Pascagempa, Usaha Wisata Senaru Mati Suri

Wisatawan mendaki Rinjani lewat jalur Aik Berik Lombok Tengah. (Suara NTB/dok)

Tanjung (Suara NTB) – Pascagempa yang melanda Kabupaten Lombok Utara (KLU) 5 Agustus 2018 lalu, membuat usaha wisata di kawasan Senaru, Kecamatan Bayan, mati suri. Ditambah dengan penutupan Rinjani sejak 1 Januari, menambah semakin sepinya usaha-usaha wisata di kawasan setempat.

Pengelola Rudy Trekker, Rudy, Selasa,  8 Januari 2019 mengakui, sejak gempa Bayan 29 Juli, dilanjutkan dengan gempa 5 Agustus dan 16 Agustus, usaha wisata Senaru mulai sepi. Pihaknya bahkan sudah sejak lama menginginkan agar pemerintah segera membuka jalur pendakian.

“Senaru mati suri, disambut musim penutupan Rinjani juga jadi tambah sepi. kalau curhatan sudah lama kita tahan, pascagempa kita berapa kali mau minta buka jalur untuk Senaru – Pelawangan saja tapi tidak direspons,” katanya.

Ia menyebut, alasan jalur rusak ke puncak Rinjani membuat akses Senaru – Pelawangan ditutup. Namun pihaknya mempertanyakan, akses pendakian dari Aik Berik (Lombok Tengah) justru direkomendasikan oleh pemerintah.

“Jadi tamu yang mau ke sini, otomatis sepi karena tidak ada tujuan. Padahal kemarin bulan Desember lumayan permintaan wisatawan yang mau naik,” jelasnya.

Rudy mengklaim, para pemilik usaha jasa wisata  di Senaru melalui Forum Citra Wisata telah bersurat ke Bupati Lombok Utara, Disbudpar KLU, dan ke TNGR. Namun hasilnya nihil. Surat yang dikirim tidak dibalas. Hingga diresmikan penutupan per tanggal 1 Januari 2019, pihak belum bisa beroperasi sampai menunggu tim survei memberi kepastian.

“Saat ini kami dipaksakan untuk membawa tamu via jalur Aik Beriq. Dan ada beberapa TO dan porter pernah mencoba jalur itu, namun testimoninya jalur malah lebih sulit dibandingkan via Senaru – Pelawangan. Justru jalur itu juga lebih berbahaya,” paparnya.

Rudy juga mengklaim, berdasarkan pengakuan porter yang pernah melewati akses Aik Beriq, jalurnya agak sulit untuk membawa barang bawaan. Porter yang memikul keranjang, kesulitan karena jalur yang sempit dan curam.

Diakuinya, jalur Senaru – Pelawangan lebih familliar bagi pengelola jasa wisata trekking. Jalur ini diakui memiliki tingkat risiko yang bisa dikatakan sangat rendah dibandingkan jalur lain. “Tetap kami bingung, kenapa, dari hasil survei TNGR mereka bilang, ada ketimpangan dan tidak adanya pemerataan dari pemegang kebijakan, sehingga kami merasa dianaktirikan,” tandasnya.

Terpisah, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Lombok Utara, H. Muhamad, S.Pd., mengaku belum bisa berbuat banyak atas usulan Forum Citra Wisata melalui surat. Pembukaan rute pendakian melakui Senaru   sepenuhnya berada di tangan TNGR.

“Waktu saya menemani bupati, ada teman- teman di Senaru menawarkan solusi membuka spot ke Pelawangan untuk sekadar melihat view. Tujuannya agar tidak terlalu lama orang-orang di sana menganggur,” katanya.

Muhamad menyebut, jumlah warga yang terlibat dalam bisnis menjual jasa wisata ke Rinjani  mencapai 2 ribuan orang di berbagai jenis usaha. Pemda KLU dalam hal ini, menyampaikan solusi pembukaan spot view agar Senaru tidak ditutup total. Namun kebijakan itu kembali ke TNGR.

“Kami tidak bisa menentang itu, tapi paling tidak mereka bisa naik sampai Pelawangan saja, dan berhenti di Pos 7, tidak langsung turun ke Segara Anak. Dan sejauh ini komunikasi kami dengan pihak TNGR adalah, karena di sana memang banyak titik – titik yang rawan longsor sehingga ditutup total,” tandasnya. (ari)