Sambut Tahun Baru 2019, Gili Trawangan Tetap Primadona

Suasana di Gili Trawangan yang tetap ramai di saat pergantian tahun 2018  ke 2019.  (Suara NTB/ ari/ars)

Mataram (Suara NTB) – Perayaan tahun baru 2019 di Kabupaten Lombok Utara (KLU) disambut suka cita oleh masyarakat. Meski pada perayaan kali ini, hiruk pikuk suasana malam tahun baru tidak seperti tahun-tahun sebelumnya.

Jalan-jalan di KLU sedikit lengang, tidak seramai sebelumnya. Warga lebih memilih berkumpul dengan keluarga atau sahabat. Bakar ikan, ayam, sembari menyalakan musik, menjadi menu berkumpul.

Catatan Suara NTB, ada dua hal yang membuat suasana pergantian tahun baru relatif sepi. Pertama, kondisi warga pascagempa membuat warga memilih berdiam diri di rumah. Kedua, adanya isu hoaks akan adanya gempa susulan disertai tsunami, membuat sebagian warga lebih memilih antisipasi. Sewaktu-waktu gempa datang, warga sudah berencana mengevakuasi diri.

‘’Ya, kita lebih baik tidak keluar. Takut isu tsunami. Apalagi tsunami sekarang tidak terjadi karena hanya gempa saja,’’ tutur warga, Jalal, Senin, 31 Desember 2018 malam.

Tidak demikian dengan situasi di Gili Trawangan. Animo pengunjung baik domestik dan mancanegara tetap tinggi menyambut tahun baru dan berlibur di Gili Trawangan. Bahkan, mereka sengaja menghabiskan malam tahun baru dengan menikmati keindahan malam di pulau tersebut.

Andre, pengunjung lokal asal Surabaya, mengakui malam tahun baru adalah malam ketiga ia menginap di Trawangan. Ia dan istri, datang ke Trawangan untuk berlibur dan berbulan madu. Ia sama sekali tidak terpengaruh akan kekhawatiran banyak orang terhadap isu tsunami.

‘’Tsunami banyak diisukan terjadi di Pulau Jawa, akibat letusan (anak) Gunung Krakatau. Mudah-mudahan di sini aman,’’ harapnya.

Keramaian malam tahun baru diamini salah seorang pekerja di Wonderland Guest House, Boni Osbourne. Pria berusia 28 tahun itu mengatakan, setiap malam pergantian tahun di Gili Trawangan akan selalu disesaki wisatawan. Mayoritas merupakan wisatawan lokal yang datang dari berbagai penjuru kota di tanah air. Namun, khusus tahun ini dinilai tak seramai tahun-tahun sebelumnya.

Baca juga:  NTB Songsong 2019 dengan Penuh Optimisme

‘’Dari Jakarta, Surabaya, Sulawesi, banyaklah pokoknya. Karena mungkin bosan ya malam tahun baruan di kota makanya milih ke pulau,’’ ungkapnya.

Di tempatnya bekerja, sebut pria asal Jawa Barat ini, kamar-kamar hotel sudah full booking pada H-3 sebelum tahun baru. Wisatawan lebih banyak memesan karena khawatir stok kamar yang disiapkan tidak cukup.

‘’Wisatawan banyak yang booking duluan. Karena banyak tamu terutama lokal tidak dapat kamar. Tahun lalu mereka sampai tidur di pantai,’’ sebutnya.

Wonderland Guest House sendiri menyediakan  12 kamar. Tarif per malam pada kondisi normal sekitar Rp 150 ribu. Namun untuk malam tahun baru ini, harga bisa melonjak menjadi Rp 400 ribu akibat tingginya permintaan.

Terhadap situasi pascagempa, menurit Boni, kunjungan ke tiga gili berangsur normal. Khususnya di Gili Trawangan. Ia merasakan sendiri karena setiap harinya melayani tamu.

Panggung Ambruk

Di tempat terpisah, perayaan tahun baru yang disiapkan Pemda Lombok Utara diwarnai oleh insiden kurang mengenakkan. Di mana panggung utama ambruk.

Momen itu terjadi saat peserta Tari Rudat akan mentas menghibur masyarakat. Satu per satu peserta Rudat naik ke panggung. Saat semua peserta terkonsentrasi di bagian tengah panggung, seketika panggung bagian tengah itu roboh. Peserta Rudat maupun penonton seketika kaget. Dari penari Rudat, tidak semuanya oleng. Ada yang masih tegak berdiri. Akibat peristiwa itu, satu orang diantaranya mengalami luka ringan.

Bupati Lombok Utara, Dr. H. Najmul Akhyar, SH. MH., didampingi Wakil Bupati, Sarifudin, SH. MH., Ketua DPRD KLU, H. Burhan M. Nur, SH., Kapolres Lombok Utara, AKBP Herman Suryono, SIK. MH., Sekda KLU, Drs. H. Suardi, MH., serta pejabat OPD, cukup kaget dengan insiden itu. Kendati demikian, dalam sambutannya Najmul mengajak warga untuk menatap 2019 dengan optimis.

Baca juga:  Meski Kondusif, Tetaplah Waspada Jelang Tahun Baru

‘’Malam pergantian tahun ini merupakan momentum untuk evaluasi, apa yang sudah dilakukan di 2018 dan apa yang akan dilakukan di 2019. Kondisi kita sedang diuji oleh Allah.’’

‘’Di tahun 2019 ini, kita ingin bangkit, (bekerja) lebih lagi dibanding tahun sebelumnya. Saya yakin semangat kita masih kuat. Momentum ini momentum untuk mempercepat kebangkitan itu,’’ katanya.

Sementara Herman Suryono menilai jalannya acara cukup menarik. Ia melihat konsep acara menyambut tahun baru menonjolkan sisi budaya dan religi masyarakat. ‘’Konsep bagus, acara bagus. Memang tadi sepertinya beban terlalu berat sehingga panggung tidak bisa menyangga. Korban satu orang mengalami luka, tetapi sudah ditangani,’’ katanya.

Sementara itu, EO acara pergantian tahun baru, Wahid Hasyim, yang dikonfirmasi menyampaikan permohonan maaf. Pihaknya betul-betul tidak menyangka akan terjadi insiden itu, terlebih di acara yang cukup penting.

‘’Ini acara penting dan kami sudah persiapkan. Sejak satu minggu kita siapkan panggung secara maksimal, agar tidak terjadi insiden. Tetapi terjadi juga insiden ini, membuat acara menjadi tidak sempurna, ya itu diluar batas perkiraan kami,” ujarnya.

Wahid mengklaim, panggung yang digunakan merupakan panggung terbaik miliknya. Panggung itu bahkan rutin digunakan untuk mengisi acara Pemda dan masyarakat. Bahkan di beberapa kesempatan, panggung yang disiapkan bisa menahan beban sampai 50 orang.

‘’Kenapa kali ini ada kejadian seperti ini, saya katakan ini betul-betul di luar dugaan kami. Kami mohon maaf yang sebesar-besarnya. Mudah-mudahan  di kemudian hari kita bisa persiapkan lebih baik lagi,’’ imbuhnya. (ari)