Penyelidikan Gedung Evakuasi Bencana KLU Berpeluang Dibuka

Gedung evakuasi bencana di Bangsal Lombok Utara  saat dilakukan cek fisik oleh ahli ITS didampingi tim Ditreskrimsus Polda NTB. (Suara NTB/dok)

Mataram (Suara NTB) – Kasus dugaan penyimpangan pembangunan gedung evakuasi bencana  di Kecamatan Pemenang Kabupaten Lombok Utara (KLU) berpeluang dibuka lagi. Kondisi gedung saat ini rusak akibat guncangan gempa, faktor lain diduga akibat gagal konstruksi.

Kabid Humas Polda NTB, AKBP I Komang Suartana kepada Suara NTB, Kamis, 13 September 2018 menjelaskan, pembangunan gedung itu sebelumnya memang sempat diusut Ditreskrimsus pada 2016 lalu. Namun informasi diperolehnya  penyelidikan dihentikan karena belum cukup bukti untuk dilanjutkan.

‘’Untuk detail kasusnya seperti apa, saya perlu koordinasi informasinya dari Krimsus. Tapi itu info awalnya,’’ jelasnya.

Ditanya kemungkinan dengan rusaknya gedung itu akan diusut lagi, menurutnya, bisa saja penyelidikan baru dilakukan Ditreskrimsus.

‘’Kasus itu bisa saja dibuka kembali, dengan catatan ada bukti baru,’’ sebutnya.  Soal jenis bukti atau fakta baru yang menjadi rujukan penyelidikan ini  hanya dipahami teknisnya oleh penyidik Subdit III Tipikor yang sebelumnya mengusut proyek milik BNPB dikerjakan oleh Kementerian PUPR itu.

Secara umum dalam kasus bencana saat ini,  kemungkinan dilakukan penyelidikan perlu diawal dengan penelitian oleh ahli. ‘’Harus dicek dulu dari ahli kontruksi bangunan, dari  Dinas PU  yang mengetahui terkait struktur bangunan,’’ jelasnya.

Baca juga:  Dua Terdakwa Program Jambanisasi Bayan Ditahan

Dapat juga dilakukan koordinasi dengan BPKP terkait audit anggaran pembangunan jika kasusnya ditangani.  Di sisi lain, dukungan masyarakat tetap diperlukan.  ‘’Apabila ada laporan dari masyarakat, juga bisa jadi  bahan untuk segera dilakukan lidik,’’ pungkasnya.

Sebelumnya gedung  ini diusut Ditreskrimsus Polda NTB pada 2015 lalu. Penyelidikan dipimpin Kasubdit III Tipikor, AKBP Andy Hermawan, SIK. Perkembangan penanganan kasus ini juga cukup signifikan, sampai melibatkan ahli ITS untuk cek fisik Juli 2015 lalu.

Proyek ini dikerjakan oleh pada Ditjen Cipta Karya pada Satuan Kerja (Satker)  Penataan Bangunan dan Lingkungan NTB. Letak proyek di  Desa Bangsal Kecamatan Pemenang KLU. Gedung ini diketahui dibangun  PT. WK dengan konsultan perencana CV. AC Konsultan tahun 2014 lalu dengan nomenklatur Pembangunan Tempat Evakuasi Sementara (TES) /Shelter Tsunami Kecamatan Pemenang KLU.

Dari proyek ini penyidik saat itu mencium aroma dugaan korupsi pada pengerjaan fisik khususnya beton pijakan yang menghubungkan lantai dasar hingga ke lantai empat. Pengamatan langsung Suara NTB saat cek fisik, ahli konstruksi mengambil 10 balok sampel dari sejumlah titik berbeda, meliputi bagian tangga, tiang, dinding, dan lantai.

Baca juga:  Kejaksaan Ajukan Audit Kasus LCC

Sejumlah pihak yang berkaitan langsung dengan proyek ini telah dimintai keterangan. Antara lain, pejabat Kementerian Pekerjaan Umum Perumahan Rakyat (PUPR), pejabat Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melalui Direktorat Jenderal Cipta Karya. Dua pihak tersebut menggawangi realisasi proyek. Pihak ketiga PT Waskita Karya dan pengawas proyek juga diklarifikasi.

Gedung empat lantai itu diproyeksikan memiliki daya tampung mencapai 3.000 jiwa. Ini sebagai tempat penampungan warga ketika terjadi bencana.

Kasus tersebut kemudian resmi dihentikan penyelidikannya akhir  tahun 2016.  Kabid Humas Polda NTB AKBP Tribudi Pangastuti waktu itu, menyebut alasan penghentian penyelidikan karena tidak cukup bukti. Penyelidik menyimpulkan, kasus tersebut tidak bisa dilanjutkan ke tahap berikutnya yaitu penyidikan. Oleh karena itu, tim yang menangani memutuskan untuk menghentikan kasus tersebut. (ars)