Soal Rumah Kemasan, Ini Komentar Wagub Rohmi

Mesin yang tersedia di Rumah Kemasan. Namun keberadaan mesin tersebut belum berfungsi maksimal sehingga terkesan mubazir. (Suara NTB/dok)

Mataram (Suara NTB) – Tidak produktifnya operasional rumah kemasan menjadi sorotan Wakil Gubernur NTB, Dr. Hj. Sitti Rohmi Djalilah, M.Pd. Ia meminta Dinas Perindustrian (Disperin) harus membuat rumah kemasan produktif.

Orang nomor dua di NTB ini juga meminta Disperin jangan malu mencontoh daerah lain yang memiliki rumah kemasan. ‘’Ndak usah malu kita contoh orang. Kalau itu memang cara kita maju lebih cepat,’’ kata Wagub saat rapat teknis penanggulangan kemiskinan di Kantor Gubernur.

Wagub meminta supaya tak perlu meninggikan ego untuk belajar ke daerah lain yang lebih maju. NTB harus bisa memiliki rumah kemasan seperti Surabaya dan daerah-daerah lainnya. ‘’Itu tanggung jawab kita,’’ katanya.

Baca juga:  Program "Yes I Do" Tingkatkan Kapasitas UMKM di Lombok Barat

Rohmi mengatakan, masyarakat atau Industri Kecil Menengah (IKM) jangan ditinggalkan. Tetapi harus didampingi oleh pemerintah daerah untuk meningkatkan kualitas produknya.

Rumah kemasan merupakan eks Unit Penyangga Pemasaran (UPP) Pijar merupakan  tempat pemasaran produk olahan Pijar yang  dihasilkan oleh para Usaha Mikro Kecil  Menengah (UMKM) yang telah dilatih dan dibina oleh Dinas Koperasi dan UMKM NTB.

UPP tersebut berfungsi sebagai tempat  pengemasan dan pengepakan hasil olahan produk Pijar yang selanjutnya dikirim ke outlet-outlet toko  modern yang ada di Bali dan Nusa Tenggara. Selain itu, hasil olahan produk Pijar juga menyasar pasar retail (toko modern) di Pulau Jawa dan Jabodetabek.

Baca juga:  Program "Yes I Do" Tingkatkan Kapasitas UMKM di Lombok Barat

Sebanyak 730 UMKM di NTB sudah dilatih mengolah produk Pijar  di Pusat Pelatihan Industri Olahan Produk Unggulan di Malindo Sulawesi Tenggara. Para UMKM yang telah dilatih tersebut selanjutnya diminta  terus berproduksi dan dapat menularkan ilmu yang pernah didapat kepada 10-20 orang.

Untuk pengemasan dan pengepakan produk olahan Pijar  yang dihasilkan oleh Industri Kecil Menangah (IKM) di NTB tersebut, pada tahun 2013  diadakan mesin finishing senilai Rp 1,5 miliar dengan kapasitas 3 ton bahan baku perhari. Artinya dibutuhkan ratusan IKM yang menghasilkan bahan olahan pijar dalam bentuk setengah jadi yang selanjutnya diolah finishingnya  di UPP Produk Olahan Pijar NTB. (nas)