Dolar, Inflasi, dan Peran Bersama Menyikapinya

Ilustrasi Dolar AS (Sumber Foto : Pixabay)

Oleh : Muhammad Ainul Hikam

Di tahun 2018, Indonesia mengalami gejolak perekonomian yang fluktuatif. Di bulan Oktober lalu, nilai Dolar Amerika Serikat sempat menguat di angka Rp15.000,- per 1 Dolar Amerika.  Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, yang mencapai lebih dari 12 persen sepanjang tahun 2018 sempat dinilai bakal menaikkan harga pangan karena tingginya impor pangan Indonesia. Akibatnya, inflasi dan kemiskinan mengancam bangsa Indonesia.

Berdasarkan beberapa sumber yang saya temukan, terdapat beberapa faktor yang membuat nilai tukar rupiah terhadap dolar AS melemah pada bulan oktober lalu. Faktor yang pertama adalah neraca perdagangan yang mengalami defisit. Neraca perdagangan Indonesia sebenarnya sempat surplus pada bulan Maret sampai Juni 2018. Namun secara tahunan, neraca perdagangan kita defisit sebanyak 1,02 miliar dolar AS. Faktor kedua yang menyebabkan rupiah melemah adalah sistem perbankan dan perang dagang. ada dua hal lagi yang membuat nilai rupiah anjlok. Pertama adalah infrastruktur sistem perbankan yang kurang memadai. Kedua yakni trade war atau perang dagang yang disinyalir memperburuk kondisi keuangan global. Ini tentu saja merupakan masalah yang tidak bisa dianggap sepele dan diperlukan kontribusi dari seluruh elemen-elemen bangsa Indonesia.

Akibat dari melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dapat memicu meningkatnya kemiskinan. Ketika rupiah melemah dan dolar AS menguat dapat menyebabkan kemiskinan bertambah karena tidak sedikit bahan pangan yang berasal dari impor. Contohnya, tempe yang bahan bakunya adalah kedelai. Padahal, kedelai dipasok dari negara lain.

Jadi tidak bisa kita pungkiri bahwa saat ini Indonesia mengalami masalah ekonomi yang cukup serius. Pemerintah dalam hal ini perlu mengambil tindakan konkret agar keadaan dapat terkendali dan ekonomi bisa membaik.

Inflasi

Pelemahan nilai tukar rupiah berakibat pada naiknya harga-harga barang di pasaran. Tidak hanya barang-barang seperti elektronik ataupun kendaraan, tetapi juga berimbas pada harga kebutuhan bahan pokok. Inilah yang dinamakan inflasi, secara singkat inflasi berarti kenaikan harga umum secara terus menerus dalam periode tertentu. Lalu kenapa sebuah negara bisa mengalami inflasi?

Inflasi adalah suatu proses meningkatnya harga-harga secara umum dan terus-menerus yang berkaitan dengan mekanisme pasar yang dapat disebabkan oleh berbagai faktor. Faktor-faktor terebut antara lain, konsumsi masyarakat yang meningkat, berlebihnya likuiditas di pasar yang memicu konsumsi atau bahkan spekulasi, sampai termasuk juga akibat adanya ketidak lancaran distribusi barang. Dengan kata lain, inflasi juga merupakan proses menurunnya nilai mata uang secara kontinu. Inflasi adalah proses dari suatu peristiwa, bukan tinggi-rendahnya tingkat harga. Artinya,tingkat harga yang dianggap tinggi belum tentu menunjukan inflasi. Inflasi adalah indikator untuk melihat tingkat perubahan, dan dianggap terjadi jika proses kenaikan harga berlangsung secara terus-menerus dan saling pengaruh-memengaruhi.

Salah satu pengaruh inflasi terdapat pada penjelasan di atas. Ya, pelemahan nilai rupiah menjadi salah satu dampak terjadinya inflasi. Inflasi karena nilai tukar mata uang dapat terjadi karena harga barang yang diimpor Indonesia naik, sejalan dengan menguatnya dolar AS terhadap rupiah pada bulan lalu. Kondisi seperti ini disebut sebagai imported inflation. Pada kenyataannya, jika diakumulasikan pada bulan bulan sebelumnya, inflasi sudah terasa mengalami kenaikan walaupun belum terlalu signifikan.

Kita sebagai rakyat Indonesia pun menyadari bahwa Indonesia masih sulit mengantisipasi imported inflation akibat penguatan dolar AS. Pasalnya Indonesia masih seing melakukan kegiatan impor barang,

Jadi, kalau kita melihat dari sisi imported inflation itu susah, dikarenakan selama ini kita masih melakukan kegiatan impor. Otomatis barang itu akan mempengaruhi, walaupun dari pihak pemerintah ada upaya juga untuk mengendalikan kegiatan impor, tapi tetap saja kegiatan impor susah untuk dikurangi karena kita sangat membutuhkan barang-barang tersebut.

Peran Bersama Mengatasi Inflasi

Dalam menyikapi fenomena inflasi, pemerintah selalu mengambil tindakan yang dianggap dapat mencegah terjadinya inflasi. Maka untuk lebih mempertajam penyebab inflasi, ada tujuh sektor yang dipantau oleh pemerintah: yakni kelompok bahan makanan, makanan jadi-minuman dan tembakau, perumahan, sandang, kesehatan, pendidikan, olah raga, transportasi dan komunikasi.

Yang paling menjadi sorotan di sini adalah komoditas pangan. Komoditas pangan menjadi salah satu faktor penyebab terjadinya inflasi dikarenakan kurangnya pasokan yang disebabkan oleh gangguan produksi, distribusi, dan perubahan kebijakan pemerintah. Dari karakteristik ini, maka cara yang cukup efektif untuk mengatasinya adalah kerja sama dan koordinasi antara BI dan pemerintah dalam hal harmonisasi dan sinkronisasi kebijakan.

Di sektor pangan, misalnya, tingginya harga beras diatasi dengan meningkatkan stok beras. Bulog diperintahkan untuk membeli beras langsung dari para petani. Sementara ketika harga beras mulai naik, Bulog menggelontorkan stok untuk menurunkan atau menstabilkan harga. Begitupula dari sisi produksi maupun dari sisi distribusi semua diperhatikan oleh pemerintah demi menstabilkan tingkat harga barang.

Apa yang dilakukan oleh pemerintah di atas pada dasarnya adalah memperbaiki faktor-faktor yang menyumbang inflasi, sehingga lewat langkah-langkah itu inflasi bisa diperkecil. Sebagai bagian dari masyarakat Indonesia kita juga bisa berperan untuk mengendalikan inflasi, antara lain dengan berbelanja sesuai kebutuhan dan menggunakan produk dalam negeri. Dan bila kita bisa menjaga inflasi pada angka yang rendah, maka pertumbuhan ekonomi betul-betul dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. (*)