Ketika Warga Kuta KEK Mandalika Duduki Kursi Gubernur NTB

Warga Desa Kuta Kecamatan Pujut Lombok Tengah saat menyampaikan aspirasinya di ruang kerja Gubernur NTB, H. Zulkieflimansyah, Jumat, 14 Desember 2018. (Suara NTB/ist)

Mataram (Suara NTB) – Belasan warga Kuta yang tinggal di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika mendatangi acara Jumpa Bang Zul – Ummi Rohmu, Jumat, 14 Desember 2018. Kedatangan belasan warga yang semuanya bersandal dan berpakaian khas Sasak, menarik perhatian para warga yang mengikuti acara Jumpa Bang Zul-Ummi Rohmi.

 

Dengan pembawaan yang santun, mereka berjalan menuju karpet bagian belakang dan duduk dengan tenang mengikuti acara.  Tidak ada yang angkat tangan, untuk mengajukan pertanyaan atau keluh kesah selayaknya warga lain yang hadir. Mereka terlihat sabar menunggu dalam diam, hingga kegiatan Jumpa Bang Zul – Ummi Rohmi berakhir.

 

Setelah sebagian besar masyarakat bubar, Gubernur NTB, Dr. H. Zulkieflimansyah menghampiri dan bersalaman dengan setiap warga yang hadir. Melayani curhat, mengobrol ringan dan informal sambil melayani keinginan warga yang ingin ber-swafoto dengannya. Saat sampai di bagian belakang, Gubernur langsung menyapa bertanya maksud kedatangan mereka yang rata-rata mengenakan sarung  dan ikat kepala dengan gaya yang seragam.

 

Salah satu perwakilan rombongan pun menjawab pertanyaan Gubernur. Dan ketika mengetahui siapa saja rombongan tersebut dan maksud kedatangannya, Doktor Zul langsung mengajak mereka menuju ruang kerja Gubernur. “Belum pernah masuk ruang kerja Gubernur kan? Ayo kita ngobrol-ngobrol di sana,” ajak  Doktor Zul.

 

Tidak menunggu lama, 15 orang  yang ternyata berasal dari kawasan pesisir pantai selatan Desa Kuta, Kecamatan Pujut Lombok Tengah dan dipimpin kepala dusunnya itu, langsung menuju Gedung 1 Kompleks Kantor Gubernur.

 

Awalnya mereka duduk dan menunggu di Ruang Rapat Utama Kantor Gubernur.  Namun, Doktor Zul kemudian meminta mereka untuk masuk ruang kerjanya. Akhirnya mereka masuk ke dalam ruang kerja Gubernur NTB, yang selama ini tidak pernah terbayangkan untuk bisa mereka masuki.

 

Saking groginya, sebagian masyarakat melepas sandal di luar pintu ketika hendak masuk ruangan kerja Gubernur. “Ayo silakan masuk. Pakai saja sandalnya Pak, jangan dilepas di luar,” ujar Gubernur.

 

Meski terlihat canggung, akhirnya belasan masyarakat  yang tinggal di sekitar KEK Mandalika itu masuk dan bergegas duduk di kursi yang selama ini memang disediakan untuk para tamu Gubernur. “Ayo..ayo..silahkan duduk.” kata Gubernur.

 

Semuanya sudah duduk, termasuk Gubernur. Namun kali ini, Gubernur tidak duduk di kursi yang biasa ia tempati ketika menerima tamu. Namun mengambil posisi sofa deretan bagian barat yang menghadap ke timur. Agar bisa berbaur dan lebih dekat dengan warga yang menemuinya. Sebagian warga duduk di kursi, dan sebagian lagi lebih senang duduk bersila di lantai beralasakan karpet.

Baca juga:  Yuk, Intip Bocoran Strategi Gubernur Kembangkan Ternak Sapi di NTB

 

“Saya duduk di sini saja ya. Biasanya sih gubernur duduk di situ,” kata Gubernur sambil menunjuk salah satu kursi yang menghadap ke selatan.

 

Sontak, penjelasan gubernur itu membuat seluruh yang hadir tertawa dan sedikit kaget. Karena salah seorang warga yang datang menemui gubernur itu, sejak masuk ruang sudah duduk di kursi itu. Hanya saja, ia baru sadar kalau itu kursi Gubernur setelah diberitahu Gubernur.

 

“Nggak apa-apa, duduk saja di situ biar tahu rasanya kursi gubernur,” kata Gubernur.  Suara tertawa pun kembali pecah di ruang kerja Gubernur tersebut.

 

Setelah semuanya duduk, Gubernur mempersilahkan warga itu untuk menyampaikan maksud kedatangannya. Namun sebelum itu, gubernur tiba-tiba beranjak dari tempat duduknya dan mengambil piring yang berisi pisang goreng, kemudian menyodorkannya ke warga yang duduk.

