Warga Sesalkan Lambannya Penanganan Jembatan Rusak di Bima

RUSAK - Jembatan di Dusun Loka, Desa Boro, Kecamatan Sanggar yang rusak sejak awal tahun 2018 lalu. (Suara NTB/uki)

Bima (Suara NTB) – Sejumlah warga di Kecamatan Sanggar menyesalkan lambannya perhatian pemerintah dalam menangani jembatan di dusun Loka Desa Boro Kecamatan Sanggar yang rusak sejak awal tahun 2018 lalu.

Salah seorang warga yang mengeluhkan kondisi jembatan tersebut yakni Sarif, warga desa Piong Kecamatan Sanggar. Menurut dia, rusaknya jembatan itu menyulitkan warga melintas, terutama saat turun hujan.

“Saat kondisi turun hujan kita tidak bisa melintas karena terhalang banjir,” katanya kepada Suara NTB, akhir pekan kemarin.

Menurutnya kondisi jembatan yang rusak tersebut telah dilaporkan beberapa kali ke Pemerintah Kecamatan Sanggar hingga Pemerintah Kabupaten Bima. Hanya saja belum ada respon sampai sekarang. “Sudah berkali-kali kami laporkan, dengan harapan jembatan ini bisa diperbaiki. Tapi sampai saat ini belum juga ada perhatian,” katanya.

Warga lain, Asrina juga mengeluhkan hal yang serupa dan berharap ada perhatian serius dari Pemerintah untuk memperbaiki jembatan. Pasalnya sudah lama jembatan itu rusak.“Kondisi jembatan yang rusak ini sudah satu tahun kami lewati. Kami berharap ada perhatian agar segera diperbaiki,” katanya.

Sementara, Camat Sanggar, Ahmad, SH, mengaku pihaknya tidak bisa berbuat banyak mengenai kerusakan jembatan tersebut. Meskipun dalam satu tahun ini warga kerapkali mengeluhkan ke pihaknya.

Menurutnya, jembatan tersebut rusak sejak tahun 2017 kemarin, akibat diterjang banjir bandang. Hanya saja rusaknya pada saat itu masih bisa dilewati oleh kendaraan roda dua dan roda empat. “Tapi banjir bandang kembali menerjang awal 2018 membuat kerusakan yang cukup parah dan tidak bisa dilewati. Saya tidak tahu jelas angka kerusakannya. Tapi perkiraannya mencapai miliaran rupiah,” katanya.

Diakui Ahmad, sejak rusaknya jembatan tersebut pihaknya telah melaporkan ke Pemerintah Kabupaten Bima. Bahkan juga menyampaikan ke Bappeda Provinsi NTB, pada saat pertemuan membahas Geo Park Tambora di Mataram, pertengahan tahun 2018 lalu.

“Hanya saja, alasannya, status jalan dan jembatan ini sudah masuk nasional. Karena jembatan ini masuk dalam jalan nasional lintas Tambora bagian utara,” katanya.

Meski demikian pihaknya tetap berharap agar jembatan diperbaiki secepatnya. Karena rusaknya jembatan tersebut, para pelajar dari Desa Piong yang bersekolah ke Desa Kore (Ibukota) Kecamatan Sanggar kesulitan akses jika terjadi hujan. “Mereka harus melewati jembatan ini. Kondisi normal memang bisa dilewati. Tapi saat hujan harus menunggu air banjir sungai surut,” katanya.

Selain warga, desakan perbaikan jembatan juga seringkali disampaikan para supir bus umum. Mereka meminta jembatan segera dikerjakan. Karena jembatan itu merupakan akses satu-satunya menuju ke Tambora. “Kami berharap tahun 2019 mendatang perbaikan jembatan ini diprioritaskan,” harapnya.

Sebelumnya, Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) Kabupaten Bima, Drs. Sirajuddin, MM, juga berharap adanya perhatian dari Gubernur NTB, Dr. H. Zulkieflimansyah untuk memperbaiki jembatan yang masuk jalan Provinsi.

“Saya berharap ada perhatian dari Gubernur dan memperbaiki jembatan ini,” katanya kepada Suara NTB, Kamis (29/11).

Dikatakannya permintaan dan harapan tersebut menindaklanjuti keinginan dari masyarakat dan Pemerintah Desa setempat karena sejak ambruknya jembatan mereka kesulitan untuk beraktivitas setiap hari.

“Bahkan saat musim penghujan seperti ini, masyarakat mengeluhkan harus menunggu air sungai surut baru bisa melewati jembatan,” katanya.

Bahkan lanjut Sirajudin, akibat lambannya penanganan dan perbaikan jembatan tersebut juga berdampak menggangu serta melumpuhkan aktivitas perekonomian masyarakat setempat. “Sebelumnya pernah dibuatkan jembatan alternatif tapi ambruk karena beban yang melewati jembatan berat,”  pungkasnya. (uki)