Mataram bersaksi dalam persidangan mantan Kadisdik Kota Mataram, Sudenom, Jumat, 11 Januari 2019 di Pengadilan Tipikor pada Pengadilan Negeri Mataram. (Suara NTB/why)

Mataram (Suara NTB) – Delapan kepala SD di Kota Mataram memberi kesaksian dalam kasus dugaan pungli dengan terdakwa, H Sudenom. Mereka menyetor duit sesuai permintaan mantan Kadisdik Kota Mataram. Meski tidak tahu persis uang itu bakal digunakan untuk keperluan apa.

Hal itu terungkap dalam persidangan di Pengadilan Tipikor pada Pengadilan Negeri Mataram, Jumat, 11 Januari 2019 kemarin. Sidang dipimpin ketua majelis hakim Suradi, didampingi hakim anggota, Fathurrauzi dan Abadi.

Hakim Suradi meminta para saksi menjelaskan perihal runtutan penyetoran uang. Sudenom meminta uang dari kepala sekolah lewat bawahannya, Kabid Dikdas Disdik Kota Mataram, H LM Sidik.

Juga lewat Kepala SDN 41 Mataram, Maraini untuk mengumpulkan uang dari kepala SD. Sementara sasaran kepala SMP melalui Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS), yakni Kepala SMPN 2 Mataram, Lalu Suwarno dan Kepala SMPN 10 Mataram, H. Tahir. Keduanya masing-masing ketua dan sekretaris MKKS.

Saksi yang hadir pada sidang Jumat, 11 Januari 2019 kemarin ini, merupakan mereka yang menyetor uang atas pesan yang disampaikan Sidik dan Maraini. Seperti Kepala SDN 20 Ampenan, Kamahar yang mendapat panggilan telepon dari Maraini pada satu waktu di September 2017.

“Saya bawa enam amplop. Ada titipan juga dari kepala sekolah lain. Awalnya tidak mau nyetor. Ya tapi ini kan atas permintaan kepala dinas, kita merasa harus saja kasih,” ucapnya.

Baca juga:  Kasus Korupsi Kebun Kopi Tambora, Mantan Kadisbun Kabupaten Bima Bebas

Dia mengantarkan langsung uang ke rumah terdakwa. Dalam amplop yang ditandai dengan nama dan asal sekolah penyetor.

Kepala SDN 6 Ampenan, Sri Rahayuningsih mengaku meminjam uang dari kantin sekolah untuk memenuhi permintaan terdakwa. “Kami merasa itu harus ada uangnya. Itu mintanya Rp2 juta. Makanya kita keliling cari uang,” terangnya.

Kepala SDN 31 Ampenan, Sakra mengaku hanya sanggup menyetor Rp1 juta. “Ya karena hanya itu saja yang ada di  kantin,” ucapnya.

Kepala SDN 26 Ampenan, I Nyoman Mastra ikut menyetor bersama Kamahar. Meski dia tidak mendapat telepon langsung dari Maraini.

“Kepala SD 20 ditelepon Maraini. Katanya, masing-masing sekolah dimintai uang sama-sama Rp2 juta. Yang minta katanya bapak kepala dinas,” beber Mastra.

Di datang membawa uang sejumlah itu dan bertemu dengan lima kepala SD lainnya di rumah Sudenom di Sayang-Sayang, Cakranegara, Mataram. “Dari awal tidak pernah diberi tahu uangnya untuk apa. Sampai sekarang tidak tahu,” ucapnya.

Kepala SDN 1 Cakranegara, Ni Nyoman Elly Setiawati salah satu yang ditelepon Sidik untuk pertemuan di Kantor Disdik Kota Mataram. Dia datang terlambat. Namun belakangan dia diinformasikan.

“Kurang lebih itu ada 10 kepala sekolah (SD) lain. Kumpul ada pembinaan. Lalu saya dikasih tahu untuk kumpulkan Rp2 juta untuk kepala dinas,” ungkapnya.

Baca juga:  Korupsi BOS SMAN 1 Monta, Jaksa Hentikan Penuntutan Wahidin di Pengadilan

Dia tidak menyetor langsung melainkan menitip uang tersebut di dalam amplop lewat Kabid Ketenagaan pada Disdik Kota Mataram, Sri Winarni. “Saya dapat minjam di teman saya. Saya kasih Rp2 juta,” bebernya.

Kepala SDN 2 Cakranegara, Hadijah Wahab mengaku diberi tahu terdakwa Sudenom sedang sakit. Dia ikut pertemuan pembinaan bersama 10 kepala SD lainnya.

“Cuma tahu hasilnya bahwa Pak Kadis sedang sakit. Jadi diminta partisipasi Rp2 juta. Dua hari setelah itu saya baru titip Rp2 juta ke Pak Sidik,” kata dia.

Semua saksi yang hadir itu, kemudian ditanyai Suradi mengenai ada tidaknya bentuk paksaan. Misalnya, apabila tidak menyetor maka bakal disanksi, atau ancaman mutasi. Para saksi kompak menjawab tidak pernah dan tidak ada masalah kalau pun tidak menyetor uang.

Jaksa penuntut umum, Iman Firmansyah menyambung pertanyaan. “Ini kan mengakunya tidak ada paksaan. Tapi kalau ada diminta lagi, mau kasih tidak,” tanya dia. Para saksi itu juga kompak menjawab tidak mau. Sudenom sebelumnya didakwa memungut uang dari 37 kepala SD dan 21 kepala SMP di Kota Mataram sejak Juli sampai September 2017, totalnya sebesar Rp117,2 juta. (why)