Sosialisasi BKKBN Desa Tanak Rarang

Nikah Dini Memperburuk Masa Depan Hidup

Sambutan Wakil Ketua Komisi IX DPR RI, Dra. Hj. Ermalena MHS

Praya (Suara NTB) – Menekan angka kelahiran terus gencar dilakukan tim Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN ) Perwakilan NTB bersama mitra kerja. Puluhan desa disasar untuk sukseskan program Keluarga Berencana (KB) demi menekan pernikahan dini. Sebab menikah dini sama dengan memperburuk masa depan hidup.

Wakil Ketua Komisi IX DPR RI, Dra. Hj. Ermalena MHS cukup tegas mengingatkan itu. Bahwa pernikahan tidak tidak akan menjamin masa depan hidup.

“Kalau dia nikah dini, tentu putus sekolah kan? Kalau putus sekolah, tentu tidak bisa menjamin dapat pekerjaan bagus. Kalau sudah begini, tidak ada jaminan masa depan,” kata Ermalena  saat menjadi pemateri dalam acara Program Pengendalian Penduduk bersama mitra kerja diselenggarakan  BKKBN Perwakilan NTB, Sabtu (6/10).  Ia tidak ingin penduduk setempat hanya menjadi TKI atau TKW yang gajinya rendah, tapi harus  bekerja di tempat berkelas dengan syarat pendidikannya harus berkualitas. “Kalau ke luar negeri, harus jadi bos dong. Jangan mau jadi TKI TKW gaji kecil,” sarannya.  Ia prihatin, di NTB rata rata pendidkan masih 6,8 tahun. Kelas I SMP, siswa siswi sudah menikah. Maka dari itu, ia menyarankan agar  dalam berkeluarga harus direcanakan.

Kades Tanak Rarang Misbahul Haram menyebut,  ada 738 KK di desanya dengan pasangan usia subur 649 KK. Dari jumlah itu yang aktif program KB 442 orang atau 6 7,7 persen.

Kepala BKKBN Perwakilan NTB, Dr. Dr Drs. Makripudin M.Si menjelaskan pentingnya Air Susu  Ibu (ASI) yang mengandung probiotik, berfungsi  mencegah kangker , diabetes, diare serta penyakit berbahaya lainnya.  Sangat penting diperhatikan ibu ibu, karena berkaitan dengan kesehatan dan kualitas pertumbuhan sampai kecerdasan. Saat ini IPM NTB naik satu digit, urutan 29 dari sebelumnya urutan 30.  Menjadi tugas pihaknya, dibantu masyarakat dalam partisipasi menciptakan penduduk sehat melalui program KB demi terus naiknya IPM.

Kepala BP2AKB Kabupaten Lombok Tengah, H. Mulyardi Yunus menjelaskan, untuk pengendalian jumlah penduduk, peran tidak hanya ibu ibu dengan meminum atau memasang kontrasepsi. Laki laki juga berperan dengan berbagai alat kontrasepsi khusus.

Sambuan Direktur Analisis Dampak Kependudukan BKKBN pusat, Dra.Hitima Wardhani,MPH memuji IPM NTB yang semakin membaik. Namun tidak boleh berpuas diri. Masyarakat disarankannya terus membantu pemerintah memalui pembangunan yang pesat. Masalah yang dihadapi negara saat ini adalah pengendalian penduduk, dengan menekan kelahiran bayi dalam jumlah banyak di satu keluarga. Sebab dampaknya ke kemiskinan, kurangnya pendidikan, mundurnya pembangunan. (ars/*)