Inspirasi Perempuan NTB, Sirra Prayuna Gandeng Desainer Ririn Rinura

Pemilik Dela Sirra Resto Seafood and Grill, Sirra Prayuna, saat menggelar konferensi pers bersama desainer ternama, Ririn Rinura dan Manajer Dela Sirra Resto Seafood and Grill, Dewa Dirga. (Suara NTB/aan)

Mataram (Suara NTB) – Pengacara yang juga pemilik Dela Sirra Resto Seafood and Grill, Sirra Prayuna, SH, menggandeng desainer ternama, Ririn Rinura untuk menghelat kegiatan peragaan busana di Mataram, Sabtu, 20 Oktober 2018. Kegiatan ini digelar dengan tujuan untuk menginspirasi para perempuan NTB agar bangkit dari dampak bencana gempa bumi.

Rencana itu disampaikan Sirra Prayuna bersama Ririn Rinura dalam keterangan pers yang digelar Jumat, 19 Oktober 2018. Hadir pula, Manajer Dela Sirra Resto Seafood and Grill, Dewa Dirga.

Dalam kesempatan itu, Ririn Rinura mengutarakan kegiatan ini digelarnya karena didorong oleh niatan untuk menginspirasi para perempuan NTB melalui bidang busana yang digelutinya.

Dalam kegiatan yang digelar di Dela Sirra Resto Seafood and Grill ini, Ririn akan menampilkan peragaan busana, berkolaborasi dengan Sirra selaku pemilik Dela Sirra Resto Seafood and Grill. Kegiatan ini dipadukan dengan re-opening Dela Sirra Resto Seafood and Grill.

“Di sini saya akan suguhkan fashion show bertema ethnic millenial. Perpaduan antara fashion budaya Indonesia, agama dan tren saat ini. Fashion agama dan budaya bisa berjalan seiringan bersama. Menjadi trendsetter fashion line di Indonesia,” ujar Ririn.

Untuk kegiatan ini, Ririn telah menyiapkan 16 koleksi busana yang dibuatnya, dan akan diperagakan oleh para model asal NTB. Ririn mengaku membutuhkan persiapan selama tiga pekan untuk menyiapkan kegiatan ini.

Busana yang akan ditampilkan Ririn di kegiatan ini akan mengedepankan tiga warna yaitu merah muda yang identik dengan perempuan, hitam yang dapat menyimbolkan kekuatan, dan hijau sebagai simbol kebangkitan atau pertumbuhan.

“Jadi ini perpaduan etnik budaya, campuran kain NTB, songket, dan bahan dari Pangandaran, daerah saya, dicampur bahan yang umum seperti sifon, brokat dan tile. Saya ingin menyuguhkan desain yang sederhana. Tidak mungkin saya menyuguhkan yang glamor karena kita sedang berduka,” tegas Ririn. Sebagai penggambaran, Ririn mengaku di Jakarta ia biasa menjual busana desainnya dengan

harga minimal Rp 2,5 juta. Sementara di pagelaran busana kali ini ia mematok harga busana karyanya tidak akan lebih dari Rp 1 juta.

Busana karya Ririn juga akan bercirikan sopan, elegan, feminin, sesuai dengan tren masa kini. Dengan peragaan busana ini, Ririn berharap bisa menginspirasi para perempuan NTB yang hadir agar terinspirasi untuk terus berjuang, melanjutkan hidup pascabencana.

“Jangan terlena dengan keadaan. Tetap harus berjuang. Gunakan waktu sebaik-baiknya. Jangan membuang-buang waktu, karena waktu akan terus berjalan  tidak akan kembali. Untuk bangkit, saya minta belajarlah, menimba ilmu sesuai keahlian masing-masing. Baca, belajar, belajar dari youtube, jangan terlalu banyak buka (akun) gosip, untuk menaikkan karya kita menjadi lebih produktif,” serunya.

Sirra Prayuna menegaskan, ia sendiri memang berinisiatif mengajak Ririn untuk menggelar kegiatan di NTB ini demi membantu pemulihan NTB pascabencana. “Kita berharap dengan kehadiran Ririn yang memang seorang desainer yang karyanya sudah mendunia, perempuan NTB bisa terinspirasi. Terdorong untuk bangkit, jadi perempuan tangguh,” pungkasnya.

Terkait re-opening Dela Sirra, Dewa Dirga mengutarakan bahwa pascabencana gempa bumi, pihaknya mengusung perubahan tema dari kafe menjadi resto. Sebagai seorang yang cukup lama malang melintang di bisnis kuliner, Dewa Dirga menegaskan Dela Sirra akan lebih fokus untuk menitikberatkan sajian mereka dengan menu seafood dengan cirarasa khas Lombok.

“Tapi dengan penampilan internasional. Makanan Indonesia yang akan kita tampilkan secara internasional. Mudah-mudahan ini bisa jadi perpaduan yang bagus,” ujar Dewa Dirga.

Ia menambahkan, dari segi harga, menu yang disajikan Dela Sirra juga tidak mahal. Hal ini karena Dela Sirra mengolah menu yang benar-benar berasal dari NTB sendiri.

“Bahan-bahan kita ambil fresh dari nelayan langsung. Bumbu-bumbu yang kita gunakan adalah rempah-rempah dari Lombok. Sampai garnish-garnish impor kita hindari. Kita pakai kemangi, bayam, dan sebagainya. Karena itulah, dari segi harga, otomatis lebih murah karena berbahan lokal,” pungkasnya. (aan/*)