Data Rumah Rusak Membengkak Jadi 206.284 Unit

Kepala Dinas Perkim NTB, IGB. Sugihartha (Suara NTB/nas)

Mataram (Suara NTB) – Dinas Perumahan dan Permukiman (Perkim) NTB bersama Pemda kabupaten/kota terdampak bencana telah melakukan verifikasi rumah warga yang rusak akibat gempa beberapa waktu lalu. Hasil verifikasi yang dilakukan, jumlah rumah warga yang rusak membengkak jadi 206.284 unit.

Laporan sebelumnya yang diterima Pemprov NTB dari masyarakat, jumlah rumah yang rusak sekitar 204 ribu unit. Namun setelah dilakukan verifikasi ke lapangan, ternyata rumah warga yang rusak di tujuh kabupaten/kota terdampak bencana membengkak.

‘’Setelah kita lakukan verifikasi, teman-teman kabupaten/kota ditelusuri ternyata sudah membengkak dari yang ada. Tapi semua itu finalnya di rencana aksi rehabilitasi dan rekonstruksi,’’ kata Kepala Dinas Perkim NTB, Ir. IGB. Siguhartha, MT dikonfirmasi di Kantor Gubernur, Jumat, 19 Oktober 2018.

Dijelaskan, membengkaknya jumlah rumah yang rusak karena warga pasif melapor. Mayoritas rumah masyarakat yang belum dilaporkan itu kerusakan ringan hingga sedang. Sedangkan untuk rumah yang rusak berat, kata Sugihartha jumlahnya sekitar 83 ribu unit.

Baca juga:  Penyimpangan Dana Gempa, BPBD Sarankan Lapor Polisi dan “NTB Care”

‘’Hampir semua kabupaten (jumlah rumah rusak) membengkak angkanya. Yang bergerak terus itu Kota Mataram, Lombok Tengah, Lombok Barat juga meningkat,’’ ujarnya.

Sementara, data Pusat Komando Penanggulangan Bencana Gempa NTB, hasil verifikasi, sebanyak 73.312 unit rusak berat,  30.911 unit rusak sedang dan 102.061 unit rusak ringan. Dari jumlah itu, baru 73.187 unit rumah rusak berat di-SK-kan bupati/walikota. Sedangkan yang rusak sedang dan ringan masing-masing 30.817 unit dan 101,780 unit.

Sehingga total rumah rusak yang telah di-SK-kan bupati/walikota sebanyak 205.784 unit. Yang belum di-SK-kan sebanyak 500 unit. Total rumah yang terverifikasi sebanyak 206.284 unit.

Sementara itu, terkait dengan rencana relokasi warga yang berada di daerah sesar gempa di Kecamatan Kayangan Lombok Utara, tak jadi dilakukan. Sugihartha menyebutkan ada tujuh lokasi yang sebelumnya akan direlokasi,  namun batal dilakukan.

Baca juga:  15.069 Korban Gempa di Kota Mataram dan KSB Segera Terima Jadup

‘’Awalnya, kita konsepkan relokasi. Namun kami minta pendapat dari beberapa ahli yang pada akhirnya dipertegas lagi Badan Geologi.  Menjelaskan bagaimana yang ada di daerah Kayangan KLU. Ternyata patahan itu hanya patahan permukaan saja. Bukan patahan lempengan yang dalam. Sehingga tak perlu dilakukan penataan ruang ulang,’’ jelasnya.

Artinya masyarakat yang berada di tujuh titik di Kecamatan Kayangan tidak perlu direlokasi ke tempat lain. Tetapi patahan-patahan yang ada sebelumnya diperbaiki kembali. Patahan dengan lebar tak lebih dari setengah meter akan kembali ke posisi awal ketika musim hujan datang.

‘’Ada sekitar 840 KK di sana. Memang sedianya kita siapkan relokasi dengan dana Rp 400 miliar tapi ndak jadi.Kami sudah diberikan penjelasan Badan Geologi, hanya patahan  permukaan saja,’’ imbuhnya.

Sugihartha menambahkan pembangunan hunian masyarakat akan tetap dilakukan di lokasi awal. Namun akan diperkuat struktur bangunan rumah agar tahan terhadap gempa. (nas)