Pertemuan Tahunan IMF-WB, Hotel di NTB “Gigit Jari”

Ketua PHRI Provinsi NTB, Hadi Faisal (Suara NTB/bul)

Mataram (Suara NTB) – Perhelatan pertemuan bertaraf internasional Lembaga Dana Moneter Internasional atau International Monetary Fund (IMF) dan Bank Dunia di Nusa Dua, Bali nampaknya tak banyak memberi efek tetes bagi ekonomi NTB. Hotel-hotel dan restoranpun hanya bisa gigit jari dan jadi penonton.

Seyogianya, dampak pertemuan tersebut memberi pengaruh besar mendongkrak beberapa jenis usaha di sektor pariwisata. Perhotelan, restoran, transportasi dan usaha-usaha ikutan lainnya di sektor pariwisata.

“Tapi kita belum menyerah dulu, kita masih usahakan peserta pertemuan tahunan IMF WB ini bisa datang dan liburan ke Lombok,” kata Ketua Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Provinsi NTB, L. Hadi Faisal.

Bank Indonesia Provinsi NTB sebelumnya mengkonfirmasi pertemuan tahunan IMF-WB yang berlangsung di Nusa Dua Bali, hingga 14 Oktober 2018 ini akan hadir setidaknya 150 – 200 orang delegasi negara-negara peserta dan jurnalis internasional akan berkunjung ke KEK Mandalika. Itupun, mereka hanya ditampung di satu hotel di Kuta, Lombok Tengah.

Sebelum terjadinya gempa, kata Hadi Faisal panitia pusat pelaksanaan IMF-WB telah meninjau lokasi penginapan bagi tamu-tamu yang akan berkunjung ke Lombok. Hotel dari Lombok Utara, Lombok Barat, Kota Mataram dan Lombok Tengah telah diperiksa dan dinyatakan oke. Pascagempa yang terjadi sejak 29 Juli 2018, nyaris komunikasi dengan panitia pusat hilang begitu saja. Rencana-rencana kegiatan di Lombok dibatalkan secara halus.

“Kita merasa sedikit bersedih. Sejak perencanaan awal, tidak seperti yang kita duga selama ini.  Di awal-awal kami sudah meeting di Nusa II dengan panitia nasional. Tetapi perubahan sangat cepat, saat terjadi gempa. Semua yang sudah menjadi perencanaan kita menggeser meeting ke sini, meleset semua,” ujarnya.

Peluang yang masih dikejar adalah masih akan ada limpahan. Pada prinsipnya, hotel dan restoran di Lombok telah siap menampung kunjungan. Lombok telah mulai recovery, mulai normal.  Artinya, tidak pas panitia pelaksanaan IMF–WB membatalkan kunjungan peserta ke Lombok.

Tak mau menyerah, L. Hadi Faisal mengatakan, hotel-hotel dari Lombok akan mewakili PHRI untuk melakukan sales promotion di lokasi kegiatan. Diantaranya Killa Senggigi Beach, Jayakarta, Holiday Resort, Lombok Astoria, Hotel Gili Trawangan. Dengan manuver ini, Lombok ingin meyakinkan sangat siap menjamu tamu.

“Gempa sudah berlalu. Sekarang tidak ada apa-apa lagi. Itulah yang saya protes (NTB tak dapat apa-apa), karena terlalu lama, bahkan ada dari teman-teman biro perjalanan menjual paket. Semua kita siapkan. Tapi kalau ada kesimpulan dari panitia pusat untuk tidak memberikan kesempatan Lombok, akan rugi mereka,” katanya.

Sebab NTB sangat dekat dengan Bali. Boleh-boleh saja acara telah dimulai. Tetapi harapan masih ada, limpahan tamu datang ke Lombok. Garuda Indonesiapun telah menyanggupi extra flight bilamana banyak limpahan masuk ke Lombok. Demikian juga dengan Benoa yang menjadi pusat penyeberangan ke Lombok juga telah siap.

“Kita belum lempar handuk. Kita masih berharap besar kegiatan internasional ini akan berdampak besar terhadap ekonomi daerah kita,” demikian Hadi Faisal. (bul)