 

“Sila sila dinikmati. Sambil makan-makan saja ya kita ngobrolnya,” kata Gubernur sambil berjalan keliling membagikan pisang goreng tersebut. “Jadi bagaimana, apa yang mau disampaikan? tanya Gubernur kepada warga.

 

Ketua rombongan, sekaligus Kepala Dusun di Desa Kuta, Mungkini menjelaskan maksud kedatangannya itu. Ia tak menyangka akan diterima di ruangan kerja gubernur. “Ini merupakan kehormatan bagi kami. Kami terus terang tidak menyangka bisa masuk di ruang kerja gubernur ini,” katanya.

 

Kedatangan warga yang berdomisili di salah satu kawasan wisata terbaik Indonesia itu ingin menyampaikan permasalahan yang selama ini mereka rasakan. Yaitu terkait tidak diizinkannya lagi mereka untuk beraktivitas berjualan di sekitar kawasan KEK Mandalika.

 

Bahkan mereka mengaku, pihak ITDC telah mengeluarkan edaran, yang menurut mereka bernada mengusir. Sehingga, hal inilah yang menurut mereka tidak adil.  Mungkini juga mengaku kalau masyarakat di sekitar Kuta itu mendukung pembangunan kawasan yang pernah diresmikan Presiden Joko Widodo itu.

 

Hanya saja katanya, masyarakat berharap bisa diberi ruang dan mengambil manfaat dari pembangunan itu. “Bukan malah diusir,” katanya penuh semangat.

Baca juga:  Gubernur Perintahkan Penggalian Awal Situs Kerajaan Kuno Tertimbun di Loteng

 

Gubernur pada saat itu didampingi Kepala Dinas Penanaman Modal dan Perizinan Terpadu Satu Pintu (DPM PTSP) Provinsi NTB, Lalu Gita Aryadi. Gubernur kemudian menjelaskan bahwa masyarakat harus diutamakan dalam setiap pembangunan.

 

Sebab, pembangunan apapun selama ini, dihajatkan untuk kepentingan masyarakat. Tidak ada yang boleh dirugikan atau terpinggirkan karena adanya investasi. Setiap investasi yang ada di NTB, justru harus membawa manfaat bagi setiap warga, terutama warga setempat di lokasi perusahaan yang berinvestasi.

 

Karena itu, Gubernur akan membicarakan persoalan itu dengan pihak-pihak terkait sesegera mungkin, agar mendapatkan solusi dan titik temu dari persoalan itu. “Bagini aja, coba adakan kegiatan untuk konsolidasi dan saling berunding di desa sana. Nanti saya hadir bersama PT ITDC dan pihak-pihak terkait lainnya. Nanti bisa kita dialog atau rundingkan yang enak dan nyaman, sehingga bisa mendapatkan solusi yang memenangkan semua pihak,” saran Gubernur.

 

Atas saran Gubernur yang sekaligus adalah Ketua Dewan KEK Mandalika  itu, warga yang hadir menyetujui dan menyatakan siap mengadakan kegiatan di Desa Kuta. Setelah semuanya mendapat penjelasan, Gubernur meminta Kepala DPM PTSP NTB, Lalu Gita Aryadi untuk membantu dan mencatat keluhan warga tersebut.

 

Sehingga, masalah-masalah yang ada dapat segera diselesaikan. Gubernur pun mempersilakan warga Kuta untuk menikmati minum dan sajian yang ada di ruangan sambil mengobrol santai.  Menurut Kepala DPM PTSP NTB,  Lalu Gita Aryadi, dirinya menyempatkan bicara dari hati ke hati dengan para warga. Karena kebetulan berasal dari wilayah yang sama, dirinya ngobrol dengan bahasa khas Sasak.

 

“Saya mengajak mereka bertukar pikiran untuk memahami persoalan gaya bahasa (dalam surat edaran), yang mungkin ditafsirkan kurang pas. Mungkin bukan dilarang, namun dibina dan akan diberikan lokasi yang lebih nyaman untuk berjualan atau beraktivitas lainnya. Ini masalah komunikasi dan sosialisasi yang kurang intensif, karena memang proyek KEK Mandalika masih relatif baru,” kata Komisaris ITDC ini.

 

Yang jelas, kata Gita, Gubernur dan Pemprov NTB tidak akan membuat warga sekitar Mandalika termarginalkan. Namun justru bersinergi dan bisa mengambil manfaat sebesar-besarnya dari investasi megaproyek KEK Mandalika. Tak berapa lama, belasan warga tersebut kemudian berpamitan pulang, ditemani Kepala DPM PTSP NTB. (nas)